hit counter code


Kondisi Dunia Wakaf Saat Ini: Peluang dan Tantangan

Wakaf, | Wed 05/2019 16:13:30
Dompet Dhuafa Post Image
Share

JAKARTA -- Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan potensi agraris tinggi. Namun potensi tersebut masih kurang tergali hingga sekarang. Jika saja potensi tersebut dioptimalkan, maka akan mampu mengurangi kemiskinan yang dialami masyarakat Indonesia. Mengingat potensi wakaf Indonesia mencapai Rp. 180 Triliun. Masalahnya, 73% wakaf itu untuk sarana pendidikan (sekitar 13,3 %), dan sisanya untuk tujuan sosial (makam dan sosial lainnya). Apabila harta wakaf tersebut dikembangkan secara produktif, potensinya sangat besar, yaitu sekitar 19,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sehubung dengan itu, Dompet Dhuafa mengadakan bedah buku “Wakaf Pertanian: Model Pengembangan Komoditas Nanas, Padi, dan Sawit” di Bakso Boedjangan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Turut mengundang M.Sabeth Abilawa, ME (Peneliti – Dompet Dhuafa University), Tendy Satrio (Praktisi Wakaf Pertanian), Bobby P.Manullang (GM Wakaf Mobilization Dompet Dhuafa), Fahrurozi (Wakil Sekertaris Badan Wakaf Indonesia).

“Hari ini kondisi wakaf di Indonesia masih mengalami tiga mindset besar yang tidak konstruktif. Pertama wakaf itu masih diidentikkan sebagai donasi tersier. Hanya dikerjakan oleh kalangan “the have”. Jadi masyarakat mindsetnya ketika mereka masih merasa belum kaya, belum punya tanah lebar, belum punya uang ratusan juta, mereka cenderung belum merasa wajib melakukan wakaf. Kedua, wakaf itu masih diidentikan oleh masyarakat dengan ditunaikan dalam bilangan-bilangan besar. Ketiga, masyarakat merasa wakaf masih tidak perlu disegerakan,” jelas Bobby P. Manullang.

Melihat kondisi dunia perwakafan sebagaimana yang diungkapkan oleh Bobby, Dompet Dhuafa terus-menerus tidak hentinya memberikan penyuluhan ke masyarakat tentang potensi wakaf yang juga tidak kalah penting dengan menunaikan zakat atau sedekah.

“Dompet Dhuafa memiliki program Gerakan Sejuta Wakif. Tujuan program tersebut ingin membentuk wakif yang istiqomah dalam berawakaf dengan target yang tidak harus besar. Semisal sebulan Rp. 10.000,” ujar Bobby.

Jika satu orang dalam sebulannya berwakaf sebesar Rp. 10.000,- lalu bayangkan kalau semisal ada 100 orang atau satu juta. Insyaa Allah kemiskinan di Indonesia dapat teratasi melalui program-program yang terwujud dari penghimpunan dana wakaf tersebut. Terlebih di era millenial yang sekarang ini identik dengan produktifitas dan kemampuan untuk memviralkan dengan cepat. Sehingga penghimpunan wakaf akan optimal dengan sempurna.

“Sekarang umur 25 – 35 tahun sebanyak 48 % telah menjadi donatur wakaf. Mereka sangat produktif, viral dan masih bisa dimaintain 30 tahun ke depan. Berbeda misalnya dengan umur-umur 55 tahun ke atas, semakin ke sini justru semakin sedikit berwakafnya,” tutup Bobby. (Dompet Dhuafa/Fajar)