Fenomena fatherless tidak terjadi hanya saat ayah tidak ada secara fisik, tetapi juga saat ia hadir namun tidak terlibat dalam pengasuhan. Anak yang tumbuh tanpa peran ayah berisiko mengalami hambatan emosi dan sosial. Untuk itu, Islam menempatkan peran ayah sebagai tugas mulia yang harus dijalankan dengan kesadaran penuh. Al-Qur’an pun menghadirkan banyak contoh sifat ayah ideal, yakni dekat, lembut, dan aktif dalam membimbing anak-anak. Teladan ini menjadi dasar agar anak tumbuh dengan hati yang kuat dan jiwa yang stabil.
Dalam Islam, seorang ayah dibentuk oleh sifat-sifat utama. Ia dituntut untuk menjadi teladan yang baik, penuh kasih, dan adil dalam setiap keputusan. Ia juga perlu komunikatif, hadir dalam interaksi berkualitas, dan bijaksana. Tidak kalah penting, seorang ayah dianjurkan untuk rajin berdoa demi kebaikan putra-putrinya. Sifat ayah yang seperti inilah yang bisa menjaga anak dari kekosongan peran ayah dan menumbuhkan rasa aman dalam diri mereka.
Sifat Ayah Ideal dalam Qur’an
Sifat-sifat ayah yang ideal bisa diketahui dari beberapa ayat dalam surah Yusuf yang secara langsung menceritakan interaksi antara Nabi Yaqub sebagai seorang ayah dengan putra-putranya, terutama Nabi Yusuf. Melalui ayat-ayat dalam Surah Yusuf, kita bisa mengambil pesan terkait sifat ayah ideal yang dimiliki Nabi Yaqub.
Dari dialog-dialog antara Nabi Yaqub dengan putra-putranya dalam Surah Yusuf, bisa ditemukan setidaknya sembilan sifat ayah ideal dalam diri Nabi Yaqub, antara lain:
1. Penuh Cinta dan Kasih Terhadap Anak
Sikap penuh cinta antara anak dan ayah diperlihatkan dalam Surah Yusuf ayat 4 dan 5. Di mana Nabi Yaqub memanggil anaknya, Nabi Yusuf, dengan sebutan “Ya Bunayya” atau “Wahai Anakku”. Sebuah panggilan kesayangan kepada anak. Sementara, Nabi Yusuf memanggil sang ayah dengan sebutan “Ya Abati” atau “Wahai Ayahku”. Panggilan ini juga menjadi buah dari rasa sayang dan hormat Nabi Yusuf kepada Nabi Yaqub.
Tak hanya itu, karakter cinta dan sayang seorang ayah juga dipertegas dalam banyak kisah nabi lainnya, termasuk Rasulullah Saw. Beliau juga bersabda dalam hadis riwayat Hakim bahwa, “Bukan umatku (bila) tidak mengasihi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua”.
Baca juga: Jika AI bukan Artificial Intelligence, Tapi Ayah & Ibu
2. Jadi Pendengar yang Baik
Menjadi pendengar yang baik bagi anak adalah awal terbentuknya komunikasi yang berkualitas di antara ayah dan anak. Mendengar tanpa menghakimi anak akan membuat mereka tumbuh jadi anak yang terbuka dan dekat dengan ayahnya. Bila sudah begitu, ayah pun bisa lebih mudah menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak.
Seperti Nabi Yusuf kecil yang menceritakan mimpinya kepada sang ayah. Ini merupakan bentuk kenyamanan dan kepercayaan Nabi Yusuf kepada Nabi Yaqub karena telah menjadi pendengar yang baik baginya.
Komunikasi ini juga diajarkan oleh Rasulullah Saw. Beberapa hadis menyebut bahwa Rasulullah sering kali bersenda gurau dengan anak-anak, penuh perhatian dan kasih sayang. Komunikasi ini pun tidak sama sekali mengurangi wibawa dan kemuliaan beliau.
3. Sabar menghadapi anak
Tak semua anak berperilaku menyenangkan. Bahkan, beberapa dari mereka berperilaku buruk terhadap orang tua. Orang tua yang sabar menghadapi kenakalan anaknya, bisa menghindarkan sikap buruk lain dari sang anak yang mungkin akan muncul suatu hari.
Kualitas sabar yang diperlihatkan oleh Nabi Yaqub adalah sabar yang baik (jamiil), yaitu sabar yang tidak disertai pengaduan, kekhawatiran, serta kegelisahan. Saat anak-anaknya yang lain membawa berita palsu tentang Nabi Yusuf dimakan serigala, ia bersabar dan tidak berkeluh-kesah. Saat matanya menjadi buta karena saking sedihnya kehilangan Nabi Yusuf pun ia bersabar dan menahan diri.
4. Menghindari dan menjaga konflik
Konflik di sini artinya adalah konflik antar saudara/anak-anak, juga konflik antara ayah dengan anak. Meski Nabi Yakub melihat keganjalan pada baju Nabi Yusuf yang berlumuran darah serigala, namun ia tidak goyah. Nabi Yaqub memilih untuk tidak memperpanjang masalah yang bisa saja menimbulkan persoalan yang makin panjang. Dengan begitu, konflik antara ayah dengan anak bisa dihindari.
Pada situasi lain, Nabi Yaqub juga meminta Nabi Yusuf untuk tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudara lain untuk menjaga kemungkinan terjadinya konflik antarsaudara.
Baca juga: 5 Teladan Besar dari Kisah Nabi Ibrahim, Bapak Para Nabi
5. Tawakal
Sikap tawakal seorang ayah pada diri Nabi Yaqub nampak saat mau tidak mau harus mengizinkan anak-anaknya mengajak Bunyamin ikut serta dalam perjalanan ke Mesir (kali kedua). Sikap tawakal juga menjadi nasihat yang Nabi Yaqub pesankan kepada putra-putranya setelah ia mengatur strategi pemberangkatan yang aman bagi putra-putranya.
Sikap tawakal pada seorang ayah sangat dibutuhkan, khususnya dalam situasi-situasi genting. Ayah yang tenang dan tawakal akan menumbuhkan rasa aman di hati anak-anak dan membuat mereka bisa menghadapi segala masalah dengan iman.
6. Tidak putus asa terhadap rahmat Allah
Sifat tidak mudah putus asa adalah salah satu sikap yang menonjol pada diri Nabi Yaqub sebagai seorang ayah. Meski telah kehilangan Yusuf, ia masih terus percaya dan berdoa kepada Allah untuk dapat bertemu kembali dengan putra tercintanya. Sifat untuk tidak putus asa ini juga merupakan nasihat yang dibekalkan pada putra-putranya sebelum menempuh perjalanan kedua ke Mesir.
Dalam kisah Nabi Yusuf terdapat tiga situasai genting. Pertama, saat Nabi Yaqub sekeluarga ditimpa kekurangan karena paceklik yang membuat anak-anaknya hanya bisa membawa barang barteran yang nilainya rendah. Kedua, saat anak-anak Nabi Yaqub harus menempuh perjalanan penuh risiko menuju mesir. Ketiga, saat Nabi Yaqub menyuruh anak-anaknya untuk tidak berputus asa mencari tahu tentang keberadaan Nabi Yusuf.
7. Mengadukan setiap kesusahan hanya kepada Allah
“Aku hanya mengadukan kesedihanku dan dukaku kepada Allah.”
(QS. Yusuf: 86)
Ayat di atas adalah ayat yang menggambarkan betapa Nabi Yaqub bertawakal hanya kepada Allah Swt. Meski hatinya hancur karena kehilang anak (Bunyamin) untuk kedua kalinya, namun ia tetap bergantung hanya kepada Allah dan menceritakan kesedihannya hanya pada-Nya.
Sikap ini adalah sikap yang bisa menjaga munculnya sikap putus asa. Sifat ayah yang satu ini bisa menumbuhkan rasa yakin terhadap rahmat Allah di setiap kesulitan yag dialami.
8. Pemaaf terhadap anak
Sifat sabar dan pemaaf yang selalu ditunjukan Nabi Yaqub kepada anak-anaknya pun berbuah manis. Dengan selalu memaafkan anak-anaknya, akhirnya mereka pun mengakui kesalahan terhadap Yusuf dan meminta maaf kepada Nabi Yaqub. Meski kesulitan dan kesedihan yang dialami Nabi Yaqub cukup berat, namun ia tetap memaafkan kesalahan putra-putranya dan memohonkan ampunan bagi mereka kepada Allah Swt.
9. Pelindung bagi anak-anak
Peran ayah sebagai pelindung anak-anaknya ditunjukkan Nabi Yaqub ketika berpesan kepada Nabi Yusuf untuk tidak menceritakan mimpnya kepada saudara-saudaranya dalam rangka menghindari keburukan yang diakibatkan rasa dengki. Dalam kesempatan lain, sikap melindungi juga ditunjukkan Nabi Yaqub ketika ia mengatur strategi keberangkatan rombongan putra-putranya ke Mesir untuk kedua kali.
Sifat pelindung ini bisa dilakukan dengan cara berdoa memintakan perlindungan bagi seorang anak. Rasulullaah Saw pun pernah mencontohkannya dengan mendoakan kedua cucu beliau, yakni Hasan dan Husen.
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua setan yang menimbulkan rasa was-was dan mata yang mencela.”
(HR At-Tirmidzi)
Baca juga: Doa Agar Terhindar dari Orang Jahat, Mudah Dibaca Setiap Hari
Sahabat, itulah sembilan sifat ayah ideal yang ditunjukkan Nabi Yaqub sebagai figur seorang ayah bagi 12 anak laki-lakinya. Namun, sifat ayah di atas bukanlah tentang kesempurnaan, lebih dari itu, ini tentang kehadiran yang tulus. Anak hanya membutuhkan sosok yang mau mendengar, memeluk, dan memberi arahan dengan lembut. Sifat ayah ini akan menumbuhkan rasa aman dan mencegah mereka mengalami fenomena fatherless yang kini sangat tinggi di Indonesia.
Ingatlah bahwa setiap langkah kecil ayah berarti besar bagi hati anak-anak. Karena dari ayahlah anak belajar kekuatan, kasih sayang, dan mengetahui arah hidupnya. (RQA)

