hit counter code


Kisah Sutarya dan Eneh: Perbedaan Bertani Hanjeli Dulu dan Sekarang

Ekonomi, | Mon 11/2019 16:55:04
Dompet Dhuafa Post Image
Share

SUMEDANG -- “Kami masih menggunakan cara konvensional. Setahu saya, belum ada inovasi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman Hanjeli,” aku Anisah.

Tanaman Hanjeli memang membutuhkan waktu lama untuk tumbuh. Setidaknya membutuhkan kurang lebih enam bulan untuk bisa dipanen. Hal senada juga dituturkan oleh sepasang suami istri Sutarya (75) dan Eneh (66) dari Desa Sukajadi, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Mereka merupakan “sesepuh” dalam urusan bertani. Terutama bertani Hanjeli. Pertama kali mereka bertani Hanjeli ketika sudah menjadi sepasang suami istri. Kondisinya juga jauh jika membandingkannya dengan sekarang.

“Yah cep, Ibu teh bertani sudah dari dulu. Setelah bapak dan ibu menikah di usia 17 tahun,” tambah Eneh, yang terlihat ragu ketika menyebutkan usia pertama kali bertani.

Dahulu menanam Hanjeli tidak sepesat sekarang. Namun berkat inisiasi Koperasi Warga Tani (KWT) Pantastik, pertumbuhan Hanjeli menjadi pesat.

“Dulu itu nggak laku. Paling buat makan doang. Jadi nasi atau getuk. Kualitas juga kurang. Soalnya salah cara menanamnya. Seharusnya dalam enam bulan dikasih dua kali pemupukan saja. Cuma waktu itu kita pakainya sampai tiga kali pemupukan,” jelas Sutarya.

Selain itu, dengan kondisi di Dusun Cikawung masih ada beberapa warga yang kesulitan akses air. Masih menggantungkan air hujan untuk menyuburkan tanaman Hanjeli. Sehingga mereka akan memulai bertanam Hanjeli ketika sudah memasuki musim hujan.

“Ya kita nunggu hujan baru bisa tanam. Kalau sudah tanam tapi nggak hujan? Ya dibiarin saja. Soalnya tanaman itu kuat tanpa air juga. Walaupun dari segi kualitas tetap beda sama yang rajin disiram,” lanjut Sutarya.

Terlepas dari itu, menurut mereka dengan adanya KWT Pantastik, mampu membantu mereka dalam menanam Hanjeli maupun distribusi dan pemasaran produknya.

“Sekarang mah produknya lebih banyak ketimbang dulu. Di pasar juga lebih laku. Kita dikasih bibit, dikasih pupuk. Banyak deh manfaatnya,” jelas Eneh.

Eneh juga mengungkapkan, ”Ya semoga kita tambah semangat bertani. Semoga koperasi juga maju. Walaupun ada satu masalah: kadang banyak ayam yang suka makan Hanjeli. Jadinya rusak deh”. (Dompet Dhuafa/Fajar)