hit counter code


Aulia Fauziah Relawan SGI: “Kualitas Pendidikan tak dapat Dinilai dari Kelulusan UN”

Kesehatan, | Mon 04/2015 16:11:47
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Hidup bagai sebuah perjalanan, kadang berjalan mulus tak jarang harus berliku dengan banyak hambatan, begitulah motto hidup perempuan tangguh yang satu ini. Aulia Fauziah namanya, wanita asal Bogor Jawa Barat ini adalah salah seorang relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa. Sudah 5 bulan lalu ia mengabdi di SDN 11 Sungai Kakap, tempat di mana ia mengabdikan diri menjadi seorang pengajar. Wanita yang sebelumnya bekerja sebagai analis mikrobiologi ini,  dengan penuh keikhlasan merelakan karirnya dan memilih mengabdikan diri memberikan manfaat kepada masyarakat.

SDN 11 Sungai Kakap memiliki kurang lebih 200 siswa, di mana sekolah tersebut menyatu dengan SMP dan SMA di satu atap. Kualitas pendidikan di sekolah ini sendiri masih bisa dibilang minim, terutama dalam penanaman karakter dan perilaku yang baik untuk murid-muridnya.

“Seperti ada murid kelas 5 dan 6 melakukan hal-hal yang menyimpang seperti merokok di luar sekolah, suka mengerjai orang dengan kenakalannya, bahkan sampai menonton video porno dari HP,” tutur Elly Yati salah seorang guru.

Banyak faktor yang mendasari anak-anak tumbuh dalam pergaulan yang kurang baik. Hal ini diakibatkan karena kurangnya perhatian orangtua kepada anaknya, ditambah komunikasi guru dan orangtua yang kurang optimal. Melihat problematika tersebut, Aulia Fauziah menerapkan sistem sosialisasi kepada guru-guru dan orangtua murid tentang pentingnya mendidik karakter anak.

Ia juga menambahkan bahwa faktor yang ikut andil dalam mempengaruhi karakter anak yaitu pengaruh lingkungan luar. Seperti halnya yang terjadi pada Udin anak kelas 6 SD ini, dia sehari-hari mebantu orangtua menjaga dagangan yang memungkinkan bermain dengan siapa saja. Terkadang anak ini bergaul dengan orang yang lebih tua, sehingga jika tidak mendapat pondasi karakter yang kuat sangat mudah untuk diajak mengikuti hal-hal yang buruk.

Orangtua yang sibuk berladang menjadi alasan, masih banyak anak-anak Sungai Kakap minim pendidikan karakter dari mereka. Memang mayoritas banyak yang bertani, sehingga sudah biasa meninggalkan anak dirumah atau kadang main sendirian sambil menjaga adiknya.

“Namun hal ini tidak menjadi halangan untuk orangtua ikut hadir mendidik nilai moral anaknya, di tengah sedkitnya waktu bertemu dengan anaknya. Apalagi pendikkan moral ini bisa dilakukan beriringan dengan guru di sekolah, sedangkan orangtua saat anak dirumah saja,” jelas Aulia

Aulia sangat mengharapkan pendidikan tidak hanya terfokus pada hal-hal keberhasilan pengetahuan saja, atau bahkan hanya saat murid mampu lulus dari ujian nasional. Pendidikan jelas mencakup hal yang luas, selain pengetahuan, moralitas atau pendidikan karakter menjadi hal penting yang harus dicapai di setiap sekolah.

Semoga kisah di Sungai Kakap ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi buat semua kaum pendidik dan orangtua di Indonesia, agar kelak para pendidik bisa menghasilkan anak Indonesia yang berkarakter melalui pendidikan formal dan non formalnya. (riandy)

 

Editor: Uyang