8 Bulan Hamil, Juliana Bertahan di Pengungsian Bireuen Aceh

ACEH — Malam itu, Juliana (26) masih sempat menarik napas lega. Air belum juga masuk ke rumahnya di Gampong Kubu, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Bersama warga lain, ia mengira kampung mereka aman. Banjir hanya lewat, seperti cerita-cerita lama yang sering berhenti sebelum benar-benar singgah.

Namun, pagi menghapus semua keyakinan itu. Air datang pelan, dingin, dan tak bisa ditawar. Dari mata kaki, naik ke lutut, lalu lumpur mengikuti. Orang-orang berbondong-bondong menyelamatkan diri ke Meunasah Kubu, satu-satunya tempat yang masih memberi rasa aman. Rumah Juliana tak luput. Lumpur setinggi pinggang orang dewasa merayap masuk, menutup lantai, dinding, mengubur barang-barang dan sisa-sisa harapan yang sempat ia simpan.

Saat itu, Juliana tengah hamil besar. Delapan bulan. Ia tak banyak bergerak. Di meunasah, ia lebih sering duduk diam, memeluk anaknya yang baru berusia tiga tahun. Sementara sang suami mondar-mandir, mencari kabar, mencari bantuan, mencari apa pun yang bisa menyelamatkan keluarganya dari ketidakpastian.

Juliana (kiri), Fadel (tengah), dan Helmi (kanan) berbincang tentang kondisi banjir di Gampong Kubu.
Juliana kiri Fadel tengah dan Helmi kanan berbincang tentang kondisi banjir di Gampong Kubu

Baca juga: Kisah Kuli Panggul Kayu di Tenda Pengungsian saat Ramadan: Tak Sebahagia Tahun Lalu

Tak ada satu pun rumah yang tidak terdampak. Helmi, Sekretaris Gampong Kubu, menyebut bahwa ada 782 jiwa dari 239 kepala keluarga yang terdampak banjir. Semua mengungsi. Lumpur merata, tak pilih-pilih.

“Lumpur di dalam rumah sama tingginya dengan di luar,” ujarnya.

“Mau dibuang ke mana? Kalau hujan, masuk lagi,” imbuhnya.

Butuh waktu tiga minggu yang panjang. Baru setelah itu warga berani kembali, menyingkirkan lumpur perlahan, membersihkan satu ruang ke ruang lain, hingga rumah-rumah mulai bisa ditempati kembali.

Di tengah situasi itu, Juliana harus memikirkan satu hal lain yang tak bisa menunggu, yaitu persalinan. Ia sempat memeriksakan diri ke bidan di gampong sebelah yang juga terdampak, namun tetap membuka layanan. Saat waktu melahirkan tiba, Juliana dibawa ke bidan yang lebih dekat. Syukurnya, ia masih bisa melahirkan di ruang persalinan, bukan di pengungsian.

Juliana bersama anak pertamanya menerima bantuan baby kit.
Juliana bersama anak pertamanya menerima bantuan baby kit
Paket baby kit oleh para mitra kebaikan melalui Domopet Dhuafa.
Paket baby kit oleh para mitra kebaikan melalui Domopet Dhuafa

Kini Juliana sudah kembali ke rumahnya. Dinding-dinding yang sempat dilumuri lumpur telah dibersihkan oleh sang suami dibantu oleh warga sekitar. Rumah itu kembali dihuni, meski belum sepenuhnya pulih. Bayinya baru berusia satu bulan. Kebutuhan masih banyak. Tubuhnya sendiri masih dalam masa pemulihan.

Baca juga: Akses Kesehatan Pascabencana Hari ke-57 Masih Sulit Dijangkau, Dompet Dhuafa di Aceh Tengah Jemput Bola Hadirkan Pos Medis

Atas kondisi ini lah, pada Jumat (13/02/2026), Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan perlengkapan bayi (baby kit) kepada para ibu terdampak banjir di Aceh. Juliana menjadi salah satu penerimanya. Bantuan sederhana, namun semoga berarti bagi mereka agar merasa bahwa mereka tidak sendirian.

Fadel Aldimas, Digital Partnership Dompet Dhuafa, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan titipan dari para mitra yang mempercayakan amanahnya untuk masyarakat terdampak banjir di Aceh. Titipan kepedulian, yang kemudian berwujud menjadi harapan kecil di tengah sisa-sisa lumpur.

Bagi Juliana, hari-hari ke depan masih akan berat. Namun kini, di rumah yang kembali ditempati, dengan bayi yang tertidur di pelukannya, ia memiliki keyakinan bahwa hidup masih bisa disusun ulang, meski pernah terendam sampai pinggang. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika