SOLOK, SUMATRA BARAT — Saat matahari mulai bergeser ke Barat dan angin dingin khas dataran tinggi Sirukam mulai berembus, Herdianto (45), masih sibuk di kandang. Tangan kasarnya menggenggam alat pengeruk kotoran, sementara matanya tak lepas mengawasi enam sapi yang jadi tanggung jawabnya.
Tiga tahun sudah Herdianto menjadi bagian dari Program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa di DD Farm Solok Sirukam, Sumatra Barat. Dahulu ia adalah peternak ayam broiler. Namun, saat kesempatan terbuka lewat Program THK, ia tak ragu mengalihkan hidupnya untuk beternak sapi. Keputusan itu ternyata menjadi titik balik dalam hidup Herdianto.
“Saya tertarik karena program ini jelas dan dampaknya bagus, bisa memberdayakan masyarakat. Kita ditawari dengan SOP dan standarnya, programnya bagus kita bergabung,” ujarnya penuh semangat.


Mereka, para peternak, adalah sosok yang bangun sebelum fajar dan bekerja hingga senja,. Mereka memastikan heawn-hewan ternaknya mendapatkan perawatan terbaik dan tumbuh dengan sehat. Termasuk Herdianto, ia tidak hanya bekerja untuk hari ini, tetapi juga keberlanjutan di masa mendatang.
“Kita mulai dari datang itu cek kondisi sapi. Kalau pagi (kita memperhatikan) bagaimana reaksi interaksi sapi saat kita datang, apa sapi ini ada respons saat kita datang atau engga? Kita perhatikan sapi dulu, kita kasih pakan, sudah. Lalu bersihin kandang sama mandiin sapi. Kalau dalam satu hari kasih makan dua kali, pagi sama sore. Paginya paling lambat dari setengah sepuluh pagi kita sudah kasih makan. Kalau sore ini di jam enam,” tuturnya.
Baca juga: DD Farm Madiun Jadi Jembatan Ilmu bagi Para Peternak Lokal



Program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa menjadi pilar penting dan harapan bagi para peternak lokal. Melalui program ini, Dompet Dhuafa mampu meningkatkan perekonomian dan menggerakkan roda kehidupan mereka.
Herdianto merawat semua hewan ternaknya dengan telaten. Mulai dari memberi pakan dua kali sehari, memandikan sapi, hingga memastikan kandang tetap bersih dan nyaman. Sebelumnya, ia mengalami masa-masa sulit, terutama terkait biaya sekolah anaknya. Terpaksa meminjam ke sana kemari, ia harus mencari solusi yang pasti. Namun dengan adanya sapi, ia kini memiliki jaminan finansial yang dapat diandalkan.
Kini, Herdianto tak lagi harus meminjam uang ke sana ke mari saat anaknya butuh biaya sekolah. Ia punya “pegangan”. Sapi-sapi yang dipeliharanya jadi tabungan hidup yang bisa diandalkan saat genting. Bahkan, ketika sang istri jatuh sakit dan harus opname karena kista, ia tetap bisa bertahan berkat keberadaan sapi-sapi itu.
“Secara ekonomi ada peningkatan, adalah. Yang sekarang kita tekuni, ekonomi merasa terbantu kalau kita memelihara sapi. Buat anak sekolah, mau bikin rumah, bisa,” imbuh Herdianto.

Baca juga: Pemuda Asal Lampung Ini Memiliki Peternakan Sendiri: Bermula dari Anak Kandang
Di balik kandang, tersimpan kisah tentang ketekunan, harapan, dan keberhasilan para peternak. Herdianto adalah bukti nyata bahwa Kurban Sengaruh Itu! Hewan kurban bukan hanya memberi gizi sesaat, tapi juga harapan yang tumbuh perlahan. Memberdayakan peternak lokal dan menyebar manfaat setelah Iduladha berlalu. Karena kurban yang bermakna, bukan hanya terasa tapi berdampak digital.dompetdhuafa.org/kurban. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Dhika

