Warga Sempat Alami Kekeringan, Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli Bangun Sumur Air di Desa Cupang dan Guwa Kidul, Cirebon

Tim Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli meresmikan lokasi pertama Sumur Air di Desa Cupang, Kecamatan Gempol, Cirebon, Jawa Barat pada Rabu (19/2/2025).

CIREBON, JAWA BARAT — Saat musim kemarau melanda, beberapa titik di Indonesia mengalami kekeringan ekstrem. Utamanya pada daerah dengan minim resapan air, seperti Desa Cupang dan Desa Guwa Kidul yang terletak pada Kecamatan Gempol, Cirebon, Jawa Barat. Merespons hal ini, Dompet Dhuafa bersama Samudera Peduli hadirkan Sumur Air sebagai solusi atasi kekeringan tersebut.

Peresmian Sumur Air pada dua titik tersebut dihelat pada Rabu (19/2/2025) di Kantor Desa Cupang. Dengan antusiasme yang tinggi, para warga berbondong menghadiri acara tersebut. Acara tersebut dihadiri oleh Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Barat, Yogi Achmad Fajar; Kepala Lembaga Pengebangan dan Investasi Wakaf Dompet Dhuafa, Prima Hadi Putra; General Manager Fundraising Wakaf Dompet Dhuafa, Ali Bastoni.

Sosialisasi mengenai kehadiran Sumur Air sebagai salah satu program wakaf oleh Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli di Kantor Desa Cupang, Kecamatan Gempol, Cirebon pada Rabu (19/2/2025).
Sosialisasi mengenai kehadiran Sumur Air sebagai salah satu program wakaf oleh Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli di Kantor Desa Cupang Kecamatan Gempol Cirebon pada Rabu 1922025
Antusiasme tinggi warga yang hadir dalam acara peresmian Sumur Air Dompet DHuafa dan Samudera Peduli.
Antusiasme tinggi warga yang hadir dalam acara peresmian Sumur Air Dompet DHuafa dan Samudera Peduli

Sementara itu, dari pihak Yayasan Samudera Peduli, turut hadir Dewan Pengurus dan Manager Program, yakni Artika Fasya dan Rismeita Fitri Setiyanti, serta dari pihak warga diwakilkan oleh Kepala Desa Cupang, Karji; serta perwakilan pengelola kelompok air bersih Desa Guwa Kidul, Ghufron.

Dewan Pengurus Yayasan Samudera Peduli, Artika Fasya, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas kolaborasi peresmian Sumur Air di Desa Cupang dan Desa Guwa Kidul kepada semua pihak yang terlibat. Ia berpesan agar aset Sumur Air ini dapat digunakan dengan semestinya dan menjadi sumber keberkahan bagi banyak pihak, terutama warga setempat.

Baca juga: Wujudkan Semangat Santri Beribadah, Dompet Dhuafa Bangun Sumur Air Untuk Kehidupan

Tim Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli meresmikan lokasi pertama Sumur Air di Desa Cupang, Kecamatan Gempol, Cirebon, Jawa Barat pada Rabu (19/2/2025).
Tim Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli meresmikan lokasi pertama Sumur Air di Desa Cupang Kecamatan Gempol Cirebon Jawa Barat pada Rabu 1922025
Kepala Desa Cupang bersama tim Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli melakukan sosialisasi kepada warga Desa Cupang terkait aliran air yang akan disalurkan ke rumah-rumah penduduk.
Kepala Desa Cupang bersama tim Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli melakukan sosialisasi kepada warga Desa Cupang terkait aliran air yang akan disalurkan ke rumah rumah penduduk
Toren yang menjadi penampung air sebanyak 5000 liter yang akan dialirkan ke 90 Saluran Rumah (SR) dan satu mushola di Desa Cupang.
Toren yang menjadi penampung air sebanyak 5000 liter yang akan dialirkan ke 90 Saluran Rumah SR dan satu musala di Desa Cupang

“Setelah dilakukan asesmen oleh pihak kami dan Dompet Dhuafa, akhirnya ditemukanlah dua titik yang sangat membutuhkan air bersih. Banyak pihak yang terlibat, termasuk warga. Semoga sumber air bersih melalui Sumur Air ini dapat membuka keberkahan juga bagi warga, bagi Pak Sanusi selaku pewakif, juga Samudera Peduli dan Dompet Dhuafa,” tuturnya.

Wakaf Sumur Air Atasi Kekeringan di Desa Cupang Cirebon

Desa Cupang memiliki tipologi tanah dengan bebatuan kapur menjadi alasan mengapa daerah ini mengalami kekeringan. Tanah yang minim resapan ini juga dikelilingi oleh pertambangan yang membuat sumber air utama semakin mengering. Salah satu warga, Castini (40) mengaku hanya ada satu sumber mata air untuk warga sekitar.

“Kami mengisi air bergiliran, satu orang diberi durasi satu jam. Itu hanya dapat satu ember. Nggak cukup untuk nyuci, kadang anak saya nggak bisa mandi, karena nggak ada air,” jelas Castini.

Merespons permasalahan tersebut, Pimpinan Dompet Dhuafa Jawa Barat sekaligus pelaksana program, Yogi Achmad Fajar menuturkan bahwa pihaknya bersama tim Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli melakukan asesmen ke beberapa titik sumur menggunakan metode geolistrik. Tak disangka, penemuan sumber air berada di pekarangan rumah Sanusi (45), seorang warga Desa Cupang yang kemudian mewakafkan tanahnya untuk menjadi sumber air bersih masyarakat di sana.

Atas kolaborasi Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli mengerahkan tenaga ahli untuk memulai proses penggalian selama 45 hari. Dengan kedalaman 30 meter, sumur tersebut mampu mengeluarkan air sebanyak 2 liter per detik yang terkumpul dalam toren yang berkapasitas 5000 liter. Sumur tersebut memiliki 90 Sambungan Rumah (SR) yang meliputi 100 Keluarga dan satu musala.

Baca juga: Dompet Dhuafa Bangun Sumur Air untuk Kehidupan bagi Warga Puuwatu Sulawesi Tenggara

Kondisi air yang lebih bersih daripada sebelumnya di rumah salah satu penerima manfaat, Castini (40) yang merupakan Ibu Rumah Tangga.
Kondisi air yang lebih bersih daripada sebelumnya di rumah salah satu penerima manfaat Castini 40 yang merupakan Ibu Rumah Tangga
Castini (40) dapat berkegiatan dengan tenang tanpa khawatir kekurangan air.
Castini 40 dapat berkegiatan dengan tenang tanpa khawatir kekurangan air

Kini warga Desa Cupang dapat mengakses air bersih secara langsung dan gratis melalui SR yang telah tersambung ke rumah mereka. Sanusi sebagai pewakif tanah sekaligus penerima manfaat menyampaikan, saat ini pengaliran air bersih menjadi melimpah. Kini, kurang dari satu jam saja, toren sudah terisi penuh.

“Setelah tau di belakang rumah saya terdapat titik sumber air, saya langsung mengikhlaskan tanah saya dibangun sumur untuk sumber air masyarakat. Ini demi kebaikan bersama dalam menghadapi kemarau. Saya sangat berterima kasih kepada Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli yang mewujudkan ini (Sumur Air). Wah, sekarang airnya sangat melimpah, berbeda dengan dulu,” tutur Sanusi bersemangat.

Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli bersama warga meresmikan Sumur Air yang akan menjadi sumber penghidupan Desa Cupang ke depannya.
Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli bersama warga meresmikan Sumur Air yang akan menjadi sumber penghidupan Desa Cupang ke depannya

Kepala Lembaga Pengebangan dan Investasi Wakaf Dompet Dhuafa, Prima Hadi Putra menjelaskan bahwa peresmian Sumur Air ini merupakan ekosistem wakaf yang hasilnya merupakan Layanan Program Air Bersih. Wakaf sendiri merupakan pemisahan harta benda berupa aset yang kemudian digunakan untuk kebermanfaatan luas dan lestari.

“Tentu ini menjadi amal jariyah bagi teman-teman dari Samudera Peduli. Sumur ini akan bermanfaat bagi warga sekitar. Pertemuan Samudera Peduli dan Pak Sanusi melahirkan keberkahan yang berlipat ganda. Lebih jauh lagi, wakaf ini juga dapat berkembang menjadi produktif dan memberdayakan masyarakat sekitar. Semoga dapat merambah ke titik lain,”  jelasnya.

Wakaf Produktif sebagai Langkah Strategis Berdayakan Warga Setempat

Desa Guwa Kidul, menjadi titik kedua pembangunan Sumur Air oleh Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli. Berbeda dengan Sumur Air di Desa Cupang, kali ini Dompet Dhuafa menggandeng Kelompok Kerja Masyarakat (KKM) Sumber Toya yang sebelumnya bertanggung jawab mengelola pemanfaatan sumber air resapan sejak tahun 2019. KKM ini berdiri independen untuk mengakomodir kepentingan air masyarakat setempat.

Sebelumnya sumber air andalan Desa Guwa Kidul ini tak mencukupi kebutuhan penduduk yang memiliki 340 SR, tiga pondok pesantren, satu sekolah, enam musala. Namun, Rifah selaku Sekretaris KKM Sumber Toya menyampaikan pompa air yang pihaknya kelola hanya menghasilkan sedikit air dan keruh.

Tim Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli meresmikan lokasi kedua Sumur Air di Desa Guwa Kidul, Kecamatan Gempol, Cirebon, Jawa Barat pada Rabu (19/2/2025).
Tim Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli meresmikan lokasi kedua Sumur Air di Desa Guwa Kidul Kecamatan Gempol Cirebon Jawa Barat pada Rabu 1922025
Dari Kiri: Sekretaris dan Ketua KKM Sumber Toya, Rifah dan Ghufron yang menjadi local leader untuk mengelola air bersama warga Desa Guwa Kidul.
Dari Kiri Sekretaris dan Ketua KKM Sumber Toya Rifah dan Ghufron yang menjadi local leader untuk mengelola air bersama warga Desa Guwa Kidul

Dengan kondisi seperti itu, Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli melalui program wakaf Layanan Air Bersih, kemudian melakukan asesmen yang berlanjut pada proses pembangunan Sumur Air dengan kedalaman 50 meter. Sumur Air tersebut menghasilkan air sebanyak 4 liter per detik.

Rifah menjelaskan bahwa pihaknya menetapkan harga untuk air bersih. Sebab pengelolaan air membutuhkan biaya listrik, tenaga ahli dan biaya perawatan pompa. Ia menyerap tenaga kerja dari penduduk asli Guwa Kidul. Pihaknya pun membayar upah pekerja sesuai surplus yang didapat. Tentu ini membuat wakaf aset Sumur Air dari Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli bersifat produktif dan memberdayakan warga sekitar.

“Semula 340 SR, sekarang jadi 350 SR. Kami menetapkan harga yang berjenjang atau subsidi silang. Kita menyesuaikan kondisi ekonominya. Dengan harga 10 liter pertama seharga 3 ribu, kemudian ada 4 ribu berikutnya 5 ribu. Untuk pesantren dan sekolah kami menetapkan di harga 4 ribu. Terkadang ada masyarakat yang menurun daya ekonominya, biasanya kami berikan keringanan untuk membayar di waktu yang lain,” jelas Rifah.

Baca juga: Dirikan Sarana Ibadah, MCK, Hingga Sumur Air Bersih untuk Penyintas Gempa Sulbar

Aldo (11) merasa gembira akhirnya dapat menggunakan air bersih untuk berwudhu.
Aldo 11 merasa gembira akhirnya dapat menggunakan air bersih untuk berwudu
Aldo bersama teman-temannya usai berwudhu dan akan menunaikan salat jamaah di mushola setempat.
Aldo bersama teman temannya usai berwudu dan akan menunaikan salat jemaah di musala setempat

Abdul Muhaimin Mas’ud selaku pengelola pondok pesantren Al-Fatimah Guwa Kidul sekaligus penerima manfaat menyampaikan, sebelumnya ia tak dapat mengandalkan sepenuhnya pompa air milik KKM Sumber Toya. Sebab pompa tersebut hanya mengeluarkan sedikit air. Hal ini membuat pihaknya membeli air dari tempat lain dengan harga yang sangat mahal.

“Suka ada yang jual air per tangki. Harganya 150 ribu (per tangki). Di sini ada 50 santri dan menghabiskan 6 tangki dalam seminggu. Sejak ada bantuan pompa air dari Dompet Dhuafa dan Samudera Peduli, kami hanya membayar 700 ribu sampai sejuta saja. Lebih hemat. Air pun juga lancar dan bersih. Berkegiatan salat jemaah dan kegiatan produktif lainnya jadi lebih mudah,” jelas pria yang akrab dipanggil Ustaz Abdul.

Aldo, salah satu murid didik Ustaz Abdul bercerita. Ia dan teman-teman kerap tak sempat mandi sebelum sekolah. Sesekali ia kesulitan mencari air untuk berwudu untuk menunaikan salat berjemaah.

“Iya, pernah nggak mandi. Kadang kalo salat jemaah juga susah, jadinya wudu di musala lain,” ungkap Aldo yang kini duduk di bangku kelas 5 SD.

Di akhir, Rifah berharap program wakaf ini dapat menghasilkan surplus yang baik untuk kesejahteraan masyarakat sendiri. Serta terbukanya kesempatan bagi titik-titik kawasan kering di wilayah Indonesia lainnya. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Hany Fatihah Ahmad
Penyunting: Dhika