hit counter code


Para “Kartini Mandiri” Tumbuh Bersama Program Pemberdayaan Dompet Dhuafa (Part 1)

Kesehatan, | Mon 04/2015 14:32:27
Dompet Dhuafa Post Image
Share
Winarti Eka Lidyawati, penerima manfaat Dompet Dhuafa pada Program Institut Kemandirian (IK), bersama rekan kerjanya saat memperlihatkan hasil karyanya sebuah busana muslim perempuan. (Foto: Dompet Dhuafa)

Mewujudkan kemandirian demi kemaslahatan umat menjadi cita-cita mulia Dompet Dhuafa. Sebagai lembaga yang lahir dari masyarakat Indonesia, Dompet Dhuafa terus mengembangkan berbagai program terintegrasi dengan empat pilar utama yakni, Kesehatan, Pendidikan, Relief, dan Ekonomi. Semua program ditujukan, terutama bagi masyarakat miskin yang sangat membutuhkan.

Program pemberdayaan yang digulirkan bukanlah bersifat karitatif semata, melainkan program pemberdayaan yang mampu menjadikan kaum dhuafa tumbuh bersama membangun kemandirian mewujudkan kesejahteraan yang diharapkan.

Dalam merealisasikan program-program pemberdayaannya, Dompet Dhuafa  mencangkup berbagai kalangan. Begitu juga dengan para kaum ibu, yang dalam kesehariannya mampu menjadi tulang punggung keluarganya. Usaha dan jerih payah yang dilakukan selama ini, merupakan buah perjuangan demi mencapai kebahagiaan keluarga

Kemandirian dan semangat yang ditunjukkan para ‘ibu tangguh’ inilah yang menjadikan Dompet Dhuafa terus berupaya mewujudkan mimpi mencapai kesejahteraan hidup layak yang selama ini diharapkan. Sebagai lembaga zakat yang bergerak lebih dari 20 tahun dalam bidang kemanusiaan, Dompet Dhuafa kiranya telah memberdayakan lebih dari ratusan ribu penerima manfaat di seluruh wilayah Indonesia.

Lewat program pemberdayaan yang digulirkan Dompet Dhuafa, hampir seluruh penerima manfaat yang dibantu merasakan ekonomi kehidupannya berangsur mengalami perubahan lebih baik. Tak hanya untuk diri sendiri, kebahagiaan tersebut juga terbagi untuk orang-orang sekitarnya. Para ibu tangguh ini seolah muncul menjadi sosok “Kartini Mandiri”, yang menumbuhkan semangat pemberdayaan di lingkungan tempat tinggalnya. Berikut sekelumit kisah para ibu tangguh, yang berhasil membangun kemandirian.

Sosok “Kartini Mandiri” pertama adalah penerima manfaat Dompet Dhuafa pada Program Institut Kemandirian (IK).  Merasa prihatin dengan kondisi masyarakat di kampung halamannya yakni di Desa Keber Josari Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, membuat Winarti Eka Lidyawati, salah satu penerima manfaat dari Institut Kemandirian Dompet Dhuafa ini, membuka sebuah sentra pelatihan menjahit “Sangar Busana DD Eka”.

Dulu, perempuan yang akrab dipanggil Eka ini menuturkan, jangankan membuka usaha pelatihan menjahit, untuk mengurus keluarga dengan ekonomi yang begitu sulit, membuatnya untuk melupakan mimpi-mimpinya.

“Hampir putus asa rasanya saat itu, benar-benar ngga tau harus berbuat apa,” terangnya.

Mencari pekerjaan tak semudah yang dibayangkan Eka. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi. Sampai akhirnya pada 2003 ia berangkat ke Hongkong mengadu nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri. Baginya, menjadi tenaga kerja di luar negeri menjadi pilihan terakhir karena sulitnya mencari pekerjaan di tanah air. 

Kesulitan yang menerpa Eka masih terus berlanjut. Dua tahun pertama bekerja di Hongkong menjadi seorang pengasuh anak, sangat dirasanya tersiksa. Bagaimana tidak, ia mendapatkan majikan yang cerewet dan ringan tangan. Bukan hanya itu, tidak ada kata libur dari sang majikan bagi Eka dan waktu kerjanya juga tidak tentu.

Akhirnya, selang beberapa bulan kemudian, perempuan yang tekun dan bekerja keras tersebut akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapat majikan yang baru. Pekerjaan yang dilakukan merawat orang jompo. Ia diperlakukan secara manusiawi. Bahkan, setiap Ahad dan tanggal merah setempat ia diberikan libur. Sampai suatu ketika, ia mengenal Dompet Dhuafa Hongkong dan mengetahui informasi tentang Institut Kemandirian.

“Setiap Ahad saya sering mengikuti kajian di Dompet Dhuafa Hongkong. Dari sinilah saya mengetahui informasi pelatihan di Institut Kemandirian,” jelasnya.

Empat tahun bekerja di majikan kedua, tiba-tiba tumbuh kerinduan untuk pulang dan menetap di kampung halaman. Eka memutuskan untuk membuka usaha setelah dari luar negeri. Setelah kembali ke tanah air, ia tidak langsung pulang ke Ponorogo, Jawa Timur. Ia memilih langsung mengikuti pelatihan menjahit di Institut Kemandirian. Selama kurang lebih dua bulan Eka berlatih menjahit di sana.

“Saya bergabung di Institut Kemandirian pada 2011. Saya tidak menghadapi banyak kesulitan belajar menjahit karena dulu jurusan SMK saya juga fashion dan desain,” terangnya.

Setelah selesai mengikuti pelatihan, ia bertekad untuk mewujudkan mimpi-mimpinya  mengembangkan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki untuk memajukan kampung halamannya Ponorogo. Dukungan keluarga besar diberikan terhadap Eka, hingga akhirnya uang simpanan yang ia miliki digunakan untuk  memperbaiki kondisi keluarga dan sisanya digunakan sebagai modal berwirausaha.

Langkah awal yang dilakukan adalah membeli peralatan jahit. Ia membeli tiga mesin jahit. Bermodal mesin jahit itu ia juga menerima order pakaian dan membuka pelatihan menjahit. Dalam melatih, Eka tidak memungut biaya sama sekali.

“Setiap ada anak muda yang menganggur dan punya iktikad baik untuk berlatih, saya persilakan bergabung,” ujarnya. (uyang)