Cerita Dai Ambassador: Menjaga Aqidah dan Identitas Anak Muslim Di Bremen, Jerman

Suasana kajian dan ibadah anak Muslim di Bremen, Jerman.

BREMEN, JERMAN — Pada hari ke-7 berada di Bremen, tepatnya pada Senin (23/2/2026), Wahyu Septrianto, Dai Ambassador Dompet Dhuafa Penugasan Jerman, diminta oleh pengurus KMIB untuk mengisi kajian dengan tema “Aqidah sebagai Benteng Anak Muslim di Bremen.” Turut hadir dalam agenda tersebut, para santri beserta wali santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Ar-Raudhah, Bremen.

Untuk mengawali kajian, saya membuka sesi dengan sebuah kuis interaktif menggunakan media Quiz.com. Kuis tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan seputar pentingnya aqidah sebagai benteng utama bagi anak-anak Muslim yang tumbuh dan berkembang di lingkungan minoritas seperti di Bremen. Melalui kuis tersebut, peserta diajak untuk memahami bahwa aqidah bukan sekadar materi pelajaran, melainkan fondasi utama yang menjaga identitas, keimanan, dan akhlak anak-anak Muslim di tengah tantangan zaman. Adapun pembahasan dalam kajian tersebut meliputi beberapa poin seperti yang dipaparkan di bawah ini.

Suasana kajian dan ibadah anak Muslim di Bremen, Jerman.
Suasana kajian dan ibadah anak Muslim di Bremen Jerman

Tantangan Lingkungan Sekolah terhadap Aqidah

Lingkungan sekolah di Jerman, termasuk di Bremen, memiliki banyak sisi positif seperti disiplin waktu, sistem belajar mandiri, dan pemanfaatan teknologi. Namun, tantangan terbesar bagi anak Muslim bukan pada aspek akademik tersebut. Lebih pada normalisasi nilai yang tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam.

Nilai-nilai seperti kebebasan tanpa batas dalam pergaulan, relativisme moral, serta isu-isu sensitif, seperti LGBT yang diajarkan secara terbuka. Hal tersebut dapat memengaruhi cara pandang anak terhadap agama jika tidak dibentengi dengan aqidah yang kuat. Karena itu, pendidikan aqidah tidak bisa bersifat pasif. Ia harus menjadi fondasi yang kokoh sejak dini.

Sikap Bijak Orang Tua Muslim

Hidup di Bremen berarti hidup di tengah masyarakat multikultural. Sikap terbaik orang tua Muslim bukanlah melarang anak berinteraksi, dan bukan pula membiarkan anak mengikuti semua budaya tanpa filter. Yang paling tepat adalah menanamkan identitas Islam yang kuat disertai sikap toleran. Anak perlu memahami: Siapa dirinya sebagai Muslim, apa nilai-nilai yang tidak bisa dikompromikan, bagaimana tetap menghormati orang lain tanpa kehilangan prinsip, inilah keseimbangan antara identitas dan toleransi.

Menjaga ibadah anak di negeri minoritas memiliki tantangan tersendiri. Di Bremen, kendala yang sering muncul adalah jarak masjid yang jauh dan jadwal sekolah yang padat. Sholat berjamaah, kegiatan keislaman atau kelas mengaji tidak selalu mudah diakses. Karena itu, rumah harus menjadi pusat pembiasaan ibadah. Jika masjid jauh, maka ruang tamu harus terasa seperti mushola kecil. Jika jadwal padat, maka manajemen waktu harus dilatih sejak dini.

Di negeri minoritas, peran keluarga menjadi sangat sentral. Orang tua tidak bisa sepenuhnya mengandalkan sekolah. Keluarga adalah madrasah pertama dan utama. Di rumah anak belajar; cara sholat, adab berbicara, cara menyikapi perbedaan, makna halal dan haram, fitrah manusia laki-laki dan Perempuan, dan lainnya. Salah satu kesulitan terbesar orang tua Muslim di Bremen adalah terbatasnya waktu bersama anak karena tuntutan kerja. Maka kualitas pertemuan harus mengalahkan kuantitas. Sedikit waktu, tetapi penuh perhatian, dialog, dan keteladanan.

Suasana kajian dan ibadah anak Muslim di Bremen, Jerman.
Suasana kajian dan ibadah anak Muslim di Bremen Jerman

Baca Juga: Cerita Dai Ambassador: Batal ke Australia, Dakwah Di Macau pun Memukau, Catatan Perjalanan Seorang Dai di “Las Vegas”-nya Asia (Bagian 2, Habis)

Menanamkan Identitas Islam Secara Efektif

Identitas Islam tidak bisa ditanamkan dengan paksaan. Cara yang paling efektif adalah melalui; keteladanan orang tua, pembiasaan ibadah, dialog terbuka sesuai usia anak. Sehingga anak memahami alasan di balik ajaran Islam akan lebih kuat dibanding anak yang hanya diperintah tanpa penjelasan.

“Komunitas Muslim seperti KMIB di Bremen memiliki peran penting sebagai ruang aman bagi anak-anak Muslim. Komunitas bukan untuk menggantikan peran orang tua. Lebih dari itu, yaitu untuk menguatkan iman, membina akhlak, menumbuhkan rasa kebersamaan, memberikan lingkungan pertemanan yang sehat, dan hal-hal positif lainnya. Maka, melalui komunitas, menurut saya anak memiliki lingkungan Muslim yang suportif, dan akan lebih percaya diri dalam menjaga identitasnya,” jelas Wahyu Septrianto, Dai Ambassador Dompet Dhuafa untuk penugasan Jerman.

Jadi, tujuan mendidik anak Muslim di negeri minoritas bukan sekedar agar mereka unggul akademik, bukan pula agar mereka sama persis dengan lingkungan mayoritas. Namun tujuan utamanya adalah; agar anak mampu menjaga islam, iman, ihsan, identitas, fitrah dan akhlak Islami di manapun ia berada.

Suasana kajian dan ibadah anak Muslim di Bremen, Jerman.
Suasana kajian dan ibadah anak Muslim di Bremen Jerman

Tantangan Anak-anak Muslim Di Negeri Minoritas

Salah satu tantangan terbesar di Bremen adalah normalisasi isu LGBT dalam kurikulum dan ruang publik. Banyak tersebar melalui media sosial dan sistem pendidikan sekolah. Orang tua tidak boleh panik, tetapi juga tidak boleh abai. Sikap yang tepat ketika anak bertanya tentang LGBT adalah menjelaskan dengan bahasa yang bijak sesuai ajaran Islam dan usia anak, yang berisi bagaimana fitrah laki-laki dan perempuan sudah diatur dalam syariat Islam. Prinsip Islam dalam menyikapi isu ini adalah; menolak dengan tegas perilaku dan pelakunya. Namun tetap menjaga adab dan kemanusiaan terhadap pelakunya. Tujuan pendidikan Islam dalam konteks ini bukan untuk menumbuhkan kebencian, tetapi agar anak memahami nilai fitrah manusia dalam Islam dengan hikmah dan kedewasaan.

Kemudian ada tantangan mengenai kebijakan sekolah. Ketika ada kebijakan sekolah terkait isu sensitif, langkah paling bijak adalah berdialog dengan pihak sekolah. Selain itu perlu menguatkan pendidikan Islam di rumah dan mengedepankan komunikasi yang santun, serta argumentatif. Sikap konfrontatif tanpa dialog sering kali justru merugikan anak.

“Di sini, peran komunitas Muslim sangat penting dalam membantu anak menghadapi berbagai isu sosial. Bukan dengan mengisolasi mereka dari masyarakat. Tetapi dengan menguatkan identitas Islam, membina akhlak, menumbuhkan rasa percaya diri. Anak yang tahu siapa dirinya tidak akan mudah goyah oleh tekanan lingkungan,” papar Wahyu Septrianto.

Di akhir sesi, Wahyu Septrianto menambahkan bahwa menjadi orang tua Muslim di Bremen bukan tugas yang ringan. Tantangannya nyata ada di depan mata, yaitu; lingkungan sekolah, perbedaan budaya, isu moral kontemporer, dan keterbatasan waktu dialog dengan anak. Namun dengan aqidah kuat, pendidikan keluarga yang kuat dan konsisten, dialog terbuka, dukungan komunitas, InsyaAllah anak-anak Muslim mampu tumbuh menjadi generasi yang berislam, beriman, berakhlak, dan percaya diri meskipun hidup sebagai minoritas.

 

Teks dan foto: Wahyu Septrianto, Dai Ambassador Dompet Dhuafa Penugasan Jerman
Penyunting: Taufan YN