JAKARTA — Malam takbiran selalu punya dua wajah, di satu sisi gema takbir yang menghangatkan hati dan arus manusia yang bergegas pulang, di sisi lain ada mereka yang justru memilih tetap tinggal.
Di sebuah booth sederhana, para relawan fundraiser Dompet Dhuafa berdiri menyapa satu per satu pengunjung. Senyum mereka terbuka lebar, meski lelah mulai terasa. Di antara mereka, ada Eza, Aina, dan Aura, tiga nama dengan pilihan yang berbeda, tetapi dengan keyakinan yang sama.
Eza menunda pulang kampung di saat tiket perjalanan menjadi barang paling diburu, ia justru memilih bertahan.
“Jujur, rindu rumah itu pasti ada. Apalagi malam takbiran,” ujarnya pelan.
“Tapi saya percaya, apa yang saya lakukan di sini juga bagian dari ibadah,” katanya saat ditemui di booth Dompet Dhuafa Botani Square, Bogor, Jumat (20/03/2026).
Di hadapannya, orang datang dan pergi. Ada yang berhenti, bertanya tentang zakat fitrah dan zakat mal, lalu menunaikannya di tempat. Ada juga yang hanya tersenyum dan berlalu.


Baca juga:Malam Takbiran: Waktu Terbaik Bayar Zakat Fitrah, Ini Penjelasannya
Di tempat terpisah, Aina berdiri tak jauh dari booth. Ia juga memilih menunda pulang. Baginya, keputusan itu bukan hal mudah terutama ketika notifikasi pesan keluarga mulai berdatangan, menanyakan kapan ia pulang.
“Yang berat itu bukan capainya, tapi rasa kangen,” katanya.
“Kadang lihat orang bawa belanjaan buat Lebaran, jadi keingat rumah,” tutur Aina di booth The Park Pejaten.
Namun, ia tetap melanjutkan tugasnya menyapa, menjelaskan, dan membantu orang menunaikan zakat.
Waktu berjalan lambat, dan sempat muncul keraguan.
“Awalnya saya mikir, ini bakal ada yang donasi nggak ya?” kata Aina.
“Tapi makin malam, orang mulai datang. Banyak juga yang memang cari tempat bayar zakat fitrah,” lanjutnya.
Di situlah ia merasa bertahan adalah keputusan yang tepat.


Sementara itu, Aura memilih jalan yang sedikit berbeda. Ia tetap bertugas hingga mendekati Hari Raya, sebelum akhirnya memutuskan pulang di hari H Lebaran.
“Biasanya justru yang mepet Lebaran itu yang paling ramai,” kisah Aura.
“Orang baru ingat bayar zakat fitrah di saat-saat terakhir,” lanjutnya.
Ia tetap melayani dengan ritme yang sama menjelaskan, membantu, dan menerima berbagai respons termasuk penolakan.
“Yang penting kita sudah menyampaikan. Kita ini hanya perantara,” katanya.
Meski pada akhirnya pulang, Aura tetap menjadi bagian dari aliran kebaikan yang terjadi di malam-malam terakhir Ramadan.
Di balik semua itu lelah karena berdiri berjam-jam, penolakan yang datang silih berganti, dan rindu kampung halaman yang tak bisa sepenuhnya ditepis ada satu hal yang mereka pegang erat. Bahwa apa yang mereka lakukan, sekecil apa pun, berarti.
“Kadang cuma satu orang yang akhirnya donasi setelah kita jelasin panjang,” kata Aura.
“Tapi dari satu itu, kita nggak pernah tahu dampaknya bisa sejauh apa,” imbuhnya.
Malam takbiran pun terus berjalan. Suara takbir makin hingar terdengar. Sebagian orang pun makin dekat dengan rumah, sementara mereka tetap berada di tempatnya. Bukan karena tidak ingin pulang. Tetapi, karena mereka memilih menjaga sesuatu yang lain.
Baca juga: Tips Hemat Saat Lebaran agar Keuangan Tetap Aman


Di balik lelah, penolakan, dan rindu kampung halaman, mereka menyimpan keyakinan sederhana bahwa pelayanan kecil yang mereka lakukan malam itu bisa menjadi jembatan bagi kebaikan yang lebih besar.
Sekadar informasi, Dompet Dhuafa membuka sekitar 45 titik konter layanan di wilayah Jabodetabek selama momentum Ramadan 1447 H hingga malam takbiran. Titik-titik ini tersebar di pusat perbelanjaan, area publik, hingga ruang-ruang strategis yang mudah dijangkau masyarakat.
Puluhan konter ini bertujuan untuk memperluas akses kebaikan di tengah mobilitas tinggi menjelang Lebaran. Konter-konter tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat menunaikan zakat fitrah dan zakat mal.
Di setiap titik, relawan seperti Eza, Aina, dan Aura menerima donasi sekaligus menjadi wajah edukasi publik dengan menjelaskan, meyakinkan, dan membangun kepercayaan. Dengan begitu, zakat terasa lebih dekat dan mudah dilakukan tanpa kesan rumit atau tertunda. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Aji Pangestu
Penyunting: Ronna

