5 Hari Kayuh Rindu Sejauh 630 KM: Pejuang Mudik Gunakan Sepeda Menuju Gunung Kidul

Sandi, Pejuang Mudik Lebaran 1446 H yang menggunakan sepeda dari Cikarang menuju Gunung Kidul.

CIREBON, JAWA BARAT — Debu jalanan dan peluh keringat menjadi saksi bisu perjuangan seorang pemudik bernama Sandi Setiawan. Di tengah arus modernisasi dan kemudahan transportasi, ia memilih jalan yang berbeda: mengayuh sepeda dari Cikarang, Jawa Barat menuju kampung halaman di Gunung Kidul, Yogyakarta. Bukan tanpa alasan, hobi dan kerinduan akan pengalaman mudik yang otentik dan pertemuan bersama keluarga tercinta menjadi bahan bakar semangatnya.

“Mudik pertama kali gowes tahun 2016, dan rasanya selalu berbeda tiap tahunnya. Saya rasa kalau pake sepeda lebih murah ketimbang pake bus lebih mahal. Sudah biasa juga gowes, karena sehari-hari kerja naik sepeda, nggak macet,” ujar Sandi, mengenang awal mula petualangan mudik uniknya.

Di saat yang lain memilih kenyamanan menggunakan mobil atau kecepatan motor, Sandi justru mencari tantangan. Baginya, mudik bukan sekadar tiba di tujuan, tetapi tentang proses dan setiap jengkal jalan yang dilalui.

Perjalanan sejauh 630 kilometer bukanlah perkara mudah. Sandi harus berjuang melawan teriknya matahari, dinginnya malam, dan beratnya medan. Tanjakan wilayah Ungaran, Jawa Tengah menjadi salah satu jalur yang tak terlupakan.

“Tanjakannya gak habis-habis, terasa lama,” kenangnya sambil tawa.

Baca juga: Dari SEKAR Hingga Pos Mudik: Inovasi Dompet Dhuafa dalam Program Ramadan 1446 H

Namun, semangatnya tak pernah padam. Setiap kayuhan adalah doa, setiap tetes keringat adalah pengorbanan untuk keluarga tercinta.

Tradisi Lebaran bersama keluarga di Gunung Kidul menjadi penyemangat tersendiri bagi Sandi. Makanan khas seperti tape ketan dan belalang goreng menjadi simbol kebersamaan dan kekayaan budaya lokal.

“Aku di kampung makannya belalang goreng, itu enak, pakai sambal dan nasi, nikmatnya lebih dari Gokana atau Hokben,” ujarnya sambil tertawa.

Sandi, Pejuang Mudik yang menggunakan sepeda dari Cikarang menuju Gunung Kidul, berbagi cerita kepada Dompet Dhuafa dalam program Podcast Bertamasya Edisi Ngetem di Pos Mudik Cirebon Power bersama Host, Ilham Pradipta, Kamis (27/03/2025) dini hari.
Sandi Pejuang Mudik yang menggunakan sepeda dari Cikarang menuju Gunung Kidul berbagi cerita kepada Dompet Dhuafa dalam program Podcast Bertamasya Edisi Ngetem di Pos Mudik Cirebon Power bersama Host Ilham Pradipta Kamis 27032025 dini hari

Perjalanan mudik Sandi bukan hanya tentang jarak dan waktu, tetapi tentang perjuangan, semangat, dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia mengajarkan kita bahwa mudik bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan keluarga, menghargai budaya lokal, dan menemukan makna hidup dalam setiap perjalanan. Layaknya Sandi yang tidak sengaja beristirahat di Pos Mudik Dompet Dhuafa Cirebon Power dini hari itu, Kamis (27/03/2025).

“Masuk ke Pos Mudik Dompet Dhuafa, ada yang jaga sepedanya, aman. Begitu masuk langsung ditawari tim LKC Dompet Dhuafa untuk cek kesehatan, ditawari juga untuk istirahat di tenda dulu tapi saya langsung coba layanan pijatnya aja, enak, semua gratis. Gowes kan capek, terus dapat layanan kayak gini ya puas, profesional banget,” aku Sandi.

“Pos Mudik Dompet Dhuafa ini banyak nilai plusnya, saya berterima kasih banget. Pelayanan ini sangat membantu pemudik-pemudik jarak jauh, terutama para goweser seperti saya,” imbuhnya.

Baca juga: Mudik Ceria Gratis Jelang Lebaran 2025: Harapan Baru Masyarakat Saat Hadapi Kondisi Ekonomi Tak Menentu

Ya, semua Sandi ceritakan di sela waktu istirahatnya di Pos Mudik bersama Dompet Dhuafa dalam program Podcast Bertamasya Edisi Ngetem di Pos Mudik Dompet Dhuafa Cirebon Poweri. Bincang santai nan asik bersama Host, Ilham Pradipta, dengan slogan ‘Pegel di jalan? Sini duduk, ceritain dulu’ bisa ditonton di kanal YouTube Dompet Dhuafa TV (DDTV) Mudik Naik Sepeda, Perjalanan 5 Hari Tempuh 630 Kilometer | Podcast Ngetem Edisi Mudik.

Di balik perjuangan fisik, tersimpan nilai-nilai kekeluargaan yang luhur. Sandi tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi dengan keluarga dan masyarakat. Ia membawa oleh-oleh bukan hanya barang, tetapi juga cerita dan pengalaman yang memperkaya jiwa. Berjuang demi rindu, menuju silaturahmi yang seolah menghentikan waktu. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika & Aryo
Penyunting: Dedi Fadli