JAKARTA — Di balik deretan buku yang tersusun rapi, ada kisah perjuangan mengharukan dari seorang gadis remaja bernama Salwa Amalia Kaysan (16). Siswi SMAN 97 Jakarta ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik dan ekonomi bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan awal dari sebuah pengabdian yang tulus.
Lahir pada tahun 2010, masa kecil Salwa tidaklah mudah. Ia harus kehilangan figur seorang ayah sejak usianya masih sangat belia. Sang ibu, Ersa (50), harus berjuang sendirian menyambung hidup dengan bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). Di sela-sela peluh mencari nafkah, Ibu Ersa dihadapkan pada ujian lain, yakni Salwa kecil mengalami keterlambatan bicara (speech delay).
Sebuah titik balik muncul ketika tenaga medis merekomendasikan metode terapi yang sederhana, namun sarat makna: Salwa bisa dilatih mendengar ibunya membaca buku dengan nyaring. Dengan penuh ketelatenan, di tengah rasa lelah usai bekerja, Ibu Ersa mempraktikkan hal itu setiap hari. Perlahan tapi pasti, keajaiban itu datang. Salwa tidak hanya mulai lancar berbicara, tetapi untaian kata dari sang ibu juga menumbuhkan kecintaan yang mendalam pada lembar-lembar buku.
Baca juga: Anak Yatim dan Risiko Putus Sekolah: Mengapa Bantuan Pendidikan Penting?



Seiring bertambahnya usia, Salwa tumbuh menjadi anak yang peka terhadap lingkungannya. Di saat anak-anak sebayanya mulai terasing dalam dunia gadget—di mana banyak orang tua memilih memberikan gawai agar anak mereka diam dan tenang—Salwa justru gelisah.
“Aku ingin ajak teman-teman membaca di taman,” ujarnya.
Ketika masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD), sebuah kalimat polos namun berani keluar dari bibir mungilnya.
“Ibu, aku ingin ajak teman-teman baca buku. Gelar buku di taman,” kenang Ibu Ersa menirukan ucapan Salwa kala itu.
Salwa ingin menciptakan sebuah ruang di mana anak-anak bisa saling berinteraksi secara hangat, bukan dengan layar kaca, melainkan melalui halaman buku.
Mendengar impian sang anak, Ibu Ersa mengamini tanpa ragu. Di tengah padatnya jadwal kerja, ia setia mendampingi Salwa. Berbekal tikar seadanya dan koleksi buku yang mereka miliki, ibu dan anak ini mulai menggelar lapak baca gratis di sebuah taman umum.
Perjalanan literasi Salwa menemukan ruang bertumbuh yang lebih luas ketika ia dipertemukan dengan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Dompet Dhuafa. Saat pandemi Covid-19 melanda, Salwa yang masih SD berhasil mengukir prestasi sebagai juara menulis buku akordia. Sejak saat itu, ia aktif mengikuti berbagai pelatihan literasi dari SLI hingga berhasil mengantongi sertifikat 32 JP (Jam Pelajaran).
Komitmen Salwa terhadap dunianya sungguh menyentuh hati. Di saat anak-anak lain menggunakan uang saku atau hadiah untuk bersenang-senang, Salwa memilih jalan yang berbeda.
“Kadang, uang santunan yatim yang Salwa terima dikumpulkan dan dibelikan buku baru. Salwa ingin buku itu bisa dibaca oleh anak-anak lain juga,” tutur Ibu Ersa dengan mata berkaca-kaca.



Baca juga: Apakah Semua yang Berstatus Yatim Layak untuk Dibantu dan Disantuni?
Dedikasi tanpa pamrih yang dipupuk Salwa dan ibunya lewat TBM Ersalrif akhirnya mendapat pengakuan indah. Pada perayaan Satu Dekade SLI Dompet Dhuafa yang digelar di Perpustakaan Nasional RI, Salwa diundang sebagai salah satu insan penggerak literasi inspiratif alumni program pendampingan SLI.
Dalam penganugerahan SLI Award tersebut, Salwa Amalia Kaysan resmi menerima apresiasi sebagai Relawan Penyuara Audio Buku Inspiratif. Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa gadis yang dulunya kesulitan berbicara, kini justru menjadi “suara” yang membacakan cerita dan menyebarkan ilmu bagi banyak orang melalui audio buku.
Dalam pameran Satu Dekade SLI tersebut, kisah Salwa bersanding dengan berbagai stan karya literasi seperti buku, modul, dan media pembelajaran interaktif. Para pengunjung, baik dewasa maupun anak-anak, juga diajak menikmati pengalaman literasi yang menyenangkan di area “Ceruk Ilmu”, sebuah pojok baca interaktif yang ramah keluarga, mirip dengan atmosfer hangat yang selalu dihadirkan Salwa di taman bacaannya.
Kini, Salwa membentuk Taman Baca Masyarakat (TBM) Ersalrif di sudut wilayah Brigif, Jakarta Selatan. Sebuah taman bacaan sederhana yang berdiri sebagai oase di tengah gempuran era digital. Dari kisah Salwa, kita belajar bahwa lentera pendidikan tidak selalu dinyalakan oleh mereka yang bergelimang harta. Kadang, ia dinyalakan dari ketulusan hati seorang anak yatim dan doa seorang ibu tangguh yang menolak menyerah pada keadaan. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dhika, SLI
Penyunting: Dedi Fadlil

