PADANG, SUMATRA BARAT — Bila pahlawan sering diartikan sebagai seseorang yang memakai jubah, topeng, dan perisai, namun tidak semua pahlawan mengenakan jubah. Ada yang hadir dengan celemek, spatula, dan bau asap dapur yang menempel di tubuhnya. Ada pula yang tak mengangkat perisai, tetapi mengangkat panci besar demi memastikan tak ada perut yang kosong.
Ialah Irsyaf, seorang Relawan Dompet Dhuafa yang menjadi garda terdepan untuk bisa memastikan para penyintas dapat menikmati hidangan, memastikan para penyintas dengan perut kenyang, di tengah peristiwa banjir bandang galodo yang terjadi di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat.
Ia bukan figur heroik dalam cerita fiksi, melainkan pahlawan kemanusiaan yang memilih berdiri, di mana para penyintas membutuhkan dukungan setidaknya lewat sepiring makanan hangat. Bagi Irsyaf, memastikan ada hidangan tersaji di tengah para penyintas galodo adalah sebuah panggilan jiwa.
Sudah dua pekan sejak galodo menerjang, dan hampir setiap hari Irsyaf terlihat di Dapur Umum Dompet Dhuafa. Ketika matahari naik, ia menyiapkan 400-500 porsi makan siang, ketika malam tiba, ia kembali berkutat dengan bumbu, minyak panas, dan aroma kaldu yang mengepul. Selain makanan berat, Irsyaf juga turut menghadirkan makanan ringan seperti bubur kacang hijau dan roti. Jika pahlawan memiliki tongkat, begitupun Irsyaf yang dengan lihai menggerakan spatula, sendok untuk menyiapkan hidangan.
Baca juga: Kurban Jadi Simbol Harapan Penyintas Banjir Bandang Sumbar


“Alhamdulillah hari ini bisa bergabung dan bisa hadir di tengah tengah duka saudara kita yang ada di Kota Padang kita di sini di Dapur Umum, hasil dari dapur kita menyuplai makanan ke korban-korban yang terdampak dan warga-warga yang sekitar sini,” kata Irsyaf.
Berbekal pengalaman membuka rumah makan masakan Padang di Kediri dan Padang, Irsyaf membawa keahlian kulinernya ke situasi darurat. Latar belakang itulah yang mendorongnya untuk hadir dan memberi manfaat.
“Nah, kita hadir di sini itu karena duka teman-teman, duka saudara kita yang hadir di sini. Pas lagi ada pascabencana di sini khusus turun ke kemanusiaan dulu, karena ini panggilan kemanusiaan karena lebih teristimewa rasanya kita langsung hadir di tengah tengah saudara kita yang lagi membutuhkan di tengah-tengah saudara kita yang lagi berduka,” sambung Irsyaf.


Siapa yang menyangka, niatnya menjadi bermanfaat turut didukung masyarakat Perumahan Wahana. Pasalnya, sebelum Dapur Umum Dompet Dhuafa hadir, warga Perumahan Wahana sudah lebih dulu membentuk dapur umum swadaya. Semangat warga bantu warga terlihat dari bagaimana mereka saling mendukung dengan menyediakan alat masak, bahan makanan, hingga air bersih. Berkat gotong royong ini, Dapur Umum dapat berjalan dan memberi manfaat bagi para tetangga yang terdampak.
“Masyarakat sini siap bantu apa pun yang kita kerjakan, mereka siap bantu dan semua perlengkapan yang ada di sini swadaya masyarakat sampai tenaga masyarakat yang ada di Perumahan Wahana ini. Alhamdulillah kita hadir di sini mereka terbuka kita ada di sini dan malah mereka ikut bantu ya itu sudah luar biasa,” tambah Irsyaf.
Warga Perumahan Wahana sebenarnya telah terdata sebagai penerima bantuan dari posko, namun sebagian dari bahan baku tersebut mereka suplai kembali ke Dapur Umum Dompet Dhuafa.
Berkat dukungan warga, menu dapur dapat terus bertambah, mulai dari telur, beras, hingga air. Di tengah darurat air bersih, pasokan khusus untuk Dapur Umum juga dijaga agar tidak terputus, sehingga aktivitas dapur tetap berjalan.
Lebih lanjut, Irsyaf menceritakan bahwa keterlibatannya bersama Dompet Dhuafa berawal dari pengalamannya saat gempa di Palu. Dengan perlengkapan pribadi dan inisiatif sendiri, Irsyaf terbiasa berangkat ke lokasi bencana sebagai relawan.


Baginya, hadir dan membantu saudara-saudara yang terdampak bencana di berbagai daerah merupakan pengalaman yang sangat berarti. Terlebih ketika melihat para penyintas lahab dan menghabiskan makanan yang dibuat Irsyaf.
“Semangat muncul ketika sedang capai-capainya nih… alhamdulillah, kita sebagai yang bikin atau yang menyediakan (makanan) itu, merasa bersyukur apalagi makanan kita dimakan secara lahap sudah luar biasa rasa syukurnya,” terangnya.
Irsyaf menjelaskan bahwa strategi di dapur sengaja disesuaikan dengan kondisi darurat. Bahan baku yang digunakan dipilih yang tahan lama dan tidak mudah basi, agar makanan bisa dikonsumsi hingga beberapa waktu setelah dimasak. Setiap komponen menu, nasi, sayur, dan lauk dikemas terpisah untuk menjaga kualitas dan daya tahannya, terutama bagi penyintas yang tidak bisa langsung makan saat menerima bantuan. Untuk menu berbahan cabai, ia menerapkan teknik menumis agar masakan tidak cepat basi.


Seperti diketahui, galodo menghantam sejumlah kompleks perumahan di pinggiran Sungai Lubuk Minturun, Kota Padang, Sumatera Barat. Di Kelurahan Lubuk Minturun, banjir bandang terparah melanda perumahan Lumin Park Cluster. Aliran Sungai Lubuk Minturun, berjarak sekitar 40 meter, meluap ke perumahan, kemudian membentuk satu aliran baru yang membelah kompleks tersebut.
Arah ke hilir, di Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, juga terdampak banjir bandang dari Sungai Lubuk Minturun. Bendungan di kampung itu jebol sehingga aliran sungai menghantam perkampungan.
Melihat peristiwa tersebut, dengan suara bergetar Irsyaf turut memberikan doa terbaik untuk para penyintas bahwa dibalik setiap peristiwa, termasuk tragedi dan bencana, selalu tersimpan nikmat dan hikmah yang kelak akan terlihat.
Baca juga: Dompet Dhuafa Kirim 60 Ton Bantuan Kemanusiaan untuk Penyintas Bencana di Sumatra


“Untuk saudara-saudara kita yang penyintas atau terdampak bencana alam banjir bandang di Kota padang dan sekitarnya tabah kuat semua badai akan pasti berlalu. Semoga apa yang terjadi sekarang itu nikmat dan bisa lebih penggantinya besok lebih-lebih dari yang hilang sekarang,” pungkas Irsyad.
Dompet Dhuafa mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama membantu pemulihan saudara-saudara kita di Aceh dan wilayah terdampak lainnya melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/prayforsumatera. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Dhika

