hit counter code


Cerita Ramadhan Mancanegara: Nuansa Ramadhan Di New Zealand

Dakwah, | Mon 05/2019 20:40:52
Dompet Dhuafa Post Image
Share

NEW ZEALAND -- Pada Senin (6/5/19), Ustadz Kopri Nurzen, Lc., MA, telah hadir di Auckland, New Zealand, atas tugas syiar sebagai Dai Ambassador Dompet Dhuafa periode 2019. Ia mengaku banyak mendapat informasi komunitas muslim di Auckland dan juga New Zealand secara umum dari Abdul Kadir. Salah satu tokoh muslim Indonesia yang menetap di negara tersebut sejak 1970an, yang ia temui sesampainya di New Zealand.

“Awal Ramadhan di New Zealand tidak sama dengan Indonesia. Meskipun waktu New Zealand lebih cepat dibandingkan Indonesia, namun awal puasa di Indonesia sesuai keputusan Menteri Agama, lebih dulu dari New Zealand. Namun cukup membanggakan, salah satu dewan pengamat hilal disini adalah WNI, yaitu Arief Syamsulaksana,” aku Ustadz Nurzen.

Di Indonesia, awal Ramadhan ditetapkan jatuh pada Senin, 6 Mei 2019. Sedangkan FIANZ, lembaga yang berwenang terkait fatwa keislaman di New Zealand, mengeluarkan edaran bahwa Senin, 6 Mei 2019, masih dalam penanggalan Hijriah yaitu 29 Sya'ban 1440.

Ramadhan tahun ini di New Zealand memiliki keistimewaan, karena waktu siangnya yang pendek dan malamnya panjang, karena jatuh pada musim semi menuju dingin. Durasi puasa hanya antara 11 sampai 12 jam tiap hari. Karenanya terdapat muslim Amerika yang datang ke New Zealand untuk menjalankan puasa Ramadhan.

“Keistimewaan lainnya bahwa setiap tarawih, Masjid-masjid dijaga oleh polisi dengan senjata laras panjang untuk memberikan kenyamanan kepada orang-orang yang shalat. Hal tersebut sebagai bentuk dukungan pemerintah NZ kepada umat Islam pasca peristiwa penembakan di Crish Church, beberapa waktu lalu,” ungkap Ustadz Nurzen.

Abdul Kadir menjelaskan kepada Ustadz Kopri Nurzen, bahwa sebagian masjid adalah substitusi dari gereja yang dibeli oleh kaum muslimin dan ada yang dibangun dari pondasi. Sebagian komunitas Indonesia saat ini juga sedang berupaya mewujudkan pembangunan masjid bernama Usman bin Affan.

“Ia (Abdul Kadir) bilang, tiga puluh tahun lalu, masjid hanya ada satu yaitu masjid Jami' Ponsonby yang berada tidak jauh dari pusat kota Auckland. Saat ini, tak kurang dari 36 masjid ada di sini. Meskipun letak masjid-masjid tersebut berada bukan di pusat pemukiman muslim, namun tetap ramai setiap shalat 5 waktu. Ada juga masjid Umar bin Khattab yang sehari-hari hanya menyediakan hidangan ta'jil saja. Shalat tarawih rata-rata 20 rakaat plus 3 rakaat witir dengan bacaan lebih kurang 1 juz per malam,” lanjut Ustadz Nurzen.

Terdapat pula masjid yang mengadakan iftar setiap hari. Masjid One Hunga di Church Street (Jalan Gereja) yang menyajikan ta'jil dan makan berat bagi para shaa-imin. Masjid Abu Bakar di kawasan Pakuranga yang juga menyajikan hal yang sama. Pada Sabtu (11/5/2019) lalu, banyak donatur adalah WNI dan WN Singapura yang memberikan hidangan rendang, serta kari ayam untuk jamaah yang multi etnis.

“Umat Islam di sini terdiri dari berbagai macam etnis dan negara asal, namun diikat dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang kuat. Ada yang berasal dari Fiji, India, Pakistan, Bangladesh, Timur Tengah, Asia Tenggara, China, Eropa, Afrika dan sebagainya. Semua menyatu dalam shaf-shaf shalat tarawih dan shalat fardhu yang lima waktu. Ada juga dari suku Mauri, suku asli New Zealand seperti Sonny Bill Williams, pemain rugby dan petinju yang terkenal,” tutup Ustadz Nurzen. (Dompet Dhuafa/Ustad Kopri Nurzen, Dai Ambassador Penempatan New Zealand/Dhika Prabowo)