Refleksi Jati Diri di Usia ke-33, Dompet Dhuafa Teguhkan Warisan Pemikiran BJ Habibie

Speaker at a podium delivering a presentation on a stage; audience seated and facing forward with a blue title slide on a screen behind him, reading 'Refleksi Masa Lalu Menata Masa Depan'

JAKARTA — Dalam rangka menyambut Milad ke-33, Yayasan Dompet Dhuafa Republika (YDDR) menggelar kegiatan bertajuk “Refleksi Masa Lalu, Menatap Masa Depan: Jati Diri DD di Usia 33 Tahun” di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Kamis (26/06/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk menelusuri kembali akar sejarah berdirinya Dompet Dhuafa sekaligus meneguhkan komitmen melanjutkan nilai-nilai perjuangan para pendirinya dalam membangun masyarakat melalui gerakan filantropi Islam.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan lagu Cinta Sejati dan Sepasang Mata Bola, dilanjutkan dengan pembukaan serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Dompet Dhuafa. Suasana khidmat menyelimuti Sasana Budaya Dompet Dhuafa ketika para pembina, pengurus, mitra pelaksana program, serta Insan Dompet Dhuafa mengikuti rangkaian refleksi yang mengangkat perjalanan sejarah sekaligus arah masa depan lembaga.

Mengusung tema “Refleksi Masa Lalu, Menatap Masa Depan: Jati Diri DD di Usia 33 Tahun“, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan Dompet Dhuafa sejak berdiri, tetapi juga merefleksikan kembali keterkaitan sejarah antara Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Harian Republika, hingga lahirnya Dompet Dhuafa sebagai lembaga filantropi yang terus berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Two women in hijabs speak on a wooden stage, with a large screen showing an elderly couple in the background.
Woman in a beige hijab and glasses speaks with her hands raised during a talk in a wood-paneled conference room, with a screen visible on the left.

Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika (YDDR), Dr. Ahmad Juwaini, dalam sambutannya menegaskan bahwa nilai-nilai yang diwariskan BJ Habibie masih menjadi pijakan penting dalam perjalanan Dompet Dhuafa hingga saat ini. Menurutnya, salah satu prinsip utama yang perlu terus dijaga adalah keseimbangan antara Iman dan Taqwa (Imtaq) dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).

“Dompet Dhuafa dalam segala kegiatannya harus mencerminkan upaya untuk terus mengembangkan kualitas Imtaq masyarakat sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Ahmad Juwaini.

Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi dan perkembangan digital perlu dimanfaatkan untuk menghadirkan nilai tambah dalam berbagai program pemberdayaan, sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup para penerima manfaat secara berkelanjutan.

Ahmad Juwaini juga mengingatkan kembali pesan yang kerap disampaikan Pendiri Dompet Dhuafa, Parni Hadi, mengenai mata rantai sejarah berdirinya lembaga tersebut.

“Dompet Dhuafa ada karena Republika. Republika ada karena ICMI. ICMI ada karena Bapak Habibie,” sebutnya.

Menurutnya, kalimat tersebut bukan sekadar pengingat sejarah, melainkan pengingat bahwa gagasan besar BJ Habibie harus terus diimplementasikan dalam berbagai ikhtiar pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Dompet Dhuafa.

Baca juga: Sayap Kebaikan 33 Tahun: Cerita di Balik Logo Milad Kupu-kupu dan Semangat Filantropi Hijau Dompet Dhuafa

Man wearing a batik shirt speaks into a microphone at a transparent podium on a stage, with a projector screen behind displaying Indonesian text.
Man standing at a clear lectern giving a presentation, with a large screen displaying a blue slide behind him.

Memperkuat pandangan tersebut, Pembina dan Kurator Sasana Budaya YDDR, Andi Makmur Makka, menyampaikan bahwa sejak awal berdirinya Dompet Dhuafa tidak pernah terlepas dari spirit yang diwariskan BJ Habibie, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan umat.

“Spirit Pak Habibie tentang pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan umat, serta harmonisasi antara keimanan dan ilmu pengetahuan menjadi fondasi yang terus hidup dalam perjalanan Dompet Dhuafa,” ungkap Andi Makmur Makka.

Menurutnya, pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) secara produktif merupakan manifestasi dari pemikiran BJ Habibie yang memadukan keimanan, ilmu pengetahuan, dan teknologi sebagai satu kesatuan dalam membangun masyarakat. Ia juga menambahkan bahwa keberadaan Sasana Budaya YDDR menjadi bagian dari ikhtiar menjaga nilai, pemikiran, dan jejak perjuangan para pendiri agar terus menginspirasi generasi penerus.

Man in a dark suit speaking at a clear podium on a wooden stage, with a blue conference screen in the background

Gagasan tersebut kemudian diperdalam oleh Pembina Dompet Dhuafa, Yudi Latif, melalui pemaparannya bertajuk “Menuju Dimensi Baru Pembangunan Bangsa menurut Gagasan Pak BJ Habibie”. Ia mengajak peserta menengok kembali era 1990-an sebagai masa ketika keislaman, kemodernan, dan kecendekiawanan bertemu dalam satu momentum penting melalui lahirnya ICMI.

Menurut Yudi, BJ Habibie merupakan sosok intelektual yang mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menyebut Habibie sebagai representasi third culture, yakni ilmuwan yang tidak hanya menguasai sains dan teknologi, tetapi juga mampu mengomunikasikan gagasan ilmiah kepada masyarakat secara sederhana dan mudah dipahami.

Selain itu, Yudi menekankan bahwa pembangunan bangsa bukanlah perjuangan yang selesai dalam satu generasi. Mengutip pemikiran BJ Habibie, ia menyampaikan bahwa pembangunan merupakan historical continuity atau keberlanjutan sejarah yang dijalankan melalui estafet perjuangan antargenerasi.

“Pembangunan bukan perjuangan sekali jadi. Kita hari ini melanjutkan tongkat estafet perjuangan generasi sebelumnya, dan tugas kita adalah meneruskannya kepada generasi berikutnya,” jelas Yudi.

Speaker at a podium presenting to an audience in a conference room, with a large slide screen behind.
Male speaker in a batik shirt at a clear podium, raising his right hand during a presentation; blue screen backdrop behind him.

Setelah sesi refleksi tersebut, kegiatan berlanjut dengan pemaparan fokus serta dampak program dari empat Multi Program Partnership (MPP) Dompet Dhuafa, yaitu Pendidikan dan Budaya, Kesehatan, Ekonomi, serta Sosial, Dakwah, dan Kemanusiaan. Dipandu oleh Agung Pardini dari IDEAS, sesi ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai yang diwariskan para pendiri terus diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Refleksi tersebut juga meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta yang hadir. Salah satunya disampaikan oleh Agung Pardini, Peneliti IDEAS, yang menilai kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengingat kembali akar sejarah sekaligus memperkuat arah gerakan Dompet Dhuafa di masa mendatang.

“Tidak ada Dompet Dhuafa tanpa Harian Republika. Tidak ada Republika tanpa ICMI, dan tidak ada ICMI tanpa Pak Habibie. Hari ini refleksi ulang tahun Dompet Dhuafa ke-33 tahun. Menarik, digabungkan dengan cara kita menghormati sosok seorang presiden yang juga cendekiawan, Pak BJ Habibie, yang selalu menekankan tentang pentingnya berinovasi dan peningkatan SDM,” ujar Agung.

Ia menambahkan bahwa amanah pengelolaan dana zakat yang diemban Dompet Dhuafa terus diwujudkan melalui program-program pemberdayaan yang bertujuan menciptakan masyarakat yang mandiri dan berdaya. Menurutnya, kegiatan refleksi seperti ini juga penting agar generasi muda memahami sejarah serta jati diri Dompet Dhuafa sebagai gerakan filantropi yang lahir dari semangat intelektualitas dan keberpihakan kepada umat.

Baca juga: Gerakan Donor Darah Serempak di Penjuru Nusantara Jelang Milad Dompet Dhuafa

Panel discussion in a room with five people seated on stage and a presenter standing to the right, a large screen behind displays Indonesian text about reflecting on the past and future.
Audience seated in a modern conference room, listening to a presentation; front row on gray couches with drinks on the table.

Man in a green shirt speaks into a handheld microphone in a room with wooden wall panels, likely giving a talk.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sejumlah buku pemikiran BJ Habibie, di antaranya Ilmu Pengetahuan, Teknologi & Pembangunan Bangsa: Menuju Dimensi Baru Pembangunan Indonesia, Tinjauan tentang Wawasan Habibie dalam Pemikiran Ekonomi-Pembangunan Indonesia, serta Republika, Koran Islam Dapur Reformasi. Selain itu, arsip statis Harian Republika periode 1993–2000 juga diserahkan kepada Perpustakaan YDDR sebagai upaya menjaga memori sejarah lahirnya Dompet Dhuafa sekaligus merawat warisan intelektual yang menjadi bagian dari perjalanan lembaga.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ahmad Shonhaji untuk Pendiri Dompet Dhuafa, Parni Hadi, serta doa bagi almarhum BJ Habibie dan Ainun Besari Habibie sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan kontribusi mereka bagi bangsa dan perjalanan Dompet Dhuafa.

A four-cover assortment of Indonesian political books and a newspaper, arranged in a 2x2 grid on a wooden surface. Top-left shows a Republika newspaper front page; top-right is a black biography-style cover with a man’s portrait; bottom-left is a blue Habibienomics-style cover featuring a man wearing a hat; bottom-right is a book with a man in a blue shirt.

Two men shake hands beside a donation box labeled'Arsip Republik (1993-2000)' in a conference room with a blue backdrop behind them, indicating an archival handover ceremony.

Group of ten people on a stage holding books and folders, with a blue banner in the background.

Diverse group of adults seated in a conference room, hands folded in prayer or reflection.

Man in light clothing giving a talk on a wooden-stage podium in a modern lecture hall, with a blue presentation slide on the screen behind him and an audience seated facing the stage.

Memasuki usia ke-33 tahun, Dompet Dhuafa tidak hanya merayakan perjalanan panjang sebagai lembaga filantropi Islam, tetapi juga meneguhkan kembali jati dirinya sebagai gerakan yang bertumpu pada integrasi nilai keislaman, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui refleksi ini, Dompet Dhuafa berharap estafet pemikiran yang diwariskan para pendiri, termasuk BJ Habibie, terus hidup dan menjadi inspirasi dalam menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas bagi Indonesia. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Nurul
Penyunting: Dhika