hit counter code


Atasi Kekeringan, Dompet Dhuafa Gencarkan Program Air untuk Kehidupan

Lingkungan, | Mon 08/2019 20:58:18
Dompet Dhuafa Post Image
Share

PASURUAN -- Kekeringan melanda sejumlah wilayah Indonesia. Hingga membuat masyarakat kesulitan untuk mengakses air bersih. Namun melalui program “Air untuk Kehidupan,” Dompet Dhuafa Jawa Timur bermaksud membantu masyarakat yang mengalami kekeringan dengan memberikan air gratis. Kegiatan tersebut sudah di mulai sejak 25 Juni 2019 yang diawali di dua desa di Kabupaten Ponorogo dan sekarang menjamah daerah Pasuruhan.

“Sementara ini untuk kebutuhan air bersih dikonsumsi sangat kurang. Apalagi dalam seminggu hanya sekali dropping air bersih dari BPBD. Selebihnya penjual air yang mungkin hanya orang mampu yang bisa beli. Mayoritas penduduk di Kabupaten Pasuruhan yang terdampak termasuk keluarga yang kurang mampu dan tinggal di dataran tinggi,” ujar Jhon, selaku tim Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) Jawa Timur, pada Selasa (20/8/2019) lalu.

BPBD Kabupaten Pasuruhan mencatat sebanyak 13 desa di tiga kecamatan yang mengalami krisis air, antara lain: Kec. Lumbang; Ds. Karang Jati, Ds. Cukur Guling, Ds. Karang Asem, Ds. Watu Lumbung dan Ds. Lumbang. Sedangkan di Kec. Winongan: Ds. Jelandri, Kedung Rejo dan Ds.Sumberrejo. Lalu yang terakhir di Kec. Paserpan: Ds. Sibn, Ds. Petung, Ds. Klakah, Ds. Manggunan dan Ds. Ngantungan.

Berdasarkan data terakhir himpunan tim Dompet Dhuafa Jawa Timur, sudah mendistribusikan air gratis ke lokasi Kabupaten Pacitan (Ds. Ledok, Ds. Lembu, Ds. Krajan, Ds. Ledok Etan, Ds. Ledok Kulon, Ds. Tlogorejo), kemudian Kabupaten Ponorogo (Ds. Tugurejo, Ds. Duri) dan Kabupaten Pasuruan (Ds. Karang Jati, Ds. Sumberejo, Ds. Jelandri, Ds. Cukurguling).

“Sebenarnya untuk kegiatan dropping air yang dilakukan pemerintah daerah atau provinsi bisa dikatakan masih jauh dari kata tercukupi. Karena untuk Ds. Karang Jati sendiri, dalam memenuhi kebutuhan masak dan minum belum cukup. Lantaran pengiriman air hanya seminggu sekali dan habis dikonsumsi dalam tiga hari saja. Bila persediaan habis, kita harus beli Rp. 150.000 per tangki dan itupun rebutan,” ujar Warso, warga Ds. Karang Jati kepada tim Dompet Dhuafa Jawa Timur.

Beberapa wilayah memang sulit untuk mencari titik sumber air. Mereka biasanya memiliki tempat penampungan air sendiri ataupun penampungan publik yang dimanfaatkan bersama seluruh warga.

“Di Karang Jati sendiri, termasuk daerah yang tidak bisa dibuat sumur. Jadi, di musim hujan warga memanfaatkan toren untuk wadah air hujan. Di lokasi tersebut, mereka menarik pipa dari toren untuk disalurkan ke desa. Karena di titik toren tersebut yang ada sumber mata airnya. Namun sekarang torennya kering,” lanjut Jhon.

Rencanya kegiatan “Air untuk Kehidupan” akan terus digencarkan hingga akhir musim kemarau yang diperkirakan hingga November mendatang. (Dompet Dhuafa/Fajar)