BIREUEN, ACEH — Fase tanggap darurat telah berakhir, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, telah menetapkan status Pemulihan Bencana Hidrometeorologi Aceh selama 90 hari, terhitung mulai 29 Januari hingga 29 April 2026. Meski demikian, para penyintas masih tetap berjuang di tengah keterbatasan. Bagaimana dengan nasib para penyintas yang kehilangan rumahnya? Bagaimana dengan nasib pendidikan anak-anak di Sumatra?
Dompet Dhuafa terus berikhtiar menjadi perpanjangan tangan kebaikan bagi para donatur yang ingin mendukung pemulihan para penyintas. Niat baik itu hadir dari Sekolah Quran Asy Syahid yang menyalurkan puluhan paket sembako di Gampong Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Dompet Dhuafa bersama Disaster Management Center (DMC) dan Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) mendistribusikan secara langsung paket sembako yang berisi, beras, gula, minyak, tepung dan ikan kaleng kepada para penyintas yang terdampak di Kabupaten Bireuen.
Jembatan darurat telah berdiri kukuh, sepanjang jembatan tersebut berkibar bendera merah putih sebagai pertanda bahwa Aceh tidak menyerah. Memasuki Gampong Kubu, tumpukkan lumpur yang telah mengering berada di tiap sisi jalan, setinggi tubuh manusia dewasa. Kepulan debu yang tinggi sampai membuat pandangan sedikit berkabut.
Baca juga: Dompet Dhuafa Terima 1.000 Mowilex Kit untuk Respons Bencana Sumatra


Namun, tak menghentikan semangat para relawan untuk mengantarkan kebaikan ini. Pada Senin (26/11/2026), paket sembako itu pun salah satunya diterima oleh Mahdaleni, seorang penyintas. Ia bercerita bagaimana banjir yang berupa air dan lumpur itu telah merenggut rumahnya, khususnya di bagian dapur dan kamar mandi, membuat Mahdaleni kesulitan untuk memasak.
Mahdaleni juga bercerita bahwa hujan deras sejak Selasa membuat debit sungai terus meningkat hingga sekitar pukul 22.00 malam. Awalnya, air hanya meluap di bagian belakang rumah seperti biasanya dan belum memasuki permukiman, sehingga masih diabaikan. Namun menjelang Subuh, sekitar pukul 05.00 pagi, air mulai merangsek ke dalam rumah dan semakin tinggi pada pukul 06.00.

Dalam waktu singkat, sekitar pukul 06.30 warga terpaksa berlari menyelamatkan diri karena genangan sudah setinggi dada dan terus naik hingga malam hari, bahkan hampir menenggelamkan bangunan di sekitar. Kondisi semakin darurat hingga warga yang berada di sekitar masjid harus mengungsi ke lantai dua untuk menghindari luapan air.
“Pokoknya kami ke tingkat dua belakang sana, orang tepi raya juga yang di kampung sana juga lari ke tempat kami makanya kami di sana berdesak sekali. tiga dua malam nggak tidur cuma duduk aja itu airnya ada terus,” cerita Mahdaleni.
Selama berhari-hari Mahdaleni dan warga lainnya bertahan dalam gelap, tanpa sinyal, tanpa persediaan makanan.
“Terus rumah ibu belakangnya yang turun ke bawah nggak tahu dibawa ke mana ya dibawa air. Sekarang sih lega sedikit tapi mau gimana sumur nggak ada WC nggak ada udah dibawa sumur. Kalau sekarang ke sumur ada sumur-sumur tua jadi ke situlah sekarang yang penting ada sumur,” sambung Alhamdulillah.
Baca juga: Dompet Dhuafa Percepat Pembangunan Rumtara untuk Penyintas Bencana di Aceh
Bantuan Paket Sembako kolaborasi Sekolah Quran Asy Syahid menjadi titik terang bagi Mahdaleni dan penyintas lainnya. Bagi Mahdaleni sendiri, paket sembako yang diterima akan dimasak di rumah untuk kebutuhan sehari-hari, terutama sebagai bekal makan anak-anak sebelum berangkat sekolah. Dengan begitu, jika di pagi hari tidak sempat mengambil nasi di kawasan masjid tersebut, ia dan keluarga tetap memiliki makanan yang bisa disiapkan sendiri.

Ia mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya karena persediaan beras di rumah sudah benar-benar habis, bahkan padi yang sempat ada pun terbawa arus entah ke mana. Kondisi itu membuat rumahnya nyaris tak memiliki bahan pangan sama sekali, sehingga bantuan yang diterima terasa sangat berarti untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
“Terima Kasih buat penyaluran paket sembako dari Sekolah Quran Asy Syahid sembako ini sangat bermanfaat bagi saya karena bisa untuk saya masak buat anak untuk pergi sekolah untuk anak pergi sekolah saya bersyukur sekali karena sudah mendapatkan sembako ada beras ada gula ada minyak ada sarden ada tepung sangat bermanfaat buat saya dan keluarga,” kata Mahdaleni.
Selain itu, untuk kebutuhan minum dan memasak, warga mengambil di pos bantuan. Selain itu, setiap pagi dan sore mereka juga datang ke lokasi tersebut untuk mengambil nasi yang dibagikan secara rutin.
Anto Langgeng Prayoga, Tim Fundraising Retail ZIS Dompet Dhuafa sangat mengapresiasi gerakan kebaikan yang diinisiasi oleh segenap keluarga besar Sekolah Quran Asy Syahid, Ia juga berterima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada Dompet Dhuafa.



“Kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh mitra dan donatur khususnya kepada mitra Sekolah Quran Asy Syahid atas kontribusi serta kepercayaan yang telah diberikan kepada Dompet Dhuafa dalam program Indonesia Siap Siaga. Dukungan ini bukan sekadar bantuan materi, tetapi bukti nyata kepedulian dan komitmen bersama dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas. Ke depan, kami berharap sinergi ini terus terjaga dan semakin kuat, sehingga lebih banyak program yang berdampak dapat diwujudkan secara berkelanjutan,” ujar Anto.
Kolaborasi yang terjalin antara mitra retail dan lembaga kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa diharapkan dapat terus membantu meringankan penderitaan para penyintas banjir dan longsor di Sumatra. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Dhika

