hit counter code


Kekeringan Di Gunung Kidul, Warga Jual Ternak Demi Beli Air

Lingkungan, | Mon 09/2019 20:57:28
Dompet Dhuafa Post Image
Share

GUNUNG KIDUL -- Kemarau berkepanjangan membuat orang-orang kesulitan untuk memperoleh air bersih. Banyak di antaranya yang mencari alternatif dengan membeli air dari pedagang air. Bagi yang mampu, persoalan membeli air bukanlah perkara sulit. Namun, naasnya tidak semua orang memiliki akses dan sumber daya yang cukup untuk memperoleh air.

Sehubung dengan itu, Dompet Dhuafa melalui kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, membagikan air secara gratis dalam progam Air untuk Kehidupan. Program tersebut ditujukan untuk penduduk di wilayah yang kekeringan. Salah satunya di wilayah kerja Dompet Dhuafa cabang Yogyakarta.

Dompet Dhuafa cabang Yogyakarta telah mendistribusikan air di dua titik di Desa Giri, Purwosari Gunung Kidul. Dengan membawa dua tangki untuk satu titik wilayah kekeringan. Masing-masing tangki memiliki kapasitas 6.000 liter. Sehingga hari ini, pada Senin (2/9/2019), telah mendistribusikan air sebanyak 24.000 liter.

“Pendistribusian telah dimulai dari Juni, Mas. Ini jatuhnya sudah masuk ke gelombang ketiga,” ujar Bambang Edi Prasetyo, selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta.

Kondisi di sekitar titik pendistribusian cukup memperihatikan. Banyak penampungan sudah kering. Waduk juga sudah kering. Sehingga kebutuhan sehari-hari dan juga aktivitas masyarakat menjadi terganggu.

“Kalau di lapangan alhamdulillah lancar semua pendistribusian. Hanya saja ada beberapa kendala, kebutuhan warga ternyata lebih banyak dari perkiraan. Jadinya masih membutuhkan armada tambahan,” jelas Badar, selaku relawan Dompet Dhuafa Yogyakarta.

Besarnya kebutuhan warga akan air hingga mendorong beberapa warga untuk merelakan hartanya demi membeli air. Salah satunya ialah menjual hewan-hewan peliharaan atau ternak.

“Satu tangki ada yang menjualnya dengan harga Rp.170.000 sampai Rp.450.000. Ragamnya harga diakibatkan sulitnya jalur yang ditempuh. Jadi semakin rusak atau sulit jalannya, maka semakin mahal pula air yang diperjual-belikan,” tambah Badar.

Di hari sebelumnya, Minggu (1/9/2019), pembagian air bersih juga sudah menjamah tiga titik di Desa Tepus, Gunung Kidul. Dengan satu titik mendistribusika air sebanyak 10.000 liter.

“Perkiraan BMKG hujan kemungkinan akan jatuh di bulan Desember. Jadi kita terus mendistribusikan air sampai dua atau tiga gelombang lagi,” tutup Bambang. (Dompet Dhuafa/Fajar)