JAWA BARAT — Deretan greenhouse berdiri kokoh dengan dinding transparan yang tertembus cahaya matahari sore. Di dalamnya, barisan tanaman melon tersusun rapi di polibag-polibag hitam, menjalar ke atas dengan bantuan tali. Udara lembab bercampur aroma segar dedaunan. Di antara tanaman-tanaman itu, tampak Samsul Huda, seorang pria paruh baya, tengah memangkas daun-daun kering sambil sesekali tersenyum senang.
Sudah lebih dari dua tahun terakhir, Samsul menekuni budi daya melon hidroponik melalui program pemberdayaan zakat yang disalurkan oleh Dompet Dhuafa. Kini ia menjadi salah satu anggota kelompok Melon Langensari yang beranggotakan 12 orang.
Sebelum bergabung, hidup Samsul jauh berbeda. Ia bekerja sebagai penjaga rumah makan di Banjar. Pekerjaan itu memberinya penghasilan, namun tak seberapa untuk menopang kehidupan keluarga kecilnya.
“Waktu itu, pernah jaga rumah makan sama kerja-kerja serabutan. Penghasilan tidak menentu. Sampai akhirnya Pak Elan mengajak saya ikut tanam melon,” kisahnya, Selasa (23/9/2025).
Baca juga: Petani Melon Elan Buktikan Amanah Zakat Mampu Perluas Manfaat



Meski ragu karena sama sekali tidak tahu tentang budi daya melon, Samsul memberanikan diri mengiyakan jadi petani. Awalnya ia tak mengerti sama sekali tentang melon. Meski dirinya dulu adalah seorang petani, namun itu belum cukup. Pertanian sebenarnya bukan hal asing. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan petani. Namun, yang biasa digarap warga Banjar adalah padi, jagung, atau pepaya.
“Melon? Apalagi pakai greenhouse dan hidroponik, itu hal baru buat kami. Mulai dari bibit, media tanam, sampai panen, saya tidak tahu. Semua diajarkan Pak Elan dari nol,” tuturnya.
Hari-hari pertama terasa berat. Ia harus belajar mengenali bibit melon berkualitas, menyiapkan media tanam, menyemai, hingga memahami cara mengikat tanaman agar tidak roboh. Setiap langkah penuh kehati-hatian. Namun, perlahan, keterampilan itu tertanam di tangannya. Kini, ia bisa melakukannya dengan percaya diri.
Di sela perbincangan, Samsul menunjuk deretan buah melon yang mulai membesar, menggantung manis di batang.
“Sukanya ya ini, kalau lihat hasil panen bagus. Rasanya puas sekali. Tapi kalau ada banyak yang gagal, itu yang bikin sedih,” ungkapnya.
Namun ia tetap bersyukur. Dari hasil bertani melon, Samsul kini mampu menyekolahkan dua anaknya. Anak pertama duduk di SMP, dan si bungsu baru berusia dua tahun.
“Saya menikmati kerjaan ini karena memang senang. Alhamdulillah, hasilnya juga selalu untung. Bisa untuk biaya sekolah anak-anak,” ujarnya sambil tersenyum.



Saat ini, Samsul bersama kelompoknya membudidayakan lima varietas melon: Inthanon, Sweet Honey, Sweet Net, Lavender, dan Demulsen. Varietas itu dipilih sesuai permintaan pasar.
“Karena minat pasar tinggi dan harga jualnya bagus,” jelasnya.
Dari kelima jenis tersebut, Inthanon menjadi favoritnya. menurutnya, dagingnya lembut, manis, dan lebih tahan lama. Kalau disimpan, tidak cepat busuk. Itu yang membuatnya paling disuka.
Satu unit greenhouse yang dikelola kelompok mampu menampung 700 polibag. Setiap polibag diisi dua tanaman, sehingga total ada sekitar 1.400 tanaman per greenhouse. Meski ada risiko kegagalan sekitar 10–20 persen, menurut Samsul hal itu masih wajar dalam dunia pertanian.
Setiap pekan, suasana greenhouse menjadi lebih ramai. Anggota kelompok berkumpul, berdiskusi, dan saling bertukar pengalaman. Ada yang mengeluhkan hama, ada pula yang berbagi teknik baru dalam perawatan.
“Kalau ada masalah, kami diskusi bareng. Jadi semua saling bantu, tidak ada yang merasa sendiri,” kata Samsul.
Elan Maulana, sang ketua kelompok, selalu hadir membawa pembaruan ilmu dan teknologi pertanian. Kadang mereka belajar cara irigasi tetes yang lebih efisien, kadang tentang cara menjaga kelembapan greenhouse. Semua dilakukan demi meningkatkan kualitas panen dan menjaga kepercayaan para donatur zakat.
Baca juga: Gairah Kembali, Pak Ade Petani Nanas Bangkit Lewat IKON Dompet Dhuafa



Ditanya soal harapan, Samsul menatap deretan greenhouse. “Saya ingin hasilnya semakin bagus, penjualannya lancar, dan bisa terus memberi manfaat. Bukan cuma untuk keluarga saya, tapi juga untuk orang-orang sekitar,” ucapnya lirih.
Kini, dari seorang penjaga rumah makan, Samsul Huda bertransformasi menjadi petani melon hidroponik yang mandiri. Perjalanannya membuktikan bahwa zakat yang dikelola dengan baik bisa menumbuhkan lebih dari sekadar hasil panen. Zakat mampu menumbuhkan masa depan, kesejahteraan, dan harapan yang lebih luas.
Cerita Samsul hanyalah satu dari ribuan kisah penerima manfaat zakat yang kini hidup lebih sejahtera berkat kepedulian donatur. Dari setiap rupiah zakat yang Anda tunaikan, lahir peluang usaha, terbuka lapangan kerja, dan tumbuh harapan baru bagi keluarga-keluarga di pelosok negeri.
Mari ambil bagian dalam kebaikan ini. Tunaikan zakat Anda melalui Dompet Dhuafa, agar semakin banyak “Samsul-Samsul lain” yang bisa bangkit, berdaya, dan mandiri. (Dompet Dhuafa)
Klik di sini untuk berzakat: dompetdhuafa.org/zakat
Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika

