BENER MERIAH, ACEH — Respons terhadap bencana banjir dan longsor yang menimpa Sumatra masih terus dilakukan Dompet Dhuafa hingga Ramadan 1447 H. Kali ini, Dompet Dhuafa bersama mitra jaringan sekolah, seperti TK Islam Fitrah Al Fikri, Sekolah Smart Cibinong, SIT Nurul Akbar, Panji Nusantara Islamic School, serta SDIT Al Yasmin 2 Bogor, membawa misi kemanusiaan menyalurkan Family Kit bagi para penyintas di Kampung Rusip, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Pendistribusian Family Kit ini dilakukan pada Rabu (28/01/2026) dan melalui proses yang panjang dan kompleks. Distribusi diawali dengan menyiapkan logistik berupa bantuan-bantuan kemanusiaan termasuk Family Kit di Pos Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, di Takengon.

Untuk bisa mencapai Bener Meriah, perlu waktu sekira dua jam lebih dari Takengon. Padahal, seharusnya perjalanan ini hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Namun, karena banyaknya titik longsor dan jalan terputus dengan medan yang cukup sulit, perjalanan pun terhambat. Apalagi medan jalanan penuh liku dan banyak sisa-sisa reruntuhan longsor dan banjir masih berada di sisi-sisi jalan.
Kampung Rusip sendiri menjadi salah satu kampung yang terisolasi. Pada pekan pertama pascabencana, kampung tersebut seperti terpisah dari dunia luar, menyisakan warga yang mengharap pertolongan. Ibrahim, sebagai tokoh masyarakat Kampung Rusip, sempat menceritakan bagaimana banjir dan longsor itu menghantam akses jalan menuju kampung mereka.

Hujan deras yang mengguyur kampung mereka sejak malam menyebabkan air sungai yang berada dekat Kampung Rusip meluap naik. Suara gemuruh kencang menemani datangnya air yang meluap perlahan.
“Saya bangunin warga, rupanya ada yang bangun, jadi kami laki-laki stand by di jalan. Ke sana ke mari, kami mantau. Jadi, perempuan-perempuan kita minta jangan bergerak dari tempat, supaya kita mudah menghubungi apabila ada perubahan,” cerita Ibrahim.


Suara gemuruh kencang juga tanda bahwa air telah membawa batu-batu besar dan pohon yang telah terseret air, bergulung, menghancurkan apa saja yang dilewati termasuk jembatan dan jalan.
“Malam tanggal 26 kampung ini bergoyang-goyang dulu gitu kan, bukan gempa, tapi karena arus air sana kan batunya besar-besar, jadi semua sudah mati listrik, komunikasi nggak ada lagi, gelap semua,” lanjut Ibrahim.
Ibrahim juga menugaskan dua orang untuk mengecek jembatan pada malam itu, Rabu (26/11/2025). Namun, jembatan masih kuat menahan dan masih berdiri. Ketika pagi tiba, Ibrahim menerangkan bahwa suasana di sana cukup sunyi, bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar ucapnya.
“Saya bilang ‘kurasa ini ketinggian air sudah melebihi’. Kkebetulan paginya kami cek jembatan sudah putus, jalan sudah putus, hancur. Jembatan camp sudah hancur,” kata Ibrahim lebih lanjut.

Selama terisolasi, para penyintas di Kampung Rusip memutar otak bagaimana agar tetap bisa bertahan dalam kondisi yang genting, selama satu bulan itu mereka telah mencapai kondisi yang sangat minim akan kebutuhan bahan pokok. Sehingga dengan kondisi akses jalan yang masih terputus, para penyintas memutuskan untuk menjemput bantuan dengan berjalan kaki puluhan kilometer dari jembatan yang terputus.
“Kampung ini terisolir untuk akses ke jalan waktu itu selama satu bulan lebih jalan kaki semua pas masuk bantuan kita jemput dari jembatan yang putus tuh pakai jalan kaki kita panggul kemari,” lanjut Ibrahim.
Selain itu, para penyintas juga sempat berjalan kaki puluhan kilometer dekat lewat jalan Lhokseumawe sambil memanggul bantuan yang kemudian di pagi harinya baru dibagikan kepada masyarakat.
Baca juga: Bantuan School Kit Mocca Band Sampai di Tangan Anak-Anak Penyintas Banjir Aceh Tamiang

Ada satu hal yang lebih disyukuri Ibrahim, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Meskipun ada beberapa rumah yang hancur akibat tanah longsor. Salah satunya Yunita, ibu dua anak tersebut mengalami bagaimana tembok rumahnya perlahan mulai terkikis, ancaman bahaya sempat menghantui Yunita dan keluarga, dengan air yang telah meluap hanya tersisa jarak lima meter.
Namun, Yunita dengan penanganan cepat dibantu oleh masyarakat memindahkan beberapa barang penting, dan meninggalkan rumahnya untuk sementara. Yunita menjadi salah satu penerima manfaat penyaluran Family Kit berkat kolaborasi mitra sekolah dan Dompet Dhuafa.


“Akhirnya kami waktu hujan deras tuh angkat barang lah dipanggil warga-warga angkat kayak peralatan rumah-rumah nih, dan pindah sementara kami ke tempat rumah mama ada satu bulan setengah situ,” kata Yunita.
Ketika terisolasi, bantuan hanya disalurkan melalui helikopter. Masyarakat dan para relawan bergotong royong membersihkan sisa-sisa reruntuhan longsor dan banjir. Alhamdulillah Family Kit berupa kasur, karpet dan selimut telah diterima Yunita dan para penyintas lainnya.

“Alhamdulillah bisa nambah kasur yang nyaman, itu untuk anak-anak, untuk kami di rumah, mau langsung dipakai nih. Terima kasih donatur yang udah kasih kasur selimut dari sini ke belakangnya belum ada pernah mendapatkan kasur terima kasih kak kakak ya semoga bermanfaat yang ngasih kasur sama kami semoga dilancarkan rezekinya,” kata Yunita.
Baca juga: Bangun Meunasah Al-Hijra, Dompet Dhuafa Bantu Warga Aceh Jemput Tarawih Perdana Ramadan 1447 H

Kolaborasi antar lembaga zakat seperti Dompet Dhuafa dan instansi pendidikan, dinilai menjadi kunci percepatan pemulihan Aceh. Dompet Dhuafa juga turut mengapresiasi kepada mitra kebaikan jaringan sekolah, yang telah berkontribusi dalam meringankan beban para penyintas pasca bencana Aceh yang terdampak serta memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Ronna

