MACAU — Di hari pertama, Muhammad Nur, Dai Ambassador Dompet Dhuafa 2026 yang mendapat tugas berdakwah di Macau, disuguhi pemandangan yang mengharukan. Di sebuah ruangan sederhana yang menjadi tempat berkumpul, para ibu sibuk memasak hidangan khas Indonesia untuk berbuka puasa bersama. Sebagian lainnya baru pulang shift kerja dan langsung bergabung menyiapkan perlengkapan buka puasa. Ada yang bercerita tentang rindunya pada kampung halaman, ada tentang majikan yang kurang ramah. Semua mengalir apa adanya di depan jamaah, dan tetap memperhatikan batasan, tidak sampai curhat yang sifatnya pribadi.
“Saya tidak menyangka, di hari pertama sudah disambut dengan begitu meriah. Semua keluh kesah mereka curahkan. Di sinilah saya sadar, tugas saya bukan hanya memberikan tausiyah atau berdakwah, tapi juga menjadi pemberi solusi di tengah kesibukan mereka. Tentunya juga menjadi penguat bagi mereka yang jauh dari keluarga,” ungkap Muhammad Nur.
Para BMI di Macau mayoritas bekerja sebagai pekerja rumah tangga, pelayan restoran, dan staf hotel di tengah hiruk-pikuk kota judi internasional. Mereka datang dengan berbagai mimpi dan harapan, namun tak sedikit yang menghadapi masalah. Mulai dari dokumen yang bermasalah, majikan yang tidak adil hingga kerinduan akut pada keluarga di tanah air. Namun di tengah segala keterbatasan, semangat mereka untuk tetap menjalankan ibadah dan belajar agama sangat luar biasa.

Malam Pertama Bertugas
Setelah berbuka puasa bersama, Muhammad Nur mendapat kesempatan untuk memberikan tausiyah Tarhib Ramadan kepada jamaah. Ruangan sederhana itu penuh sesak oleh puluhan BMI yang datang langsung dari tempat kerja masing-masing.
“Saya melihat sendiri, di tengah kondisi sebagai Muslim minoritas di kota yang identik dengan judi dan hiburan dunia, para BMI Indonesia di Macau mampu menjaga ajaran Islam dengan kuat. Mereka bergantian mengaji, menyiapkan takjil, bahkan menyisihkan gaji untuk infak dan sedekah. Kerukunan, kekompakan, dan semangat menyambut bulan suci Ramadan 1447 H menjadi bukti bahwa dakwah tidak mengenal batas geografis,” jelas Muhammad Nur.
Malam itu menjadi malam pertama yang begitu mendalam bagi Muhammad Nur. Di negeri yang jauh dari tanah air, di kota yang gemerlap dengan lampu-lampu megah, Islam tetap hidup, hangat, bersahaja, dan penuh cinta. Para ibu tangguh BMI itulah yang menjadi lentera dakwah di “Las Vegas”-nya Asia.
“Kehangatan yang saya terima di hari pertama ini melebihi dinginnya suhu Macau. Para BMI di sini mengajarkan saya arti keteguhan. Bahwa di mana pun bumi dipijak, di situ langit Islam dijunjung. Mereka adalah para pejuang ekonomi yang tak pernah lelah berjuang, sekaligus pejuang iman yang tak pernah padam semangatnya untuk belajar,” pungkas Muhammad Nur.
Kini, Ramadan di Macau telah dimulai. Muhammad Nur siap menemani hari-hari para Buruh Migran Indonesia dengan segala suka-duka, keluh-kesah, dan harapan yang mereka bawa dari kampung halaman. Di negeri mungil yang gemerlap ini, dakwah terus mengalir, hangat, dan memukau.
Teks dan Foto: Muhammad Nur (Dai Ambassador Dompet Dhuafa 2026 penempatan Macau)
Editor: Taufan YN

