Gemerlap dunia terkadang membuat kita lupa dengan kematian. Padahal kematian tak selalu datang saat usia sudah senja, bisa jadi saat kita masih muda dan tampak sehat juga bugar. Tapi yang paling penting dari itu, jangan sampai kita menghadapi kematian dalam kondisi yang buruk. Kita harus memastikan akhir hidup kita bisa mencapai husnul khotimah atau akhir yang baik dan diridai Allah Swt.
Setiap orang tentu menginginkan kematiannya husnul khotimah. Namun, tak semua memahami apa maknanya, bagaimana tingkatan-tingkatannya, dan langkah apa yang dapat membawa kita ke sana. Sahabat, mari kita renungi hakikat husnul khotimah dan bagaimana kita dapat mempersiapkannya sejak hari ini.
Apa Itu Husnul Khotimah?
Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk memahami lebih dulu apa makna husnul khotimah. Banyak yang mengira istilah ini sekadar “meninggal dalam keadaan baik”, padahal lebih dari itu. Husnul khotimah tidak hanya soal detik terakhir seseorang, tetapi juga tentang seluruh perjalanan hidup yang mengantarkannya pada rida Allah di penghujung usia. Dengan memahami maknanya, kita bisa menilai di mana posisi kita saat ini dan apa yang perlu diperbaiki untuk meraih husnul khotimah.
Husnul khotimah berasal dari Bahasa Arab, husnul berarti baik dan khotimah berarti akhir. Istilah husnul khotimah digunakan untuk mengungkapkan akhir kehidupan seseorang yang baik atau kondisi seseorang yang baik saat menghadapi kematian. Dalam Bahasa Indonesia, penulisan baku husnul khotimah adalah husnulkhatimah dan memiliki arti penutupan akhir hidup yang baik dari seseorang atau akhir hayat yang baik dari seseorang.
Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa husnul khotimah adalah kondisi di mana Allah Swt memberikan taufik kepada seorang hamba agar menjauhkan diri dari hal-hal yang dibenci-Nya, menyesali dan bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat, serta bergegas dan istikamah dalam ketaatan dan amal saleh. Sehingga, jika orang tersebut wafat, maka ia telah ada dalam kondisi baik atau husnul khotimah.
Baca juga: Tanda-Tanda Orang Meninggal dalam Islam Sebagai Ikhtiar Persiapan
Tingkatan Husnul Khotimah dalam Islam
Abdul Latif Abdullah Al-Jibrini—penulis modern dari Arab Saudi yang fokus pada pengajaran moral, akhlak, dan refleksi spiritual—menjelaskan dalam karyanya berjudul Al-Khatimah bahwa husnul khotimah memiliki tiga tingkatan. Apa sajakah itu?
1. Mati dalam Keadaan Menjaga Iman Islam
Menurut pendapat Al-Jibrini, seorang muslim bisa dikategorikan meninggal dalam keadaan husnul khotimah apabila ia masih memeluk Islam saat wafat. Sekalipun kualitas ibadah sehari-harinya masih terbilang jauh dari kata sempurna. Hal ini didasarkan pada firman Allah berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
(QS. Ali Imran: 102)
2. Mati dalam Keadaan Menjaga Ibadah Wajib dan Sunah
Menjaga ibadah-ibadah wajib dan sunah adalah hal yang Allah Swt sukai. Dalam sebuah hadis Qudsi riwayat Imam Al-Bukhari dari Sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah berkata bahwa Allah berfirman: “…Tidak ada taqarrub-nya seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai kecuali beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara dunah di luar yang fardu) maka Aku akan mencintainya”.
3. Mampu Melafazkan Kalimat Tauhid di Akhir Hidupnya
Seorang muslim yang mampu menjaga ibadah wajib dan sunahnya, serta di akhir hayatnya dapat melafazkan kalimat tauhid, maka ia termasuk wafat dalam keadaan husnul khotimah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra: “Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘laa ilaaha illallah’, maka dia akan masuk surga”.
Sahabat, dengan penjelasan tersebut, bisa kita pahami bersama bahwa seseorang sudah bisa dikatakan wafat dalam keadaan husnul khotimah bila ia masih berpegang teguh pada keyakinannya sebagai seorang muslim. Namun, jauh lebih utama bila keyakinan itu tercermin dalam praktik beragama sehari-hari, dan menjalankannya dengan istikamah. Insyaallah akan didapatkan husnul khotimah tingkatan ketiga di mana ia bisa melafazkan kalimat tauhid dengan mudah dan lancar.

Cara Mencapai Husnul Khotimah
Husnul khotimah hendaknya senantiasa diusahakan oleh siapa pun yang menginginkan surga dan kekal di dalamnya. Husnul khotimah tidak hanya harus diupayakan secara terus-menerus, tetapi juga harus selalu kita doakan dan mintakan kepada Allah Swt agar Dia memberikannya.
Untuk menggapai kondisi itu pun tidaklah mudah, sebab setan bisa saja mengambil kesempatan di akhir hidup kita. Setan bisa saja berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkan manusia dengan segala cara. Nah, agar terhindar dari godaan setan itu, Rasulullah telah memberikan tuntunan kepada umatnya, yakni doa memohon agar Allah selalu menetapkan hati kita untuk terus beriman pada-Nya sampai akhir hayat. Doa tersebut ada dalam Al-Qur’an:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).”
(QS. Ali-Imran: 8)
Baca juga: Sudah Meninggal Dunia tapi Hutang Belum Lunas, Bagaimana Hukumnya?
Menurut Imam Sufyan Al-Tsauri, ada empat cara mencapai husnul khotimah, antara lain:
1. Menjaga Iman dan Takwa dengan Istikamah
Barang siapa yang ingin iman dan ketakwaannya terjadi, hendaknya ia sungguh-sungguh menjauhi hal-hal yang bisa merusak iman dan takwanya.
Ia harus bertaubat dari segala dosa dan kemaksiatan, utamanya terhadap syirik. Ini bisa dicapai salah satunya dengan membaca doa seperti yang Rasulullah Saw ajarkan:
“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu), sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepadamu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.”
2. Berusaha Memperbaiki Lahir dan Batin
Semua niat beramal saleh hendaknya benar-benar bersih secara lahir dan batin. Tidak ada niat dalam beribadah kecuali hanya untuk mencari rida Allah Swt. Hal ini sesuai dengan doa iftitah yang selalu kita ucapkan dalam salat:
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
3. Tidak Lelah Berdoa
Kita perlu senantiasa dan istikamah berdoa agar diwafatkan dalam keadaan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Yusuf memberikan contoh doa memohon husnul khotimah yang tertera dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 101:
“…Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
4. Senantiasa Berzikir
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat di atas menegaskan bahwa Allah berjanji kepada siapa pun yang senantiasa mengingat-Nya (berzikir), maka Allah pun akan terus mengingat orang tersebut. Allah juga akan selalu memberinya petunjuk dan pertolongan, hingga ia dapat meninggal dalam keadaan mengingat-Nya.
Semoga kita semua senantiasa mendapat hidayah dari Allah Swt untuk bisa menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Semoga saat ajal tiba, kita tetap berada dalam iman, islam, dan ihsan, sehingga kita dapat meninggal dalam keadaan husnul khotimah yang diimpikan oleh setiap muslim.
Memupuk Amal Saleh Semasa Hidup
Pada akhirnya, husnul khotimah bukan hanya tentang meninggal dalam keadaan baik, tetapi juga tentang bagaimana kita menyiapkan bekal terbaik selama hidup. Salah satu jalan yang paling lembut namun berdampak besar adalah dengan memperbanyak sedekah. Dari setiap rupiah yang kita keluarkan, ada keberkahan yang dapat menumbuhkan ketenangan hati dan menjadi cahaya di hari perhitungan kelak.
Maka Sahabat, selagi waktu masih berpihak, mari kita jadikan sedekah sebagai kebiasaan, bukan sekadar kebaikan sesekali—agar akhir hidup kita bisa berakhir dalam rida dan kasih sayang Allah. Yuk, sedekah bareng Dompet Dhuafa! (RQA)

