Pernahkah kita memegang segelas susu hangat di pagi hari, lalu terdiam sejenak dan bertanya: dari mana sebenarnya kemurnian cairan putih ini berasal? Apakah dari hamparan rumput hijau yang dikunyah sapi? Dari gelapnya kantung lambung mereka? Ataukah dari aliran darah yang memancar di dalam tubuhnya?
Hari ini, jutaan manusia menikmati susu sebagai komoditas harian yang biasa. Kita membelinya di toko, menuangkannya ke sereal, atau meminumnya begitu saja demi kesehatan. Namun, sangat sedikit dari kita yang benar-benar merenungkan mukjizat penciptaan yang teramat presisi di balik setiap tetesnya.

Lebih dari 1.400 tahun yang lalu, ketika mikroskop belum lahir, ilmu kedokteran hewan belum mewujud, dan fisiologi modern masih berupa fiksi, Al-Qur’an telah membedah proses biologis ini secara gamblang.
Allah Swt berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 66:
وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّارِبِينَ
“Dan sungguh, pada hewan-hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kalian. Kami memberi kalian minum dari apa yang ada di dalam perutnya, berupa susu yang murni, yang berada di antara kotoran (farṯs) dan darah, yang mudah ditelan oleh orang-orang yang meminumnya.”
Bila kita perhatikan secara saksama, Allah Swt tidak sekadar berfirman, “Kami menciptakan susu untukmu”. Lebih dalam dari itu, Allah Swt justru menunjuk sebuah “koordinat proses” yang sangat spesifik. Mengapa?

Sains yang Menunduk pada Al-Qur’an
Mari kita bayangkan jika kita hidup di abad ke-7. Di zaman itu, manusia jamak mengira bahwa susu adalah cairan yang langsung jadi begitu saja di dalam organ tubuh hewan. Namun, Al-Qur’an mendobrak pemahaman tersebut dengan membawa frasa yang sangat detail bagi kita مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ (di antara farṯs dan darah).
Kata فَرْثٍ (farṯs) dalam khazanah tafsir klasik, mulai dari Ath-Thabari hingga Ibnu Katsir, tidak diartikan sebagai kotoran yang siap dibuang (baul/ghait). Farṯs adalah chyme yaitu ampas makanan yang sedang dicerna di dalam rumen (lambung) dan usus hewan.

Sains modern baru berabad-abad kemudian berhasil membuktikan kebenaran harfiah dari urutan kronologis ini:
- Fase Farṯs: Sapi memakan rumput, memecahnya di sistem pencernaan, lalu zat gizinya diserap oleh dinding usus.
- Fase Darah: Nutrisi hasil pencernaan tadi masuk ke aliran darah dalam bentuk glukosa, asam amino, dan asam lemak.
- Fase Susu: Darah kemudian mengangkut zat gizi tersebut menuju kelenjar susu (mammary glands). Di sanalah sel-sel epitel menyaring dan merakitnya menjadi susu.
Susu tidak berasal langsung dari darah, tidak pula dari rumput mentah. Ia lahir di antara keduanya. Merah darahnya, penuh bakteri isi ususnya, namun yang keluar ke hadapan kita adalah labanan kholisan—susu yang putih bersih, murni, dan lezat tanpa membawa bau darah maupun kotoran sedikit pun. Masyaallah.

Dari Mukjizat Biologis Menuju Aksi “Titip Sapi Perah”
Bila Allah menaruh perhatian sedemikian detail pada anatomi seekor sapi perah, maka ada amanah besar yang sejatinya dititipkan kepada kita untuk mengelolanya. Ayat ini bukan sekadar bacaan pengantar tidur, melainkan sebuah instruksi untuk bergerak melalui tiga sudut pandang nilai:
Pertama, melawan kelalaian (habituation). Psikologi mengenal istilah habituation, yaitu kecenderungan kita menganggap biasa hal-hal luar biasa yang terjadi berulang-ulang. Karena susu mudah kita peroleh, kita lupa ada pabrik mukjizat yang sedang bekerja keras di dalam tubuh sapi. Melalui program wakaf produktif seperti Titip Sapi Perah, kita diajak menghidupkan kembali tadabbur ini menjadi aksi nyata.
Kedua, menguasai cetak biru nilai tambah (value creation). Secara ekonomi, rumput adalah komoditas berharga murah. Namun melalui sistem pencernaan sapi, ia menjelma menjadi susu yang bernilai tinggi. Hari ini, nilai tambah itu meluas ke tangan kita lewat ekosistem hilirisasi: susu diolah menjadi artisan cheese, yoghurt, hingga mentega bernilai tinggi.
Ketiga, meniru kemurnian susu (Jariyah yang Khalis). Para ulama mengibaratkan susu yang keluar bersih di tengah lingkungan kotor sebagai simbol hati seorang mukmin. Di tengah dunia yang penuh fitnah, harta kita harus tetap bersih. Melalui instrumen Wakaf Mu’aqqat (Temporer), kita dapat mensucikan harta kita dengan menginvestasikannya pada sektor riil yang membawa maslahat murni bagi umat.

Menjawab Krisis Kedaulatan Pangan
Saat ini, bangsa kita sedang menghadapi tantangan besar: 80% kebutuhan susu nasional masih bergantung pada impor, dan kita mengalami kelangkaan populasi sapi perah premium.
Dompet Dhuafa melalui Program Wakaf Produktif Titip Sapi Perah mengundang kita semua untuk membumikan QS. An-Nahl ayat 66 ini. Melalui skema wakaf temporer, kita bersama-sama mengadakan sapi dara bunting (pregnant heifer) unggul yang dikelola secara profesional oleh para peternak lokal.
Ekosistem hilirisasi ini dirancang closed-loop. Hasil perahan susu diserap langsung oleh industri keju artisan sebagai off-taker. Sebesar 50% surplus usahanya dialokasikan langsung untuk program kemaslahatan umat, Beasiswa Talenta Agrinusa bagi anak-anak buruh tani dhuafa. Dan yang paling menarik, setelah jangka waktu 5 tahun, 100% dana pokok wakaf diperhitungkan kembali utuh kepada pewakaf.
Baca juga: Wakaf, Ibadah Sebagai Cara Meninggalkan Legacy Kebaikan yang Tak Terputus

Apabila Allah mampu mengeluarkan susu yang begitu murni dari proses biologis yang rumit, Allah tentu jauh lebih mampu membersihkan harta kita dan mengalirkan pahala jariah tanpa batas dari setiap tetes susu yang diperah. Mari kita ambil bagian dalam menegakkan kedaulatan pangan dan peradaban ekonomi Islam. Karena dari segelas susu yang murni, kita bisa menanam jariah yang abadi. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Prima Hadi Putra, Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil

