hit counter code


“Pertahankan Warisan Budaya, Menuju Ketahanan Pangan”

Kesehatan, | Thu 05/2015 14:45:45
Dompet Dhuafa Post Image
Share

SUKABUMI- Dibalik hawa yang sejuk, tebalnya kabut pegunungan, nampak sebuah Desa Adat yang berlatarkan pemandangan indah.Hamparan sawah luas membentang menjadi panorama alam yang menyejukkan mata, bagi siapa saja mengunjungi wilayah yang dikenal masih menjaga keluhuran adat istiadat ini.

Kasepuhan Sinar Resmi, demikianlah nama Desa yang tepat berada dibalik bukit ini. Kasepuhan yang dihuni sekitar 630 KK ini, sebagian besar berprofesisebagai petani. Senyum dan sapaan hangat yang tersirat, bukan hanya menjadi ciri khas, melainkan kebiasaan hidup sehari-hari yang selalu diterapkan warganya.

“Kami menjaga kekhasan lokal sebagai komunitas desa adat yang Kami sebut Kasepuhan.  Keberadaan Kasepuhan sebagai desa adat tidak terlepas dari akar sejarah yang panjang. Lebih dari 10 generasi Kami pertahankan,” ujar Abah Asep Nugraha, Ketua Adat Kasepuhan Sinar Resmi.

Kasepuhan Sinar Resmi sejatinya merupakan bagian dari Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dibutuhkan waktu 7 jam dari Jakarta dengan asumsi normal. Dompet Dhuafa bukan satu-satunya pihak yang memutuskan untuk menyambangi Kasepuhan ini, bahkan beberapa peneliti hingga wartawan dari Belanda, Italia, Jepang maupun Korea pernah bertandang menemui Abah Asep.

Apakah pasalnya? Di Kasepuhan ini tradisi menjaga benih lokal yang unggul telah ditunjukkan hampir 5 abad secara turun temurun. Terdapat 60 benih padi lokal masih dipertahankan kelestariannya dan menjadi sumber pangan warganya selama ini. Tidak pernah selama periode berabad tersebut, warga Kasepuhan kekurangan pangan dan selama masa itu pula benih lokal ini dijaga kemurniaan benihnya secara sukarela oleh setiap warganya.

Bila panen tiba, warga Kasepuhan dengan sadar ‘menyetor’ hasil panen ke leuit Kasepuhan (lumbung desa), dan bila ada warga yang gagal panen, melalui leuit ini pula kebutuhan konsumsi dipenuhi dengan mudah. Tidak heran bila Dompet Dhuafa merasa perlu melakukan pendampingan untuk menjaga kelestarian dan kemurnian warisan yang dihasilkan masyarakat Indonesia dengan mengusung gagasan lumbung benih yang kami sebut ‘Leuit Benih’.

Leuit Benih menjadi penting sebagai fokus perhatian seluruh lapisan masyarakat agar anak bangsa esok lusa mandiri di bidang pangan, tidak terjajah dan merasa asing dengan pangan lokal. Sebagai bank benih, Dompet Dhuafa mendampingi masyarakat kasepuhan melakukan pendataan 60 benih lokal, hingga membantu membukakan lahan khusus untuk benih. Sebenarnya terdapat 130-an benih lokal yang dianggap unggul di Kasepuhan ini pada tahun 1980, namun pelestarian benih lokal unggul ini tidak bisa diserahkan begitu saja kepada masyarakat.

“Kami senang Dompet Dhuafa datang jauh-jauh dari Jakarta memberi perhatian kepada aksi pelestarian pangan sumber penghidupan warga Kasepuhan. Meski banyak tawaran yang datang silih berganti, hanya karena ada kepentingan yang bertentangan dengan hukum adat, terpaksa kami tolak,” imbuh Abah Asep.

Berdasarkan peraturan adat, sistem pertanian Kasepuhan Sinar Resmi, benih dan padi pertanian yang dihasilkan hanya untuk konsumsi sendiri. Adat tak memperbolehkan warga Kasepuhan Sinar Resmi membawanya keluar untuk diperjualbelikan atau ditanam di lokasi lain. Hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian benih lokal dan potensi penyalahgunaan yang pernah terjadi di masa-masa sebelumnya.

Sejatinya, Kasepuhan Sinar Resmi Sukabumi dapat menjadi contoh tentang komitmen terhadap penjagaan benih lokal dan sistem pertanian secara umum. Namun pergeseran zaman yang semakin terbuka, potensi hilangnya varietas lokal juga terbuka. Oleh karenanya untuk mendorong upaya Desa Tahan Pangan menjadi Gerakan Desa Berdaulat Pangan, memantik Dompet Dhuafa meluncurkan Leuit Benih sebagai program bank benih lokal dimulai di Kasepuhan ini.

“Kami sadar benih lokal Kasepuhan menjadi kontribusi kepada warisan dunia lainnya, namun izinkan kami mengemudikan bagaimana warisan leluhur ini Kami kelola untuk kepentingan yang lebih panjang,” tegas Abah Asep.

Kasepuhan Sinar Resmi bersama Pertanian Sehat Indonesia (PSI) Dompet Dhuafa merencanakan menjadikan Kasepuhan Sinar Resmi sebagai destinasi wisata budaya.

“Kasepuhan Sinar Resmi memang layak untuk dijadikan tujuan wisata budaya karena masyarakat yang ramah, masih terjaga adat dan budaya serta pengetahuan akan padi-padi lokal yang teryata memiliki keunggulan ketimbang padi-padi import dari luar negeri,” Septian Purnama, Pendamping PSI Dompet Dhuafa untuk Kasepuhan Sinar Resmi.

Sudah 10 bulan Septian Purnama, namun penduduk lokal lebih menyebut Purnama, ia sosok pendamping yang memang sengaja ditempatkan oleh Dompet Dhuafa melalui program Pertanian Sehat Indonesia untuk membantu Abah Asep, dalam rangka memelihara jenis-jenis padi lokal yang mulai langka.

Saat ini dari jenis-jenis padi dari 60 jenis yang dicari, sudah ditemukan 38 jenis padi lokal. Bantuan oleh Dompet Dhuafa tidak hanya pada pendampingan tapi juga berupa pemberian lahan 7200 m, pembangunan Leuit Padi, serta bantuan pembangunan irigasi di sekitar Kasepuhan Sinar Resmi. (BN8)

 

Editor: Uyang