Jaga Jejak Peradaban di Tengah Genosida, 12 Situs Palestina Resmi Masuk Daftar Tentatif UNESCO

Aerial view of an archaeological excavation on a rocky hillside with terraces, roads, and nearby buildings.

RAMALLAH — Di tengah gemuruh konflik yang mengancam peninggalan sejarah di Tanah Para Nabi, secercah harapan berembus dari Ramallah. Kementerian Pariwisata dan Purbakala Palestina resmi mengumumkan pendaftaran 12 situs bersejarah baru ke dalam World Heritage Tentative List (Daftar Tentatif Warisan Dunia) UNESCO pada 16 Juli 2026 lalu.

Langkah diplomasi budaya yang digalang bersama Delegasi Tetap Negara Palestina untuk UNESCO ini berhasil menggenapkan total 23 situs warisan Palestina yang kini berada dalam radar perlindungan badan kebudayaan PBB tersebut.

Bagi rakyat Palestina, pencatatan ini bukan sekadar prosedur formal di atas kertas hukum internasional. Di tengah kampanye eskalasi pendudukan yang kian agresif, setiap pilar kuno dan dinding situs yang terdaftar adalah benteng pertahanan untuk melawan upaya penghapusan sejarah.

Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat. (Dok:  Jack Persekian)
Masjid Ibrahimi di Hebron Tepi Barat Dok Jack Persekian

Pencatatan situs-situs bersejarah ke daftar tentatif UNESCO merupakan langkah awal yang krusial menuju status penuh Warisan Dunia (World Heritage Site). Langkah ini membuka peluang kerja sama internasional yang lebih luas dalam hal konservasi, perlindungan, dan pengawasan hukum.

Namun, pencatatan ini dilakukan di bawah bayang-bayang ancaman yang sangat nyata. Pada Juli 2026, Palestina menginisiasi langkah darurat di UNESCO setelah parlemen Israel (Knesset) memajukan rancangan undang-undang yang menempatkan seluruh benda purbakala Tepi Barat di bawah kendali langsung Israel—sebuah bentuk aneksasi de facto untuk mengikis warisan Palestina.

Baca juga: Feliciades Espana! Inilah Deretan Aksi Spanyol Konsisten Suarakan Solidaritas untuk Palestina

Eskalasi ini juga terlihat jelas pada beberapa situs utama yang baru didaftarkan, yaitu:

  1. Sebastia (Nablus Utara): Kota kuno kaya peninggalan era Helenistik, Romawi, Bizantium, hingga Islam yang terus mengalami tekanan klaim sepihak.
  2. Kolam Salomo/Solomon’s Pools (Bethlehem): Tiga waduk batu raksasa bersejarah yang menjadi bagian vital sistem rekayasa air kuno wilayah Yerusalem dan Bethlehem.
  3. Masjid Ibrahimi (Hebron): Kompleks keagamaan bersejarah tempat bersemayamnya makam Nabi Ibrahim as. Pada Juni 2026, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich secara sepihak memindahkan wewenang perencanaan dan konstruksi di sekitar area masjid dari Kotamadya Hebron ke administrasi Israel, merusak perimbangan Perjanjian Hebron 1997.
Kolam Beit Solomo di Artas. (Dok: Jamal Al-Arouri)
Kolam Beit Solomo di Artas Dok Jamal Al Arouri

Upaya mendaftarkan situs-situs di Tepi Barat ini berpacu dengan waktu, mengingat hancurnya warisan budaya di Jalur Gaza. Data Kementerian Kebudayaan Palestina dan UNESCO pada 2025 mengungkapkan penghancuran sistematis terhadap warisan budaya Gaza: lebih dari 100 lembaga budaya, 87 perpustakaan, 12 museum, dan 146 rumah bersejarah hancur total.

Naskah-naskah kuno Masjid Omari dari tahun 1514, arsip kotamadya Gaza berusia 150 tahun, hingga dokumen era Utsmaniyah musnah. Puluhan penyair, seniman, dan budayawan gugur—termasuk Bassem Hassouna, Direktur Kementerian Kebudayaan Gaza. Kementerian menegaskan bahwa pemusnahan ini adalah upaya disengaja untuk membunuh identitas bangsa Palestina dengan menghancurkan kebudayaannya.

Di tengah kehancuran tersebut, muncul kisah ketabahan luar biasa. Laporan The Guardian mengungkap operasi rahasia selama 10 bulan oleh staf UNRWA yang mempertaruhkan nyawa melintasi zona pemboman untuk menyelamatkan jutaan dokumen bersejarah dari Gaza dan Yerusalem Timur.

Baca juga: 1000 Hari Genosida di Palestina: Ketika Dunia Memilih Diam, Kemanusiaan Terus Diuji

Sebelum invasi ke Rafah, staf berhasil menerbangkan arsip-arsip berharga tersebut ke Amman, Yordania. Dokumen yang diselamatkan mencakup kartu registrasi pengungsi asli Nakba 1948, sertifikat kepemilikan tanah, dan kesaksian warga Palestina yang diusir dari tanah mereka. Dokumen-dokumen ini adalah bukti otentik keberadaan dan hak sejarah bangsa Palestina yang coba dihapuskan dari catatan dunia.

Sebastia, kota kuno kaya peninggalan era Romawi. (Dok: Nasser AP)
Sebastia kota kuno kaya peninggalan era Romawi Dok Nasser AP

Pendaftaran 12 situs baru ke daftar tentatif UNESCO ini menegaskan komitmen pantang menyerah dari rakyat Palestina. Pelestarian warisan budaya sejatinya berjalan beriringan dengan penyelamatan jiwa dan nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui diplomasi budaya dan penyelamatan arsip sejarah, Palestina menyampaikan pesan yang jelas kepada dunia: bangunan bisa diruntuhkan dan tanah bisa diduduki, tetapi jejak peradaban, identitas, dan ingatan kolektif suatu bangsa tidak akan pernah bisa dimusnahkan.

Cahaya itu mulai benderang. Ayo terus lantangkan suara solidaritas Palestina melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/daruratpalestina. (Dompet Dhuafa)

Penulis: Andhika Satria Prabowo