hit counter code


Jelajah Kurban Nusantara: Daging Kurban Pertama Setelah Gempa Palu (Bagian Dua)

Kurban, | Wed 08/2019 20:11:02
Dompet Dhuafa Post Image
Share

SIGI -- Hanya sekitar 30 menit perjalanan darat, tim Tebar Hewan Kuban (THK) Palu akhirnya sampai di klaster hunian terpadu Sigi Biromaru. Sebuah komplek shelter yang dihuni tidak kurang dari 147 keluarga penyintas. Dulunya, komplek tersebut dihuni oleh ribuan pengungsi gempa dari berbagai wilayah di Kabupaten Sigi. Hampir setahun pasca gempa, beberapa diantara mereka memutuskan untuk berpindah ke hunian lain, seperti rumah saudara hingga merantau ke pulau lain. Namun, masih banyak di antara mereka yang menetap di komplek tersebut, kembali menata kehidupannya dari nol. Salah satunya ialah Sukinem (43).

“Saya masih bisa lihat sisa rumah saya, ada juga pohonnya disampingnya. Hanya saja sudah tidak ada di posisi semula, entah sudah bergeser berapa jauhnya,” terang Sukinem, sambil menggendong anaknya yang masih berumur satu setengah tahun.

Kehadiran tim THK dengan membawa daging kurban disambut meriah oleh warga klaster hunian terpadu Sigi Biromaru. Sebanyak 147 paket kurban berhasil mengembangkan senyum mereka. Hampir-hampir warga tidak pernah makan daging setelah gempa. Sederhana, karena harga daging mahal dan makanan yang terbuat dari daging pun juga begitu. Sedangkan, warga masih dalam tahap merintis kembali kehidupannya.

“Kalau laki-laki banyak yang mencari ladang untuk ditanam apa yang bisa ditanam. Kami ibu-ibu ada yang usaha jualan kecil-kecilan seperti ini,” lanjut Sukinem, sambil menunjukan teras Rumah Sementara (Rumtara) miliknya, yang dijadikan warung kelontong sederhana.

Tahun ini, Hari raya Idhuladha tidak seperti tahun sebelumnya. Tidak ada silaturahmi dengan keluarga besar, juga tidak ada burasa (ketupat khas Palu yang dibuat saat hari raya). Namun, dengan hadirnya paket kurban dari Dompet Dhuafa, Sukinem mengaku bahagia, setidaknya ia bisa mencicip daging di hari raya tahun ini. Begitu pula dengan ratusan keluarga lainnya di Klaster Hunian Terpadu Sigi Biromaru.

“Senang sekali kita, insyaa Allah akan kita masak apa saja, kalau ada tulang, kita ingin bikin Kaledo (makanan khas Palu),” aku perempuan kelahiran Solo, yang merantau ke Palu 13 tahun lalu.

Sejumlah 147 paket kurban masih terasa kurang bagi kami. Namun masih ada ratusan keluarga lain yang menunggu pendistribusian daging kurban. Mentari nyaris redup, kami pun harus berpamitan. Lambaian dan senyum warga menjadi salam pemisah. Kebahagiaan hari raya terlihat benar-benar dirasakan warga penyintas. Rasa lelah meyiapkan daging kurban dari pagi sepertinya terbayar lunas sore itu. (Dompet Dhuafa/Zul)