hit counter code


Fungsikan Masjid Cordofa Sebagai Tempat Budaya

Pendidikan, Nasional, | Thu 12/2019 22:24:58
Dompet Dhuafa Post Image
Share

 JAKARTA — Berdiri di atas lahan 368 meter persegi di kawasan Gedung Filantrofi, Pejaten, dibangun sebuah bangunan berbahan kayu, ramah lingkungan dan tahan gempa, yaitu “Masjid Panggung Cordofa”. Dibangunnya Masjid tersebut guna diproyeksikan menjadi sarana ibadah bagi para amil Dompet Dhuafa.

Selain menjadi fungsi tempat peribadatan, Masjid Panggung Cordofa juga memiliki fungsi sebagai Center of Excellence. Bukan hanya pembinaan dan peningkatan spiritual, namun juga penambahan wawasan khazanah keislaman, kebudayaan, maupun sastra. Demikian seperti yang diungkapkan oleh Inisiator sekaligus Pembina Dompet Dhuafa, Parni Hadi, saat meresmikan Masjid Panggung Cordofa (8/11/2019).

Masjid Panggung Cordofa mulai berjalan sebagai fungsi keduanya pada Kamis (26/12/2019) ditandai dengan mulainya diskusi budaya “Perempuan & Sastra”. Diskusi tersebut berisikan tentang kontribusi serta peran perempuan dalam sastra dan perkembangannya. Dengan menghadirkan sastrawan-sastrawan wanita, di antaranya Fatin Hamama R. Syam dan DR. Sastri Sunarti, serta musikus puisi Jodhi Yudo, diskusi dibuka secara umum untuk seluruh amil Dompet Dhuafa dan masyarakat umum.

“Bulan lalu Masjid Cordofa ini diresmikan. Saya mengharap nantinya masjid ini dijadikan sebagai tempat yang multifungsi. Ada diskusi-diskusi di dalamnya. Salah satunya adalah diskusi tentang perempuan dan sastra. Dan alhamdulillah hari ini terlaksana”, ucap Parni.

Parni melanjutkan, islam sangat erat kaitannya dengan islam. Tokoh-tokoh muslim terkemuka merupakan sastrawan-sastrawan hebat pada masanya, bahkan hingga sekarang.

“Semua tokoh-tokoh, ulama-ulama muslim kita itu sastrawan semua. Bahkan kitab suci kita Al-Qur’an itu merupakan sastra yang tinggi sekali di luar akal manusia. Dompet Dhuafa sebagai lembaga yang berlandasan islam jika tidak memerhatikan tentang sastra, saya rasa itu salah” lanjutnya.

Dalam diskusi, Sastri Sunarti memaparkan, sejak dulu hingga sekarang pengarang perempuan Indonesia selalu berupaya menyuarakan hak-hak perempuan sesuai dengan konteks zaman dan sosial budaya. Ia kemudian melanjutkan pemaparannya dengan menunjukkan biografi tokoh-tokoh sastrawan perempuan Indonesia.

“Pada generasi ketiga, para penulis perempuan lebih tajam lagi menyoroti kebebasan terhadap isu feminisme kultural yang sering disebut dengan kesetaraan gender yang cenderung mengacu ke barat”, demikian cuplikan pemaparan Sunarti.

Pada sesi penutupan Parni mengatakan, di tahun 2020 depan akan dibentuk sebuah komunitas gerakan menulis yang beranggotakan insan-insan Dompet Dhuafa. Parni berharap Masjid Panggung Cordofa dapat menjadi tempat budaya dan sastra.

“Nanti setelah tahun baru 2020, silakan mengikuti Gerakan Menulis. Silakan menulis apa pun. Prosa, puisi, atau apa pun itu. Kita jadikan Masjid Cordofa Dompet Dhuafa sebagai tempat budaya dan sastra. Setelah forum diskusi Perempuan dan Sastra ini, nanti juga ada gilirannya untuk para laki-laki, “Laki-laki dan Puisi””, tutupnya. (Dompet Dhuafa/Muthohar)