LONDON, INGGRIS — Pada keesokan harinya, Bahrul Ulum, Dai Ambassador Dompet Dhuafa untuk Penugasan Dakwah di Inggris, memutuskan untuk berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London. Tujuan utamanya untuk melakukan Audensi dengan Duta Besar RI, Bapak Dr. Desar Percaya, Wakil Duta Besar, Ibu Syahadatun Donatiri, dan Ketua Pengajian Masyarakat Indonesia London (PMIL), pada Rabu (25/2/2026).
“Pada pertemuan tersebut kami membahasa banyak hal terkait sepak terjang Dompet Dhuafa, terutama dengan Ibu Dona. Selepas audensi, saya diajak menjelajahi kota sekitar KBRI oleh Bapak Djamal Djamalullail sambil menuju kereta bawah tanah yang legendaris, The Tube. Di dalam gerbong, saya duduk bersebrangan dengan seorang pria paruh baya yang sedang mengisi Sudoku. Di sini banyak penumpang yang enggan duduk di kursi, padahal kursinya kosong,” cerita Bahrul kepada tim Dompet Dhuafa.
Bahrul menambahkan bahwa di sepanjang perjalanan, Bapak Djamal menjelaskan tentang jenis dan macam-macam transportasi publik, serta arah dan stasiun yang harus saya tuju jika ingin bepergian. Bapak Djamal juga menjelaskan bahwa Mayor London beragama Muslim yaitu Sadiq Ahmad Khan. Bahkan ada beberapa pejabat tinggi lainnya di wilayah lain yang beragama islam.

Baca Juga: Cerita Dai Ambassador: London yang Dingin dan Sambutan Hangat
Kebebasan Beribadah
Saya kemudian bertanya kepada beliau, bagaimana umat islam di sini melaksanakan ritual ibadahnya? Bapak Djamal menjelaskan bahwa umat Islam bebas menjalankan ibadahnya. Bahkan banyak ditemukan masjid-masjid di kota London seperti Masjid IIC yang asalnya bekas Sinagog, kemudian berubah jadi Gereja. Namun karena tidak ada jamaahnya dan perawatannya mahal, maka kemudian di jual dan dijadikan Masjid pertama milik Indonesia.
“Seketika saya teringat berita yang saya baca sebelum berangkat ke Inggris. Berita tersebut menyebutkan sebanyak 30.000 lampu LED menerangi Coventry Street setiap malam dari pukul 5 sore hingga 5 pagi selama Ramadan. Kemudian akan berganti menjadi “Happy Eid” saat Idul Fitri tiba. Bapak Djamal membenarkannya. Bahkan beliau memperlihatkan video saat Mayor London meresmikannya. Selain lampu-lampu, terdapat juga ornament-ornamen Ramadan lainnya yang tergantung. London benar-benar serius merayakan Ramadan bersama warga muslimnya,” tutur Bahrul.
Selain Masjid, Bahrul juga menemukan tempat ibadah lainnya seperti tempat ibadah agama Sikh dan Hindu. Kalau tempat ibadah seperti Gereja memang tidak asing lagi, banyak di temukan di distrik-distrik di London.

Menyapa London, Menemukan Diri
Sebagai Da’i Ambassador dari Dompet Dhuafa, Bahrul Ulum datang ke Inggris dengan misi dakwah dan kemanusiaan. Tapi baru beberapa hari, justru London yang berdakwah padanya. Ia belajar bahwa Islam bisa tumbuh subur di mana saja. Bahkan di jantung peradaban Barat sekalipun. Bahrul Ulum belajar bahwa keramahan dan toleransi bukan monopoli negeri muslim. Ia belajar bahwa menjadi minoritas bukan alasan untuk melemah, justru bisa menjadi kekuatan untuk membangun jembatan antarperadaban.
“Ketika beraudiensi dengan ibu Dona, beliau menyampaikan, ustaz nanti ketika menyampaikan materi tolong sisipkan local content, saya jawab siap Bu. Tapi ternyata setelah melakukan pengamatan dan observasi selama tiga hari, saya justru menemukan kedisiplinan di London. Tidak ada orang makan sembarang, berjualan sembarangan, justru suasana Ramadan yang mendukung sekali di sini. Tidak mudah bagi seorang muslim yang berpuasa untuk tergoda oleh makanan atau teman yang tidak puasa, ditambah lagi budaya kerja,” pungkas Bahrul.
Bahrul membandingkannya dengan di Indonesia, meskipun mayoritas muslim dan terdapat himbauan untuk tidak berjualan makanan di siang hari, tapi tetap saja kita kerap menemukan para pedagang makanan atau minuman menjajakannya di siang hari. Di London, di stasiun terbesar seperti Victoria saya tidak menemukan orang-orang makan sembarang di tempat umum, padahal mereka bukan muslim. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Bahrul Ulum, Dai Ambassador Dompet Dhuafa penugasan Inggris
Penyunting: Taufan YN

