hit counter code


Peran Perempuan Dorong Budidaya Tanaman Lokal: Kisah Berdirinya KWT Pantastik

Ekonomi, | Fri 11/2019 18:38:06
Dompet Dhuafa Post Image
Share

SUMEDANG -- Nanang Suryana, warga asal Desa Sukajadi, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tengah sibuk menunjukan seluk-beluk kediamannya yang merupakan Koperasi Warga Tani (KWT) Pantastik. Namun di sana tidak hanya ada Nanang beserta istrinya yang bernama Anisah. Terdapat juga beberapa ibu yang tengah mengemas dan mengisi kotak-kotak dengan produk olahan. Baru diketahui produk-produk olahan tersebut merupakan hasil olahan dari tanaman hanjeli.

“Awalnya bukan bernama Koperasi Warga Tani. Melainkan Koperasi Wanita Tani,” ujar Nanang, di sela kesibukannya menjelaskan produk hanjeli.

KWT Pantastik atau yang dahulu dikenal Koperasi Wanita Tani memang digagas oleh perempuan-perempuan Desa Sukajadi. Menurutnya, Anisah yang juga istri Nanang dan ketua KWT Pantastik sekarang, merupakan perempuan tonggak perubahan.

“Berdiri di 2015. Lalu berganti namanya menjadi sekarang ini di 2018. Karena banyak yang ingin gabung khususnya petani lelaki,” jelas Anisah.

Keputusan untuk mengembangkan hanjeli juga tidak lepas dari pengalaman Anisah yang dulu berprofesi sebagai guru PAUD. Ketika itu, ia mencoba mengenalkan ke muridnya tentang pangan lokal. Salah satunya dengan membuat getuk dan bubur.

“Selain punya nilai ekonomi. Waktu itu memang ada program tentang makanan tambahan. Kemudian Nisa kepikiran gimana kalau kita membuat makanan tambahan. Namun bukan makanan yang langsung jadi. Kita coba kenalkan ke anak-anak tentang pangan lokal, hasil olahan hanjeli. Setelah dicoba ternyata rasanya enak,” tambah Anisah.

Anggota termuda dari KWT Pantastik merupakan perempuan berusia 17 tahun. Anisah dan Nanang tidak membatasi siapapun yang ingin bergabung.

“Si Maya yang paling muda. Ia khusus di bagian pengolahan. Belum di bagian budidaya. Ini juga sebagai bentuk semangat. Bahwa jika yang muda bisa. Kenapa yang dewasa tidak?” tutup Anisah.

Sekarang produk hanjeli menjadi lebih beragam. Ada beras, tepung kue, kerupuk, sereal, teng-teng dan bubur. Selain itu juga merambah ke kerajinan tangan seperti kaligrafi ukir ayat suci atau kalung-kalung. (Dompet Dhuafa/Fajar)