Atap Pelaminan: Kebahagiaan Marzatillah Terenggut Bencana

BIREUEUN, ACEH — Layaknya menanti matahari terbit dari atas gunung. Alangkah bahagianya Marzatillah melakukan segala persiapan pernikahannya dengan matang. Ia sudah membagikan undangan kepada kerabat, menyiapkan dekorasi, dan pakaian adat Aceh, Ulee Balang, yang siap ia kenakan. Penantian terindah ini akan berlangsung dalam hitungan hari.

Ayahanda Marzatillah pun sangat menantikan hari istimewa itu. Hari di mana ia akan mengantarkan putri tercintanya menuju kehidupan baru. Hari di mana ia memercayakan si buah hati yang telah dijaga selama 26 tahun kepada calon menantunya.

Tapi malam itu, 26 November 2025, tak ada waktu untuk menyelamatkan apa pun. Marzatillah terbangun dari tempat tidurnya dan mendapati air telah merendam mata kakinya. Awalnya, ia mengira hanya genangan kecil, namun dalam hitungan menit air bercampur lumpur mulai memenuhi rumah. Kepanikan pun tak terelakkan, air terus naik, makin cepat dan deras.

Marzatillah memanggil ayah dan ibunya, Salviadi. Mereka bergegas keluar rumah, lalu naik ke atap bangunan sekolah. Di atas atap, dalam gelap dan dingin, ketiganya berpelukan dan bertahan selama delapan jam. Hujan, angin, dan lapar yang menusuk membuat tubuh mereka menggigil. Mereka hanya bisa bertahan, berharap air segera surut.

Namun, arus air justru makin kuat. Ditambah, bermunculan gelondongan kayu yang menghantam bangunan tempat mereka berlindung. Atap sekolah mulai bergetar, bergoyang pelan lalu makin kencang.

Baca juga: Senyum Dinda Punya Buku Baru Setelah Tiga Jam Bertaruh Nyawa Saat Banjir Langkat

Di tengah suara air dan benturan kayu, suara sang ayah terdengar lirih dan penuh pasrah, “Nanti kalau kita hanyut, kalian harus bertahan, ya!”.

Kata-kata itu membuat dada Marzatillah sesak. Sang ibu langsung menyahut, suaranya pecah menahan tangis, “Jangan begitu, lah. Kalau kita mati di sini, kita mati sama-sama”.

Kemudian, bangunan sekolah itu ambruk. Bangunan itu hanyut dihantam derasnya air dan gelondongan kayu besar. Mereka pun ikut hanyut bersama lumpur dan arus yang tak memberi pilihan. Dini hari itu, mereka berjuang di tengah gejolak banjir.

Marzatillah tak ingat kapan ia terlepas dari orang tuanya. Ia hanya ingat kepalanya sempat terhantam kayu besar. Alih-alih melukainya, kayu itu justru menyelamatkannya. Ia memeluknya erat, menjadikannya pelampung. Ukurannya yang besar membuat tubuhnya lebih stabil.

Namun kayu lain kembali menghantam tubuhnya. Pegangannya terlepas. Ia kembali hanyut, terseret arus dan lumpur. Hingga akhirnya, ia melihat batang kayu kelapa berukuran cukup besar. Sekali lagi, ia bertahan dengan memeluknya sekuat tenaga.

Di tengah kelelahan, ia menyadari tubuhnya tersangkut di rumpun bambu. Bambu-bambu itulah yang menahan lajunya kayu. Di sana, Marzatillah bertahan. Sendirian, basah, menggigil, dan ketakutan.

Hingga kemudian pertolongan datang. Warga yang sejak awal mencari para korban akhirnya menemukannya dan mengevakuasi dirinya.

Marzatillah dibawa ke sebuah masjid, tempat yang dianggap paling aman saat itu. Di sana, ia bertemu kembali dengan sang ibu. Namun, mereka berdoa dengan sisa harap. Mungkin sang ayah selamat dan dievakuasi di tempat lain.

Tapi kenyataan datang dengan cara paling menyakitkan. Di antara para korban yang meninggal, mereka melihat wajah yang sangat mereka kenal, yang sangat mereka cintai. Sosok yang seharusnya menjadi wali di hari pernikahan Marzatillah.

Baca juga: Menjemput Takdir Pascabanjir, WiFi Gratis Dompet Dhuafa Selamatkan Asa Guru Honorer Aceh Tamiang

Tangis pun pecah. Marzatillah dan Salviadi berpelukan, tak percaya bahwa kehilangan sebesar ini harus mereka terima.

Hari-hari berikutnya dilalui dalam trauma. Ketakutan belum pergi. Pikiran mereka terus kembali ke malam itu.

Pada pekan kedua pascabanjir, Ahad, 7 Desember 2025, Marzatillah dan Salviadi kembali melihat rumahnya di wilayah Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh. Di sanalah Fotografer DDTV, Riza Muthohar, bertemu dengan keduanya. Menceritakan tentang hari-hari terakhir yang mengubah hidup mereka.

“Tolong lihat rumah saya, Kak. Saya tidak berani,” ucap Salviadi lirih, kepada Riza.

Rumah itu dipenuhi lumpur yang telah mengeras. Sunyi. Lumpur itu telah menutupi hampir seisi rumahnya. Bukan pelaminan yang berdiri, namun tumpukan lumpur yang sangat tinggi.

Bencana hidrometeorologi itu tak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga merenggut kebahagiaan, keluarga, dan masa depan yang telah lama disiapkan. Ya, pernikahan itu harus batal dilaksanakan.

Dan Marzatillah duduk di atap rumahnya yang kini telah rendah. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika, Aji, Riza
Penyunting: Dhika