JAKARTA — Jika nikmat sehat adalah cara Allah menguji syukur seseorang, maka nikmat sakit adalah cara Allah menguji sabar seseorang. Adakalanya dalam hidup ini setiap insan merasakan sehat dan sakit. Namun, sakit bukan sekadar kondisi fisik yang menyiksa.
Berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya”. Sejalan dengan makna hadis tersebut, merawat orang sakit bukan hanya bentuk kepedulian, tetapi juga ladang pahala yang penuh dengan kesabaran dan keikhlasan.
Memahami tantangan yang dihadapi pasien dan keluarganya, Dompet Dhuafa melalui Shelter Sehati terus berupaya meringankan beban mereka khususnya di bulan Ramadan yang penuh berkah, Dompet Dhuafa kembali menggelar Pesantren Kilat Ramadan 1446 H pada Ahad (23/3/2025), di rumah singgah Shelter Sehati, Johar Baru, Jakarta Pusat.


Feby Saputra selaku Koordinator Shelter Sehati, dalam kesempatannya menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan peningkatan keimanan dan ketakwaan bagi pasien serta pendamping pasien di Shelter Sehati, agar ketabahan dan harapan senantiasa menyertai mereka dalam menghadapi ujian kesehatan.
“Kita mau memupuk rasa persaudaraan kemudian memupuk rasa kebersamaan dan rasa sepenanggungan untuk bersilaturahmi bersama merasakan penderitaan yang sama dan kita bisa berbaur dan berbagi bersama keluhan apa sih dan perjuangan apa yang dilakukan dalam mengobati rasa sakit yang ada di dirinya kan bisa semuanya bareng-bareng di sini bisa berkumpul dan sharing bersama bisa sharing dan ditambah nilai agama,” kata Feby.


Pesantren Kilat Ramadan 1446 H di Shelter Sehati tak hanya memberikan pembinaan dan bimbingan keislaman, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan melalui dongeng yang dibawakan oleh Galuh Wulan Kencana. Ia membawakan kisah salah satu Sahabat Nabi, yakni Thalhah bin Ubaidillah. Kisah ini diharapkan dapat memotivasi mereka yang sedang berjuang untuk kesembuhan.
“Alhamdulillah hari ini saya bercerita tentang kisah dari Thalhah bin Ubaidillah, mudah-mudahan bisa menjadi motivasi untuk semua bahwa peluang masuk surga itu sangat banyak salah satunya adalah pintu ketika kita bersabar dan ketika kita sakit keras kemudian juga banyak melakukan amal kebaikan apa pun di sisa usia jadi berapa pun usianya selama kita mengamalkan kebaikan maka kita sangat berpeluang untuk bisa masuk surga sama seperti orang-orang yang meninggal karena syahid,” imbuh Galuh.

“Senang banget karena ada lembaga yang peduli kepada orang-orang yang memang sedang berjuang untuk sembuh dari sakitnya karena memang mereka itu bisa kuat tidak hanya motivasi dari dalam mereka berjuang, tapi juga perlu orang-orang di sekitarnya yang menjadi support system atau pendukung, sehingga mereka tidak merasa sendiri ketika menghadapi semua permasalahan ini,” tambah Galuh.
Seperti yang dirasakan Dayang Pratiwi. Bulan Ramadan ini menjadi perjalanan penuh harapan bagi Dayang, seorang ibu asal Aceh yang telah lebih dari sebulan menemani anaknya menjalani pengobatan di Jakarta.
Anak Dayang, Humaira (1), didiagnosis mengalami bocor jantung bawaan sejak usia tiga bulan. Harapan baru muncul ketika seminggu yang lalu anaknya berhasil menjalani operasi di salah satu rumah sakit jantung. Namun, proses pemulihan masih panjang. Mereka pun harus tetap berada di Jakarta untuk kontrol rutin.
Baca juga: Penggemar Anime Detektif Conan Berbagi Kebahagiaan dengan Para Pasien di Shelter Sehati


Di tengah perjalanan yang tidak mudah ini, keberadaan Shelter Sehati memberi harapan seperti cahaya dalam kegelapan bagi Dayang dan keluarganya. Sebelumnya, mereka kesulitan mencari rumah singgah dekat rumah sakit. Alhamdulillah kehadiran Shelter Sehati menjadi wadah yang membantu dan memfasilitasi hunian sementara untuk Dayang dan Humaira ketika proses pengobatan berlangsung.
“Alhamdulillah sekali, bersyukur sekali kami bisa-bisa tahu rumah singgah ini. Orang-orang yang di sini, kita saling kerja sama dan tadinya karena anak kita sakit ini kayak down gitu, tapi setelah di sini ketemu sama keluarga-keluarga baru gitu … alhamdulillah semangat lagi,” terang Dayang.

Lebih dari sekadar tempat tinggal sementara, Shelter Sehati juga memberikan dukungan spiritual melalui kegiatan Pesantren Kilat Pasien 1446 H. Dayang merasa program ini sangat bermanfaat karena membantunya kembali fokus pada agama di tengah ujian yang sedang dihadapi.
“Adanya pesantren kilat ini kita bisa mengetahui tentang agama lagi. Tadinya kita udah nggak fokus ke situ, jadi memperdalam agama lagi. Ada pesantren kilat ini membantu sekali bisa sharing-sharing sama teman-teman yang di sini,” sambung Dayang.
Baca juga: Rihlah Ceria, Dukungan Dompet Dhuafa Bagi Pasien dan Pendamping Shelter Sehati


Di perantauan tanpa sanak saudara, Shelter Sehati menjadi keluarga kedua bagi Dayang dan pasien lain. Dukungan moral, fasilitas, serta program keagamaan di shelter ini memberi kekuatan bagi para orang tua yang tengah berjuang untuk kesembuhan anak-anak mereka.
“Terima kasih semua dan seterusnya sama Rumah Singgah Shelter Sehati, sangat membantu atas pengobatan anak kami. Kami dari luar daerah bisa di Jakarta ini tanpa keluarga yang di sini dan membantu sekali. Alhamdulillah dan terima kasih buat semuanya yang sudah membantu dan harapan kami untuk anak kami, semoga sehat selalu bisa berbagilah sama seperti yang lain,” tutup Dayang. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Ronna

