Hampir semua Muslim Indonesia udah pasti pernah dengar kata imsak. Beberapa mungkin juga merasa kaget saat tiba-tiba ada suara lantang “imsaaaaak” atau sirine yang bunyi waktu lagi enak-enak makan sahur. Kalau sudah begitu, mendadak jadi panik, buru-buru minum air putih bahkan mungkin sampai tersedak. Haha… Ettt, tapi imsak itu bukan batas makan sahur loh!
Mungkin karena sudah jadi budaya ya alias Ramadan Kalcer, jadi sebagian besar orang nggak begitu memahami bahwa imsak itu bukan batas makan sahur. Padahal, faktanya imsak itu bukan “lampu merah” ataupun tanda bahwa puasa sudah dimulai. Terus imsak tuh apa dong? Yuk, kita bedah fenomena Ramadan Kalcer yang satu ini biar sahurmu lebih tenang!
Asal-Usul Tradisi Imsak
Bila merujuk hadis Nabi Saw yang berbunyi:
“Diriwayatkan dari Qatadah, dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Saw dan Zaid bin Tsabit makan sahur bersama. Setelah keduanya selesai makan sahur, beliau lalu bangkit melaksanakan salat. Kami [para Sahabat] bertanya kepada Anas, ‘Berapa rentang waktu antara selesainya makan sahur hingga keduanya melaksanakan salat?’ Anas bin Malik menjawab, ‘Kira-kira waktu seseorang membaca lima puluh ayat’.”
(HR Al-Bukhari)
Kita tidak akan menemukan kata imsak sama sekali. Namun, ada keterangan implisit yang dapat diartikan bahwa Nabi Muhammad menyelesaikan makan sahur dan memberi durasi waktu antara selesainya makan sahur dan azan Subuh sekitar 50 bacaan ayat Qur’an.
Dahulu, menyebut jumlah ayat Qur’an merupakan teknik menghitung waktu, sebelum akhirnya ada teknologi bernama jam. Meski sulit untuk didefinisikan oleh orang biasa, namun itu adalah pilihan yang paling mudah pada waktu itu. Nah, dan pada masa itu, 50 ayat setara dengan sekitar 10 hingga 15 menit.
Kegiatan menahan diri sebagai persiapan menuju azan Subuh yang dilakukan Nabi Saw itu tidak memiliki istilah khusus. Tetapi, secara substansial aktivitas ini sama dengan kultur imsak di Indonesia. Istilah imsak sendiri dipinjam dari bahasa Arab, namun artinya berbeda dengan yang ada pada ilmu fikih. Imsak dalam literatur fikih merujuk pada pengertian puasa, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berhubungan badan, sengaja muntah dan sebagainya.
Jadi, jelas bahwa imsak punya landasan tekstual dalam hadis Nabi Saw, hanya saja istilah yang digunakan warga Indonesia berbeda dengan istilah fikih. Dan yang paling penting, imsak bukan batas makan sahur. Selain itu, hadis di atas juga menegaskan bahwa batas makan sahur itu adalah terbitnya fajar atau waktu Subuh.
Ibnu Hajar menjelaskan:
“Penulis menunjukkan bahwa waktu pertama fajar adalah saat fajar terbit, karena itu adalah waktu di mana makan dan minum diharamkan. Sedangkan jeda antara selesainya sahur dan masuknya waktu salat, yaitu durasi membaca 50 ayat atau sejenisnya sekitar sepertiga dari seperlima jam (4 menit), mungkin setara dengan waktu berwudu.”
(Ibnu Hajar Al-‘Asqallani dalam Fathul Bari)
Imsak Bukan Batas Makan Sahur
Tradisi Imsak dari Masa ke Masa
Di Indonesia, imsak sudah jadi bagian dari budaya. Jauh sebelum ada notifikasi smartphone, para ulama Nusantara menetapkan waktu imsak sebagai pengingat bagi masyarakat. Tujuannya mulia: supaya kita punya jeda waktu untuk bersiap-siap, membersihkan sisa makanan, dan tidak “kaget” saat azan Subuh tiba. Jadi, imsak adalah bentuk kasih sayang lokal agar ibadah kita lebih terjaga.
Boleh Nggak Makan Sesudah Imsak?
Jawabannya singkat: Boleh banget! Secara hukum syariat, batas akhir makan sahur yang sebenarnya adalah terbitnya fajar shadiq, yang ditandai dengan kumandang azan Subuh. Selama azan belum berkumandang, kamu masih punya hak untuk menelan suapan terakhirmu.
Perbedaan Imsak dan Subuh yang Sering Tertukar
Biar nggak bingung, coba kita pakai analogi lampu lalu lintas. Imsak adalah lampu kuning di mana kamu harus berhati-hati, karena waktu sahur tinggal 10 menit lagi. Maka segera selesaikan porsi makanmu. Sementara, Subuh adalah lampu merah di mana kamu harus berhenti makan dan minum total dan puasa resmi dimulai.
Jadi, imsak itu ibarat warning buat kamu yang makannya lambat atau hobi nambah porsi di menit terakhir.
“Life Hack” Sahur: Apa yang Harus Dilakukan Saat Imsak?
Daripada panik, manfaatkan 10 menit waktu imsak untuk hal yang lebih berfaedah, seperti minum banyak air, sedikit demi sedikit. Lalu, sikat gigimu atau bersiwak agar mulut segar selama berpuasa. Dan yang terakhir, persiapkan diri untuk salat Subuh, ambil wudu lebih awal supaya bisa melaksanakan salat fajar sebelum Subuh.
Kenapa Jadwal Imsak di Tiap Daerah Beda?
Mungkin kamu bingung kenapa jadwal imsak di Jakarta beda dengan di Surabaya. Ini berkaitan dengan posisi matahari dan koordinat geografis. Karena itulah, penting untuk selalu memantau Jadwal Imsakiyah 2026 yang resmi dikeluarkan oleh Kementerian Agama agar jadwal sahurmu tetap akurat sesuai domisili.
Baca juga: Ini 8 Aturan Puasa Ramadan yang Sebenarnya Keliru, Simak Deh!
Ibadah Tenang, Ramadan Makin Berkesan
Imsak bukanlah musuh bagi kamu yang telat bangun sahur. Ia adalah pengingat agar kita bisa memasuki waktu ibadah dengan cara yang paling tenang dan bersih. Jangan lagi jadikan imsak sebagai momen “balapan” makan yang bikin tersedak.
Ingat, transisi dari meja sahur menuju sajadah untuk salat Subuh adalah waktu yang sangat istimewa. Sambil menunggu azan berkumandang, kamu bisa menyempurnakan keberkahan pagi itu dengan satu amalan sederhana namun dahsyat, yakni Sedekah Subuh.
Konon, setiap pagi ada malaikat yang turun mendoakan mereka yang berbagi. Jadi, sembari kamu menuntaskan suapan terakhir dan bersiap salat Subuh, yuk sisihkan sedikit rezeki untuk mereka yang membutuhkan. Ibadahnya dapat, ketenangannya dapat, dan insyaallah, pahala jariyahnya pun mengalir lancar. (Dompet Dhuafa/RQA)


