BOGOR — Di bawah terik matahari yang menyengat di Taman Pemakaman Umum (TPU) Jabon Mekar, Parung, Bogor, sekelompok pria tampak sibuk mencabuti rumput liar dan membersihkan nisan. Mereka adalah Tim B’Beres, sebuah tim khusus beranggotakan penyintas disabilitas mental yang bernaung di bawah Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa.
Aksi yang berlangsung pada Kamis (12/02/2026) ini dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan, saat tradisi ziarah kubur mulai ramai dilakukan masyarakat.
Manajer LPM Dompet Dhuafa, Kamaludin, menjelaskan bahwa kehadiran Tim B’Beres adalah bentuk kepedulian untuk memberikan kenyamanan bagi para peziarah.
“Tim B’Beres membersihkan makam sebelum Ramadan ini menjadi bagian layanan untuk peziarah agar lokasi pemakaman menjadi bersih dan nyaman untuk dikunjungi,” ujar Kamaludin.
Baca juga: Dorong Kepercayaan Diri Disabilitas Mental, LPM Ajak Penyintas Terapi Rekreasi
Namun, aksi ini bukan sekadar bersih-bersih biasa. Bagi para penyintas yang tingkat kesembuhannya kini telah mencapai 80%, aktivitas fisik di ruang publik adalah bagian dari perjalanan panjang menuju pemulihan total.
“Kontribusi Tim B’Beres dalam pelayanan pembersihan makam juga menjadi sarana terapi bagi penyintas disabilitas mental dalam Tim B’Beres … Dengan aktivitas bersih-bersih ini menjadi bentuk kegiatan positif baik bagi dirinya maupun masyarakat,” tambah Kamaludin.

Irawan selaku Koordinator Aksi, membenarkan adanya perubahan perilaku yang signifikan sejak program ini digulirkan pada November lalu. Interaksi dengan dunia luar terbukti mampu meredam gejala yang sering dialami penyintas.
“Dari kegiatan seperti ini tampak kemajuan dalam perilaku mereka. Yang tadinya mereka hanya di dalam ruangan terus akhirnya timbul halusinasi. Tapi dengan kegiatan ini mereka itu setelah lelah mereka akan tidur. Dan alhamdulillah mereka juga yang tadinya kita kasih perintah mereka diam atau menolak, sekarang jadi bisa diarahkan,” jelas Irawan.
Tak hanya soal kedisiplinan, kemampuan komunikasi antarpelaku juga membaik secara drastis.
“Alhamdulillah kondisi mereka juga jadi stabil. Mereka juga kalau mengobrol antarteman juga sudah pada nyambung,” imbuhnya.
Baca juga: Blind Concert Kahayya: Ciptakan Ekosistem Inklusif untuk Disabilitas
Ke depan, Dompet Dhuafa berharap Tim B’Beres tidak hanya berhenti di aksi musiman. Model pemberdayaan ini diharapkan bisa menjadi percontohan bagaimana memanusiakan kembali para penyintas melalui karya nyata.
“Harapan ke depannya, B’Beres ini bisa menjadi program unggulan dengan mengusung konsep pemulihan kesehatan jiwa, kebermanfaatan bagi lingkungan dan pemberdayaan bagi anggota Tim B’Beres,” pungkas Kamaludin. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Aji Pangestu
Penyunting: Ronna

