AGAM, SUMATRA BARAT — Kata pilu seakan menemukan maknanya saat relawan Dompet Dhuafa pertama kali menginjakkan kaki di Sikabau. Sebuah wilayah di Jorong Kayu Pasak Selatan, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Bukan karena letaknya yang jauh semata, tetapi karena luka alam yang baru saja menghantamnya.
Galodo datang tanpa aba-aba, menghanyutkan satu-satunya jembatan penghubung ke kampung itu. Sejak saat itu, Sikabau terputus dari dunia luar. Jalan keluar hanya tersisa satu yakni berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Hujan dengan curah tinggi sebelumnya memicu longsor di dua titik dan membuat perjalanan menuju Sikabau dengan medan yang kian menantang.

“Iya kalau di sini kami terisolasi, kalau kami dek kami jauh dari luar, jadi karena banjir bandang kemarin tuh terputuslah, mau belanja ke pasar nggak bisa jadi payah kami untuk berusaha beraktivitas nggak ada lah dapat penghasilan apa-apa,” ujar Apriani Dewi, seorang penyintas Galodo.
Di tengah keterisolasian itu, masyarakat bertahan dengan segala keterbatasan. Hampir satu pekan lamanya mereka menunggu, dengan dapur yang perlahan kehabisan bahan dan harapan yang diuji oleh waktu.
“Seminggu sesudah banjir bandang tuh lah baru datang polisi tentara, di situlah baru buat jembatan darurat supaya bisa kami keluar masuk,” sambungnya.
Baca juga: Ketua Pengurus Dompet Dhuafa Kawal Langsung Distribusi Bantuan Banjir di Langkat


Hingga akhirnya, langkah-langkah relawan datang, Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan KitaBisa hadir membawa lebih dari sekadar bantuan. Melalui Dapur Umum, mereka menghidupkan kembali kehangatan yang sempat redup. Bungkus demi bungkus disajikan, menjadi penanda bahwa Sikabau tidak sendirian.
Pada Selasa (11/12/2025), relawan Dompet Dhuafa bergotong royong mendirikan Dapur Umum dengan segala keterbatasan yang ada, akses menuju lokasi yang terputus memaksa mereka berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilometer, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor. Meski medan yang tak mudah dilalui, semangat untuk meringankan duka para penyintas menguatkan langkah, hingga Dapur Umum akhirnya berdiri.


Dapur Umum hasil kolaborasi Dompet Dhuafa dan KitaBisa tersebut didirikan di SDN 26 Kayu Pasak. Relawan dan warga setempat bahu-membahu memasak dan menyajikan makanan, pada hari pertama, sebanyak 150 porsi makanan disajikan dengan menu sederhana berupa sayur dan ayam balado.
Seporsi nasi hangat dan lauk sederhana itu bukan sekadar mengisi perut yang lapar, melainkan menjadi penguat hati. Kebersamaan dan tawa yang hadir selama proses memasak menjadi sumber kekuatan tersendiri bagi para penyintas dan relawan.



Memasuki hari kedua, Dapur Umum Dompet Dhuafa dan KitaBisa berkolaborasi bersama Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC). Menu khusus disiapkan bagi orang dewasa berupa ikan asam padeh dan mie goreng untuk 231 penerima manfaat. Serta Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) sebanyak 50 porsi berupa nasi, sayur, ikan, dan semangka. Kehadiran Ahli Gizi dari Puskesmas Pembantu Tantaman turut memastikan asupan yang diberikan sesuai kebutuhan gizi anak.
“Hari ini kita dari Dompet Dhuafa itu berada di simpang tiga Sikabau hari ini kita lagi menyalurkan bantuan berupa logistik untuk kebutuhan dapur Umum karena daerah ini tuh merupakan salah satu daerah yang terdampak dan akses menuju daerah ini pun itu lagi terputus karena ada longsor dan banjir bandang nah selain bantuan logistik untuk Dapur Umum,” ujar Firdaus salah satu Relawan Dompet Dhuafa.
Bertahan hidup tanpa uluran bantuan bukanlah perkara mudah. Apriani merasakan betul bagaimana hari-hari dilalui dalam keterbatasan, hingga kehadiran Dapur Umum Dompet Dhuafa dan KitaBisa menjadi pelipur lara bagi para penyintas, termasuk dirinya.
Baca juga: Dapur Umum yang Mengepul jadi Semangat Warga untuk Berkumpul


“Kami sangat bersyukur, kami warga daerah sikabau sangat bersyukur atas bantuan bantuan dari luar bersyukur kali sebab ya jalan kami terputus karena galodo, nah itu makanya sangat bersyukur kali kami dapat bantuan,” ujar Apriani.

Baginya setiap bantuan yang tiba adalah kepedulian yang begitu berarti. Ia masih mengingat jelas malam ketika galodo itu datang. Saat jarum jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam, keluarga Apriani tengah terlelap. Tiba-tiba, suaminya datang membawa kabar yang membuat jantung berdegup kencang.
Galodo telah menerjang kawasan Salawih. Rasa takut menyelimuti, terlebih memikirkan keselamatan anak. Tanpa banyak pikir, mereka segera menyelamatkan diri ke rumah mertua yang berada di bagian belakang kampung.



Baca juga
Kini, di tengah upaya pemulihan, Apriani berharap jembatan penghubung yang hanyut dapat segera dibangun kembali, agar roda kehidupan bisa kembali berputar. Jalan yang terbuka bukan hanya tentang akses keluar-masuk, tetapi tentang kesempatan untuk kembali beraktivitas, dan menata ulang kehidupan yang sempat terhenti.
Kolaborasi antara Dompet Dhuafa dan KitaBisa membuktikan bahwa sinergi antarlembaga mampu mempercepat respon kemanusiaan. Pendampingan bagi warga terdampak akan dilanjutkan hingga fase pemulihan berjalan optimal dan kehidupan masyarakat kembali berangsur normal. Dukung penyintas bangkit dan pulih melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bangkitsumatera. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Anndini, DDTV
Penyunting: Dhika

