Beruntunglah kamu yang memiliki kemudahan untuk akses layanan Kesehatan. Harus bersyukur sih, kalau tidak, ya, kebangetan. Kamu masih bisa merasakan bagaimana berobat tanpa mikir biaya yang akan dikeluarkan. Terus, jarak dari rumahmu ke rumah sakit atau klinik kesehatan juga dekat dan mudah.
Hal sebaliknya ini dialami oleh seorang wanita paruh baya asal Banjarnegara, Jawa Tengah, sekeluarga. Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja saat berkunjung ke Shelter Sehati Rumah Singgah di Nogosaren Kidul No. 198 B, Nogotirto, Kec. Gamping, Kab. Sleman, DI Yogyakarta, pada 20 Januari 2024. Saat itu, ia tengah menjalani pengobatan kanker serviks di RS Sardjito yang telah terdiagnosis setahun sebelumnya.
“Asli daleme pundi, Bu?” tanyaku sesaat setelah basa-basi.
“Banjarnegara, ‘Nak!” jawabnya.
Sebenarnya dia menyebutkan rumah tinggalnya lengkap sih, sampai ke nama desanya, bahkan nama tokoh masyarakat di sana. Dia tipikal emak-emak yang gemar nyerocos sepertinya. Tapi di sini aku nggak mau nyebutin lengkap, cuma sampai di nama kabupatennya saja, karena alasan kerentanan dan keamanan narasumber. Nama ibunya pun, maaf, kalau nggak aku sebut. Tentu alasannya juga sama: kerentanan dan keamanan. Nanti di bawah juga akan ada foto salah satu anaknya, tapi aku buat blur, ya.
Baca juga: Dompet Dhuafa Ajak Pejuang Sehat Shelter Sehati Trip ke Seaworld

Selama tinggal di rumah singgah pasien di Yogya, ibu itu ditemani oleh seorang anaknya yang laki-laki. Dia punya tiga anak sebenarnya, tapi mereka bergantian jaga. Karena kan masing-masing juga punya pekerjaan dan keluarga juga yang tetap harus dinafkahi.
Jadi, ibu itu sudah berada di rumah singgah sudah sejak akhir Desember 2023. Mungkin sudah sekitar 3-4 mingguan, ya, berarti. Nah, setiap sepekan, anaknya bergantian nemenin si ibu.
Sebenarnya si ibu dan anak-anaknya itu sudah beberapa kali bolak-balik Banjar-Yogya-Banjar. Pokoknya tergantung jadwal tindakan dan hasil kontrolnya keluar. Kalau sekiranya masih lama, ya, lebih baik pulang dulu ke Banjar. Kalo jarak waktunya cuma beberapa hari, mereka memilih untuk numpang di rumah-rumah singgah. Kebetulan saat itu mereka tinggalnya di Shelter Sehati Rumah Singgah milik Dompet Dhuafa Yogyakarta.
“Biasanya kalau waktu berobat gini, tinggalnya di rumah singgah pasien dekat RS Sardjito. Kebetulan di sana penuh. Kami cari alternatif dari driver ambulans di rumah singgah itu, (kemudian) diarahkan ke Dompet Dhuafa. Selama di sini ya adem, sejuk. Kata ibu juga nyaman di sini,” jelas si anak.
Baca juga: Perjuangkan Kesembuhan Buah Hati, Ramadan Ibu Ika Bahagia di Shelter Sehati

Ia juga menceritakan bahwa mulanya sang ibu dirujuk di RSUD Banjarnegara. Kemudian dirujuk lagi di RSUD Margono Purwokerto. Kebetulan di sana ada dokter residen yang juga adalah dokter di RS Sardjito. Setelah itu, ia dirujuk dan diobservasi di RS Sardjito, hingga terus menjalani pengobatan di sana.
Di samping rasa syukur yang terus terucap di bibir keluarga ini, ya, pasti ada hal di dalam benak hati yang ingin dikeluhkan. Namanya juga manusia.
Benar sih, ibu itu peserta BPJS, jadi pengobatannya gratis. Tapi kan itu cuma pengobatannya. Sedangkan biaya transportasinya, biaya makan sehari-hari, biaya tempat tinggalnya kalau rumah sakitnya jauh dari rumah, semuanya itu masih harus keluar uang. Parkirnya aja bayar.

Kata si anak, udah banyak banget biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan si ibu. Bersyukurnya sih, dapat tempat tinggal di Shelter Sehati Rumah Singgah yang semuanya gratis. Dari tempat tinggal, makan sehari-hari, transportasi ambulans bolak-balik rumah sakit, kadang juga ada tenaga medis dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa yang mengontrol keadaan pasien di rumah singgah. Asupan pendukung, seperti vitamin dan obat-obatan umum juga disediakan secara gratis, bahkan nyuci baju pun disediakan fasilitasnya.
“Bersyukur banget sih dapat tempat di rumah singgah ini,” ucap si anak.
Pihak penyedia rumah singgah pasien ini, yaitu Dompet Dhuafa, memang tidak melakukan pungutan biaya apapun dari setiap pasien maupun pendamping yang menginap. Mereka diperbolehkan untuk tinggal selama yang mereka butuhkan. Ada 10 ruang/bed yang tersedia, terdiri dari lima ruang standar, empat ruang bagi pasien anak, dan satu ruang khusus. Rumah singgah pasien ini juga memiliki dapur bersama, kamar mandi, tempat menjemur, dan fasilitas untuk kebutuhan rumahan lainnya. Selain itu, rumah singgah ini juga memiliki dua unit ambulans (pasien dan jenazah/Barzah) untuk antar jemput pasien.

Baca juga: Bentuk Forum Rumah Singgah Pasien se-Indonesia, LPM Bangun Komitmen Layani Masyarakat Lebih Baik
Di sana, aku juga ngobrol banyak sama Pak Selamet Widodo, salah satu driver ambulans di rumah singgah itu. Poin yang paling aku ingat, adalah kenapa rumah singgah ini bisa gratis dan bahkan banyak fasilitas di dalamnya. Kata Pak Selamet, itu karena rumah singgah ini merupakan hasil pengelolaan dari dana zakat, infak, dan sedekah yang diamanahkan oleh para muzaki. Kebaikan ini dapat terwujud atas kepercayaan dari seluruh kalangan masyarakat, khususnya para donatur dan para penerima manfaat.
Banyak sih sebenarnya cerita-cerita dan keluh kesah dari para pasien di rumah singgah ini. Ya, pastinya bermacam-macam. Tapi yang pasti, kesamaannya adalah mereka sama-sama mengeluhkan ongkos transportasi, akomodasi, dan konsumsi saat sedang menjalani pengobatan, apalagi kalau dirujuknya ke rumah sakit yang jauh dari rumah. Mungkin ini bisa jadi poin masukan ya kepada pemerintah untuk menambahkan manfaat lain pada program BPJS untuk juga meng-cover biaya transportasi dan lainnya. Ya, walaupun tidak semuanya, setidaknya sebagiannya. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika Prabowo

