hit counter code


Menjawab Kekeringan Dengan Bagi Air Gratis: Antara Kebersihan dan Kesehatan

Lingkungan, | Tue 07/2019 21:08:18
Dompet Dhuafa Post Image
Share

GUNUNG KIDUL -- Musim kemarau sudah menjamah wilayah Indonesia. Sudah banyak yang terkena dampaknya, dari mulai lingkungan hingga ke masyarakatnya. Banyak sumur atau sumber air mulai kering, tanah sawah pun sama. Untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi juga sulit. Belum lagi tekstur tanah atau topografi yang tidak mendukung, seperti misalnya wilayah perbukitan dengan struktur batuan karst atau batuan gamping. Sifat batuan tersebut tidak dapat menahan air di permukaan. Sehingga pada musim kemarau, air tanah akan menurun dengan drastis.

Demi menjawab kesulitan tersebut Dompet Dhuafa cabang Yogyakarta melakukan aksi bagi-bagi air gratis sebanyak tiga tangki. Dengan mengusung tema “Air untuk Kehidupan” di desa Karang Tengah, Wonosari, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis (4/7/2019).

"Ini adalah sesi kedua di musim kemarau tahun ini. Setelah sebelumnya dilakukan di Gedangsari. Dompet Dhuafa Jogja akan terus menggalang dana masyarakat agar dapat membantu lebih banyak masyarakat yang terdampak kekeringan. BPBD DIY memperkirakan puncak musim kemarau tahun ini akan terjadi di bulan Agustus," jelas Bambang Edi Prasetyo, selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta.

Hasil survey tim respons Dompet Dhuafa Yogyakarta sendiri menunjukkan, kekeringan sudah terjadi lebih dari empat bulan. Sehingga warga kesulitan mendapatkan air untuk kelangsungan hidup mereka.

“Kegiatan ini sudah sering. Kami melakukan dropping air di penampungan (sarana) umum. Walaupun ada juga warga yang datang membawa jerigen/tempat penampungan pribadi. Mengingat mereka memang butuh banget air bersih,” ujar Intan, selaku Markom Dompet Dhuafa Yogyakarta.

Tidak sampai situ, rencana kedepannya akan digencarkan juga kampanye peduli lingkungan dengan aksi bersih-bersih di daerah perairan. Jika sumber air sendiri sudah tercemar. Itu menjadi beban ganda. Pertama warga menjadi kesulitan untuk menggunakan air. Kedua menjadi sarang penyakit. Dengan demikian penting juga edukasi tentang peduli lingkungan.

“Rencana kedepan, nanti akan juga ada kampanye untuk mengurangi sampah pantai. Kegiatan tersebut untuk mengurangi limbah yang bisa membawa penyakit. Sekaligus juga jadi semacam edukasi peduli lingkungan,” tutup Intan. (Dompet Dhuafa/Fajar)