hit counter code


Cerita Ramadhan Mancanegara: Orang Myanmar Juga Terbiasa Nyirih

Dakwah, | Mon 05/2019 19:50:39
Dompet Dhuafa Post Image
Share

YANGON, MYANMAR -- Budaya nyirih ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi budaya tersebut juga masih bertahan di Myanmar. Ketika Anda jalan-jalan ke Myanmar, pasti menemukan orang-orang muda makan sirih. Bahkan di pinggiran jalan, banyak penjual sirih, berderet sepanjang jalan.

Konon nyirih memiliki banyak khasiat bagi tubuh, salah satu khasiat dari kebiasaan menyirih adalah meningkatkan kekuatan gigi. Lihat saja orangtua zaman dulu atau kakek-nenek kita yang terbiasa nyirih, giginya lebih kuat dan masih utuh, dibandingkan dengan yang tidak terbiasa nyirih. Nenek moyang kita telah mengetahui cara untuk memperkuat gigi dengan nyirih, sebelum ditemukannya pasta gigi. Jauh sebelum nenek moyang kita menemukan sirih, Rasulullah SAW telah memerintahkan, supaya gigi kita kuat, mulut kita wangi, adalah memakai siwak.

Siwak adalah dahan atau akar dari pohon Salvadora persica yang digunakan untuk membersihkan gigi, gusi dan mulut. Jika saja bersiwak ini tidak memberatkan, niscaya Nabi SAW akan mewajibkan umatnya untuk memakai siwak. Maka dari itu, Hukum memakai Siwak adalah Sunnah yang sangat dianjurkan.

Bagaimana ketika bulan Puasa? Yang benar adalah disukainya penggunaan siwak setiap saat, baik bagi yang berpuasa maupun tidak. Ada yang menyaratkan boleh bagi yang berpuasa untuk menggunakan siwak setelah tergelincirnya matahari dan sebelumnya.

Dalilnya adalah hadits Amir bin Rabi’ah yang disebutkan dalam kitab-kitab sunnah, ia mengatakan, “Aku melihat Rasulullah SAW berkali-kali menggunakan siwak ketika beliau sedang berpuasa". Ia tidak membedakan apa yang dilihatnya itu, apakah sebelum tergelincirnya matahari atau setelahnya, ia menyebutkannya secara global. Biasanya yang dilihat itu adalah setelah tergelincirnya matahari, karena shalat siang hari itu semuanya setelah tergelincirnya matahari. Sementara siwak itu sendiri sangat dianjurkan penggunaannya sebelum shalat.

Adapun orang-orang yang memakruhkan penggunaannya bagi yang sedang menjalankan puasa, mereka berdalih dengan hadits, “Jika kalian berpuasa, hendaklah kalian ber-siwak di awal hari dan janganlah kalian ber-siwak di akhir hari”. Tapi hadits tersebut lemah, jadi tidak dapat menjadi hujjah. (Dompet Dhuafa/Budy Budiawan, Dai Ambassador Penempatan Myanmar)