Alam semakin rusak terlihat dari perubahan cuaca yang makin nyata di sekitar kita. Hutan berkurang, sungai meluap, dan bencana datang dengan intensitas yang semakin sering. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir bandang terjadi di berbagai wilayah, termasuk di Sumatera pada akhir November 2025. Peristiwa ini membuat banyak orang merenung tentang arah kehidupan manusia dan hubungan kita dengan alam.
Kerusakan lingkungan tidak terjadi dalam satu malam. Kerusakan terbentuk dari keputusan yang diambil bertahun-tahun sebelumnya. Ketika hutan dibuka tanpa kendali dan tanah kehilangan penyangganya, air hujan tidak lagi terserap dengan baik. Sungai menerima beban berlebih dan meluap ke pemukiman. Bencana banjir membuat manusia merasakan dampak dari alam yang telah dirusak.
Baca Juga: Sejarah Nabi Nuh dan Relevansinya di Hari Ini
Jejak Kerusakan Lingkungan dalam Sejarah Manusia
Laporan World Wildlife Fund (WWF) menunjukkan bahwa dunia kehilangan jutaan hektare hutan setiap tahun dalam dua dekade terakhir. Deforestasi ini berdampak langsung pada perubahan iklim, siklus air, dan stabilitas ekosistem. Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bersifat global dan saling terhubung dari satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Sejarah manusia tidak pernah terpisah dari kondisi alam di sekitarnya. Ketika lingkungan terjaga, kehidupan berkembang dan peradaban dapat tumbuh dengan baik. Namun, saat alam mengalami kerusakan, manusia mulai menghadapi berbagai kesulitan. Sejarah mencatat bahwa menurunnya kualitas tanah, air, dan hutan sering diikuti oleh krisis pangan, penyakit, hingga perpindahan penduduk secara masif. Para sejarawan lingkungan juga mencatat bahwa banyak wilayah yang dahulu subur berubah menjadi kawasan rentan akibat eksploitasi alam yang dilakukan secara berlebihan dan terus-menerus.
Salah satu contoh yang sering dibahas para sejarawan adalah wilayah Bulan Sabit Subur di Timur Tengah. Wilayah ini dahulu menjadi pusat pertanian dan permukiman manusia karena tanahnya subur dan airnya melimpah. Namun, pembukaan hutan secara terus-menerus dan pengelolaan lahan yang tidak seimbang perlahan mengubah kondisi tersebut. Tanah menjadi kering, air semakin sulit diperoleh, dan hasil pertanian menurun. Sejarawan lingkungan Jared Diamond mencatat bahwa eksploitasi alam tanpa pemulihan membuat kawasan ini semakin rentan terhadap krisis pangan dan kemunduran sosial.
Pola serupa juga muncul di berbagai wilayah lain di dunia. Kerusakan alam sering berlangsung perlahan sehingga tidak langsung disadari. Ketika dampaknya terasa, kondisi sudah terlanjur sulit diperbaiki. Kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan alam, tetapi persoalan manusia itu sendiri. Cara manusia memperlakukan alam hari ini akan menentukan kualitas hidup di masa depan, sebagaimana yang telah tercermin dalam perjalanan sejarah panjang umat manusia.
Baca Juga: Banjir Nabi Nuh, Apa Pelajaran Berharga Bagi Kita?
Dampak Alam Semakin Rusak bagi Kehidupan
Kerusakan alam tidak berhenti pada angka statistik. Dampaknya terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Saat hutan hilang, banjir akan datang lebih cepat. Ketika tanah longsor, akses jalan jadi terputus. Ketika sungai tercemar, sumber air bersih ikut terganggu.
Di Sumatera saat ini, banjir bandang memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka. Aktivitas ekonomi terhenti, sekolah ditutup, dan layanan kesehatan terganggu. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kerusakan lingkungan selalu berujung pada penderitaan manusia. Alam dan kehidupan sosial tidak bisa dipisahkan.
Islam memandang alam sebagai amanah yang harus dijaga. Allah mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dalam keadaan seimbang. Allah berfirman:
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat di atas secara tegas menunjukkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral manusia. Kerusakan alam bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan etika dan keimanan. Ketika manusia mengabaikan peringatan dalam ayat tersebut, dampak negatifnya kelak kembali kepada manusia sendiri.
Baca Juga: Sejarah Banjir Bandang di Dunia
Alam Rusak Adalah Tanda Kiamat atau Akibat Perilaku Manusia
Sebagian orang mengaitkan kerusakan alam dengan tanda-tanda akhir zaman. Islam memang mengajarkan bahwa menjelang hari kiamat akan muncul berbagai perubahan besar di bumi. Namun Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk sibuk menebak waktu, melainkan mengajak manusia untuk memperbaiki sikap dan perbuatan.
Allah berfirman: “Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”(QS. Ar-Ra’d: 11).
Quran Surat Ar-Rad ayat 11 menjelaskan bahwa manusia sebagai pelaku utama perubahan. Kerusakan alam yang terjadi hari ini dapat dibaca sebagai akibat dari pilihan manusia, bukan sekadar takdir yang datang tanpa sebab.
Alam semakin rusak tidak otomatis berarti kiamat sudah dekat, bisa jadi tanda peringatan untuk manusia agar menyadari kesalahan dan memperbaiki keadaan. Allah berfirman dalam Quran Surat Ar-Rum ayat 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Baca Juga: Bencana, Peringatan atau Adzab untuk Manusia
Banjir di Sumatera Akibat Alam Semakin Rusak
Banjir bandang di Sumatera memperlihatkan hubungan langsung bahwa rusaknya alam sebagai penyebab bencana. Pembukaan hutan mengubah aliran air dan menghilangkan daya serap tanah. Sungai menerima debit air yang besar dalam waktu singkat. Ketika hujan turun deras, banjir tidak dapat dihindari.
Air membawa tanah dan kayu gelondongan dari gunung, menghantam pemukiman warga yang ada di kaki gunung. Hingga membuat rumah-rumah warga hanyut dalam banjir, rusak, bahkan ada yang membuat desa menjadi menghilang akibat banjir bandang dan longsor. Keadaan ini menunjukkan bahwa bencana sering didahului oleh tanda-tanda yang lama diabaikan. Ketika manusia mengabaikan tanda-tanda tersebut, risiko yang muncul menjadi lebih besar dan sulit dikendalikan.
Baca Juga: Bantuan untuk Sumatera, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Alam Semakin Rusak Adalah Tanggung Jawab Bersama
Memperbaiki alam semakin rusak tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, masyarakat, dan lembaga kemanusiaan memiliki peran masing-masing. Kesadaran bersama menjadi kunci agar upaya pemulihan berjalan berkelanjutan. Ketika masyarakat terlibat, perubahan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Dalam Islam menempatkan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari iman. Rasulullah saw. Bersabda, “Barang siapa meringankan kesulitan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesulitannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).
Membantu orang lain memiliki nilai spiritual yang tinggi. Dalam konteks bencana, kepedulian sosial menjadi wujud nyata dari ajaran Islam. Menolong korban banjir, mendukung pemulihan lingkungan, dan menjaga kehidupan bersama merupakan bentuk tanggung jawab kolektif.
Langkah kecil seperti menjaga kawasan hijau, mengurangi eksploitasi, dan mendukung rehabilitasi hutan memberi dampak jangka panjang. Tindakan ini tidak secara langsung menghapus potensi bencana, tetapi memperkecil risikonya di masa depan.
Salah satu bentuk ikhtiar yang dapat kita lakukan adalah mendukung program penanaman pohon. Dompet Dhuafa menginisiasi gerakan tanam pohon di berbagai wilayah yang terdampak deforestasi. Program ini mengajak masyarakat untuk ikut memulihkan hutan sebagai bagian dari solusi jangka panjang.
Melalui program ini, masyarakat dapat berkontribusi dalam penanaman dan perawatan pohon. Upaya ini membantu memulihkan daya serap tanah, menjaga sumber air, dan memperbaiki ekosistem yang rusak. Gerakan ini juga membuka ruang partisipasi publik untuk ikut menjaga bumi secara nyata. Mendukung upaya pemulihan lingkungan melalui penanaman pohon adalah salah satu langkah yang bisa kita lakukan hari ini. Dengan ikut berkontribusi, kita mengambil bagian dalam menjaga kehidupan dan masa depan bersama. Setiap pohon yang ditanam menjadi harapan baru bagi bumi yang ingin pulih kembali.


