hit counter code


Adi, Menanam Semangat Bangunan Baru Pasca Gempa Lombok

Kebencanaan, | Wed 03/2019 15:00:36
Dompet Dhuafa Post Image
Share

NUSA TENGGARA BARAT -- Adi Kurniawan (19), salah satu siswa kelas 12 Sekolah Pondok Pesantren (Ponpes) Tarbiyatul Islamiyah, tidak pernah mengira bahwa perjalanan pendidikannya akan mengalami guncangan peristiwa dampak Gempa Lombok yang terjadi pada bulan Juli-Agustus 2018 lalu. Dusun Gol, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, merupakan wilayah yang terkena dampak cukup parah dari peristiwa tersebut.

"Tidak jauh dari sekolah, rumah ku juga rata sudah karena gempa itu. Sekolah ini juga, padahal setahun lagi kelulusan," aku Adi. "Selain rusak, kami semua juga khawatir bangunan sekolah yang tersisa akan rubuh jika masih digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Kami  tidak semangat dan kurang ceria waktu itu," tambahnya.

Pasca peristiwa Gempa Lombok, mandat para donatur Dompet Dhuafa untuk menyampaikan dan mengelola bantuan berupa mendirikan bangunan Sekolah Darurat di Ponpes Tarbiyatul Islamiyah, yang diresmikan langsung oleh Ketua Pengurus YDDR (Yayasan Dompet Dhuafa Republika), Ismail A. Said pada Senin, 27 Agustus 2018. Berikut menurunkan sejumlah tim SGI (Sekolah Guru Indonesia) sebagai pendampingan kegiatan belajar-mengajar di Ponpes tersebut.

Sekitar tiga bulan kemudian, Sekolah Darurat tersebut diganti dengan bangunan baru yang lebih layak dan permanen. Hingga pada Senin (11/3/2019), bangunan baru Yayasan Pondok Pesantren Tarbiyatul Islamiyah diresmikan oleh Gubernur NTB, bersama Dompet Dhuafa juga berbagai pihak donatur, dan akan mulai digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Kini Tarbiyatul Islamiyah memiliki sebuah aula, rumah santri, masjid yang lebih besar, hingga bangunan kelas baru dengan desain ramah gempa dan tradisional.

"Sekarang bagus dan nyaman, kami ada di lantai atas, hehe.. Kami ingin sekali semua semangat belajar di sekolah baru ini, biar bisa jadi Presiden," ungkap Adi.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zulkieflimansyah, dalam peresmiannya, bercerita kisah lama, yakni tentang seorang yang miskin hanya memiliki satu-satunya harta yaitu seekor kuda. Kuda tersebut hilang, namun sang pemilik malah bersyukur. Ternyata kuda kembali tidak sendiri membawa kuda-kuda lain.

"Karena memiliki kuda banyak, sang pemilik dan anak sering sekali latihan berkuda. Suatu ketika si anak terjatuh dari kuda dan mengalami cedera patah kaki. Tak lama kemudian datang sekelompok tentara yang diutus sang raja untuk mencari para pemuda yang sehat dan kuat untuk ikut berperang. Ternyata itulah cara Allah SWT mengingatkan sekaligus menyelamatkan umat manusia," tambah Zulkiefli.

Menurutnya, kisah tersebut sangat relevan dengan apa yang terjadi dengan masyarakat Lombok yang tertimpa bencana Gempa Bumi pada Agustus 2018 lalu. Dan melalui kisah tersebut, Gubernur NTB juga ingin mengingatkan masyarakatnya bahwa bersyukur amatlah penting dalam setiap kondisi. Ia juga berharap masyarakat Lombok tetap harus bangkit mandiri dan tidak terlena dengan bantuan-bantuan yang didapat. (Dompet Dhuafa/Dhika Prabowo)