SAREE, ACEH — Tim Dompet Dhuafa harus berjibaku tak hanya dengan medan yang sulit, tetapi juga krisis logistik vital dalam perjalanan menuju titik bencana banjir di Bireuen, Aceh. Laporan terbaru dari tim di lapangan, mereka menghadapi sebuah realitas pahit di area terdampak, yaitu ketidakpastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu panic buying dan antrean panjang yang menguras waktu.
Perjalanan tim kemanusiaan ini dimulai dari Banda Aceh sekitar pukul 15.00 WIB sore. Dengan estimasi waktu normal empat jam, tim berharap bisa tiba di Bireuen sebelum malam. Namun, rencana mereka tertahan di Saree, sebuah titik yang dianggap penting untuk mengisi tangki penuh kendaraan sebelum memasuki area yang diperkirakan akan lebih sulit dijangkau.
“Kondisi tidak ada sinyal, listrik padam, dan warga panic buying,” tutur Riza Muthohar, salah satu Reporter Dompet Dhuafa, menggambarkan suasana di Saree.
Di tengah padamnya listrik dan putusnya komunikasi, kebutuhan akan BBM menjadi prioritas mendesak, baik bagi warga maupun tim bantuan. Hal ini memicu pemandangan yang tak terhindarkan, yaitu antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“Kami menunggu antrian di pom sejak jam 5 sore hingga setengah 10 malam baru dapat giliran bensin,” ungkap Riza lagi.
Ini berarti, tim relawan harus merelakan waktu sekitar 4,5 jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar. Waktu yang sangat krusial untuk segera menyalurkan bantuan ke lokasi terdampak. Waktu tunggu yang panjang ini menjadi simbol nyata betapa terganggunya rantai logistik dasar pascabencana, di mana setiap tetes bahan bakar menjadi penentu mobilitas dan kecepatan respons.
Setelah perjuangan panjang di SPBU Saree, tim kembali melanjutkan perjalanan menuju Bireuen. Pengisian penuh ini memberikan kelegaan, meski tantangan di depan—termasuk kondisi jalan dan ketersediaan logistik di lokasi—masih menanti.
Saat ini, kesulitan dalam mencari sinyal menjadi kendala utama bagi kebutuhan pelaporan dan koordinasi. Untuk mengatasi masalah vital ini, tim telah menyiapkan rencana darurat.
“Guna kebutuhan mengirim data, kami membawa modem jaringan dan media center,” tambah Riza.
Setibanya di Bireuen, Tim Dompet Dhuafa berencana langsung berinteraksi dengan penyintas dengan ‘menginap’ di pos-pos darurat warga. Hal ini merupakan bagian dari upaya untuk memahami kebutuhan riil masyarakat secara mendalam dan berencana untuk melanjutkan aktivitas penyaluran bantuan keesokan harinya.
Baca juga: Pos Bantuan dan Dapur Umum Berdiri untuk Penyintas Banjir di Pidie Aceh
Perjalanan tim ini memberikan gambaran jelas seperti apa upaya kemanusiaan di lokasi bencana. Tidak hanya tentang evakuasi dan distribusi logistik, tetapi juga perjuangan sunyi melawan tantangan infrastruktur yang lumpuh, dari padamnya listrik hingga ketersediaan BBM yang langka dan memicu kepanikan warga.
Di saat yang sama, kita dapat memperkuat kembali semangat solidaritas dan gotong royong dengan berdonasi atau mendukung aksi kemanusiaan melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/prayforsumatera. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dhika, Riza Muthohar
Penyunting: Dedi Fadlil

