Pernah nggak sih Sahabat bertanya-tanya kenapa Al-Quran turun secara berangsur, bukannya sekaligus? Padahal, kitab-kitab sebelum Al-Quran diturunkan secara sekaligus dalam satu waktu. Lalu, kenapa Nabi Muhammad harus menunggu sampai 23 tahun untuk mendapatkan Al-Quran yang lengkap?
Pertanyaan ini bukan pertanyaan baru. Ini sudah jadi perdebatan sejak zaman Rasulullah. Tentu saja ada alasan sekaligus hikmah yang bisa manusia pelajari di balik turunnya Al-Quran yang berangsur-angsur. Meski Rasulullah adalah seorang Nabi, namun beliau tetaplah manusia biasa. Secara spiritual, Rasul memang memiliki kapasitas yang luar biasa. Namun secara fisik, ia sama dengan manusia yang lain.
Alasan Kenapa Al-Qur’an Turun Berangsur
Turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah bentuk kasih sayang Allah Swt kepada Nabi Muhammad. Agar, beliau tidak merasa sendirian dalam perjuangannya menyebarluaskan agama Islam. Agar, umatnya tak merasa berat dalam memikul hukum Allah. Al-Qur’an turun secara berangsur untuk mengikuti detak jantung kehidupan, bukan hanya sebagai sekadar teori yang jatuh dari langit.
Berikut alasan kenapa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur
1.Untuk Meneguhkan Hati Rasulullah
Hal ini disebut secara jelas dalam Al-Quran, tepatnya pada surah Al-Furqan ayat 32.
“Berkatalah orang-orang yang kafir: ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (berangsur-angsur).”
Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan fi Ulumil Qur’an menjelaskan bahwa wahyu yang turun secara berangsur-angsur berfungsi sebagai dukungan moral yang konsisten bagi Nabi. Setiap kali beliau menghadapi tantangan berat atau penolakan dari kaum Quraisy, Jibril datang membawa ayat baru untuk menguatkan mental Rasulullah.
2. Untuk Memudahkan Hafalan dan Pemahaman
Masyarakat Arab pada saat itu adalah masyarakat yang tidak membaca juga menulis, mereka sangat mengandalkan hafalan. Bila Al-Quran turun sekaligus dalam satu kitab tebal, maka akan sangat sulit bagi para Sahabat untuk menghafal dan memahami maknanya secara detail.
Dengan diturunkan secara berangsur-angsur, para Sahabat bisa menghafal beberapa ayat, memahaminya, dan langsung mengamalkannya sebelum pindah ke ayat berikutnya.
3. Untuk Penerapan Hukum Secara Bertahap
Allah Swt menurunkan Al-Quran secara berangsur untuk mengubah kebiasaan buruk yang mengakar sangat kuat (seperti, minum khamr dan riba). Sebab, Dia tahu bahwa perubahan sosial tidak bisa terjadi secara instan.
Seperti contohnya aturan pelarangan minuman beralkohol (khamr). Ini dilakukan dalam empat tahap, mulai dari informasi tentang kemudharatannya, melarang salat saat mabuk, hingga larangan keras untuk tidak meminumnya. Para ulama pun menyebut ini sebagai bentuk kasih sayang Allah agar umat tidak merasa terbebani secara mengejutkan.
4. Untuk Menjawab Pertanyaan dan Peristiwa Secara Real-Time
Banyak ayat Al-Quran yang turun sebagai respons langsung Allah atas pertanyaan para Sahabat atau ejekan kaum kafir. Syekh M. Ali Ash-Shabuni menjelaskan bahwa hal ini membuktikan bahwa Al-Quran senantiasa mendampingi gerak-gerik umat dan memberikan solusi langsung atas masalah yang sedang terjadi saat itu.
Contohnya saja, dahulu orang berpikir bahwa alam semesta itu statis. Namun, pada abad ke-20 Edwin Hubble menemukan bahwa alam semesta terus berkembang dan meluas. Hal ini persis seperti apa yang Allah firmankan dalam surah Adz-Dzariyat ayat 47.
“Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
Ayat di atas turun pada saat teknologi teleskop belum ada. Fakta bahwa Al-Quran menggunakan kata “meluaskannya” (musі’un) menunjukkan bahwa informasinya melampaui zaman dan tetap akurat hingga era kosmologi modern.
5. Untuk Menjadi Bukti Bahwa Al-Quran Adalah Mukjizat dan Kebenaran
Meski turun dalam waktu kurang lebih 23 tahun dan dalam kondisi serta situasi yang berbeda-beda (perang, damai, sedih, senang), Al-Qur’an tetap memiliki keserasian bahasa dan tidak ada pertentangan makna sedikit pun di dalamnya. Ini membuktikan bahwa ia bukan karangan manusia, melainkan wahyu Ilahi.
Hikmah Al-Quran Turun Secara Berangsur
Berdasarkan alasan-alasan di atas, ada sederet hikmah yang juga berhubngan dengan alasan kenapa Al-Quran turun secara berangsur. Antara lain:
Meneguhkan Hati Umat
Al-Quran turun secara berangsur bukan karena aksesnya terbatas, melainkan untuk memastikan bahwa setiap informasi yang turun berubah menjadi karakter dan budaya. Bukan sekadar tumpukan wawasan yang tidak dipraktikkan.
Apalagi di zaman informasi yang serba cepat dan banyak ini, masyarakat sedang menderita penyakit banyak tahu tapi yang dilakukan hanya sedikit. Sahabat, pasti nggak sedikit kan dari kita yang sekarang-sekarang ini sering nge-save video tutorial atau kutipan-kutipan bijak di medsos, eh tapi nggak ada satupun yang kita lakukan maupun mengubah kehidupan kita?
Nah, hikmah dari turunnya Al-Quran secara berangsur itu ini, untuk meneguhkan hati kita agar melakukan sesuatu atau berubah.
2. Memudahkan umat Muslim menghafal dan memahami Al-Quran
Lewat peristiwa ini, Allah ingin mengajarkan manusia untuk learning by doing atau belajar sambil praktik. Memahami Al-Quran bukan sekadar tahu artinya, tapi tahu cara pakainya.
Karena Al-Quran turun berkaitan dengan kejadian nyata, maka para Sahabat bisa langsung memahami konteks ayat tersebut. Contohnya, saat ayat tentang tata cara wudu turun, mereka tidak hanya menghafal teorinya, tetapi langsung mempraktikkan gerakannya bersama Nabi. Pemahaman yang didapat dari praktik langsung jauh lebih melekat daripada hanya membaca instruksi di dalam buku.
3. Menyesuaikan problematika dan dinamika sosial yang dihadapi oleh Rasulullah dan umatnya
Al-Quran tidak turun di dalam ruang hampa. Ia turun di tengah pasar, di tengah medan perang, di tengah tangisan budak, dan di tengah perdebatan sengit. Bila Al-Quran turun sekaligus, ia akan menjadi sebuah doktrin mati yang harus dipelajari orang setelah kejadian berlalu. Sebaliknya, dengan turun secara berangsur, maka Al-Quran memposisikan diri sebagai solusi real-time.
Bayangkan perbedaan membaca buku tentang Cara Menghadapi Badai saat cuaca cerah, dengan mendengar panduan langsung dari ahli lewat radio tepat saat badai sedang menghantam rumahmu. Panduan langsung itu jauh lebih berharga. Untuk itu, setiap kali Rasulullah Saw menghadapi kebuntuan sosial atau politik, wahyu turun sebagai navigasi. Al-Qur’an menjawab “hari ini”, bukan hanya untuk “nanti”.
Sebelum menutup bahasan ini, mari kita simak riwayat Al-Bukhari dari Aisyah ra yang berkata:
“Ayat yang pertama diturunkan menjelaskan tentang surga dan neraka. Lalu ketika hati orang-orang semakin meyakini kebenaran Islam, maka turunlah ayat-ayat tentang halal dan haram. Andaikan sejak semua yang turun adalah ayat seperti ‘Jangalah meminum khamr.’ Maka orang-orang akan berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkan kebiasaan meminum khamr selamanya.’ Andaikan yang pertama kali turun adalah ayat ‘Jangan berzina’ maka, orang-orang akan berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkan perbuatan zina selamanya’.”
Hadis di atas menekankan bahwa bila aturan yang berat dan itu melarang kebiasaan lama yang mengakar seperti melarang khamr dan zina, dan diberikan di awal saat iman belum kukuh, maka secara naluriah manusia akan menolak dan memberontak. Nah, hikmahnya Al-Quran turun secara berangsur untuk memastikan bahwa umat memiliki kesiapan mental dan fondasi spiritual yang kuat, sehingga ketaatan lahir dari kesadaran cinta, bukan sekadar paksaan atau ancaman.
Sahabat, itulah alasan kenapa Al-Quran turun secara berangsur, tidak sekaligus. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memperbanyak amalan baik dan ibadah. Aamin. (Dompet Dhuafa/RQA)
Baca juga:

