hit counter code


Pendidikan yang Terbaik untuk Anak

Kesehatan, | Wed 04/2015 14:59:42
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Pola pendidikan di sekolah  yang selama ini mengusung tema pendidikan karakter, masih perlu dikaji ulang. Banyak jajaran sekolah-sekolah yang saat ini hanya mengedepankan prestasi sebagai ukuran baik buruknya pendidikan di negeri ini.

Mereka berlomba-lomba untuk mencetak karya pada anak didiknya, tetapi sering lupa untuk mengajarkan pendidikan yang lebih hakiki berupa pendidikan karakter. Akibatnya, masih banyak terdengar orang yang berpendidikan tinggi masih melakukan tindakan yang tidak sesuai. Saat ini pula banyak orangtua yang sangat percaya dengan sekolah sebagai sumber belajar utama. Padahal, pendidikan yang sesungguhnya tidak sepenuhnya di sekolah, melainkan campur tangan orang tua dan lingkungan sangat berpengaruh pada mental anak.

Fakta menunjukkan bahwa anak-anak melewatkan waktu di rumah lebih dari dua kali lipat banyaknya dibanding di sekolah. Dalam sehari, anak-anak menghabiskan waktu untuk belajar di sekolah sekitar 6 jam, dan selebihnya dalam bimbingan orangtua.  Jika dikalkulasikan dalam satu tahun rata-rata anak menghabiskan waktunya di sekolah  hanya 1.008 jam.

Sedangkan anak-anak banyak menghabiskan waktunya selama 4.102 mereka habiskan di rumah. Berdasarkan data tersebut, ternyata hanya sekitar 25% saja guru dapat memantau perkembangan anak, dan selebihnya dalam bimbingan orangtua. Hal ini juga menjadi koreksi untuk para orang tua.

Selain itu kecenderungan sekolah, yang tidak sepenuhnya mengajarkan multiple intelligences (kecerdasan majemuk) pada anak menjadi tuntutan untuk orang tua. Menurut Howard Gardner, akademisi dari Universitas Harvard,  mencatat setidaknya ada 8 tipe kecerdasan yang perlu dikembangkan pada anak, yaitu: linguistik, matematis/logis, musikal, visual/spasial, kinestetik , interpersonal, dan intrapersonal, dan naturalis.

Sebagai alternatif lain untuk menghadapi permasalahan tersebut, dalam memilih sekolah yang terbaik untuk anak, menurut Yeti, seorang ahli psikologi menyatakan bahwa “Sementara orangtua lain panik dan sibuk mencari sekolah favorit untuk anaknya, karena mengira bahwa sekolah yang “baik” akan memberikan jaminan hidup yang baik bagi anaknya. Tapi darimana orangtua bisa menyimpulkan mana bekal yang baik untuk anaknya, pengalaman, pemaknaan, dan value, orangtua ikut menentukan”. Dalam hal ini sekolah yang terbaik untuk anak adalah sekolah yang mampu mengedepankan ilmu, serta pendampingan khusus antara pihak sekolah dan orangtua dalam berbagai bidang untuk saling bekerjasama dalam kecerdasan dan pengembangan kemampuan serta akhlak pada anak. (Fitri Setyo Ningrum Relawan Pendidikan – Sekolah Guru Indonesia (SGI))

 

Editor: Uyang