Dari Ibu untuk Bumi: Merawat Kehidupan, Lestarikan Lingkungan

Diverse volunteers wading in a shallow pond, planting young mangrove saplings along the shore.

Meningkatnya harga plastik yang dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku global akibat kondisi geopolitik di Timur Tengah, ramai diperbincangkan di jagad sosial media. Beberapa di antaranya dikemas dalam bentuk konten kreatif, seperti parodi mengubah kemasan makanan hingga kemasan belanja online menggunakan daun pisang sebagai alternatif yang lebih ekonomis.

Di sisi lain, fenomena konten daun pisang sebagai kemasan itu disebut juga dapat menginspirasi masyarakat untuk benar-benar beralih menggunakan produk ramah lingkungan. Sebab, sampai saat ini penggunaan plastik masih tidak luput dalam berbagai kebutuhan sehari-hari.

Padahal, sampah plastik membutuhkan ratusan hingga ribuan tahun untuk bisa terurai dengan sempurna. Tentunya hal itu menimbulkan berbagai dampak buruk bagi lingkungan karena dengan pengelolaannya yang tidak tepat seperti dibakar bisa mencemari udara. Lalu jika ditimbun di dalam tanah juga akan mencemari tanah.

Meski begitu, beberapa produk berbahan dasar plastik yang digunakan sehari-hari merupakan produk sekali pakai sehingga meningkatnya timbunan sampah plastik pun tidak terhindarkan.

Adapun data yang tercatat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), per 2021, aktivitas rumah tangga masih menjadi penyumbang sampah nasional paling banyak dengan persentase 42,23 persen. Permasalahan sampah ini pun terus berlanjut seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk setiap tahunnya.

Baca juga: DD Volunteer Gelorakan Tebar Hewan Kurban Asik Tanpa Sampah Plastik

Person in orange safety gear wading in murky water, picking up debris from a trash-filled riverbank area with branches and litter scattered around

Di Indonesia sendiri, pengelolaan sampah dengan tepat belum benar-benar banyak diterapkan. Penimbunan sampah plastik bercampur dengan sampah organik masih kerap ditemukan sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan yang lebih buruk.

Hasil penelitian dari Universitas Gadjah Mada berjudul “Pemberdayaan Perempuan dalam Perspektif Ekofeminisme: Studi Kasus Bank Sampah Wirosaban Mandiri di Kota Yogyakarta” menyebutkan bahwa perempuan, dengan komunitasnya, mampu menggerakkan masyarakat untuk memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan melalui edukasi.

Dalam studi tersebut juga disebutkan, peran perempuan dalam hal ini sebagai upaya penyetaraan peran untuk menjadi agen perubahan atau agent of change dalam melestarikan lingkungan.

Perempuan yang juga cenderung aktif dalam komunitas dapat memberikan edukasi kepada masyarakat untuk turut menerapkan pengelolaan sampah rumah tangga dengan tepat. Dengan upaya pengelolaan sampah rumah tangga ini akan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif pada masyarakat untuk turut menjaga lingkungan.

Sementara itu, dalam berbagai peringatan hari bumi internasional, digunakan istilah ‘Mother Earth’ sebagai metafora untuk menggambarkan bumi sumber kehidupan yang perlu dirawat dan dihormati.

Melansir laman earthday.org, dijelaskan bahwa metafora bumi sebagai ibu pertiwi atau Mother Earth sama halnya dengan seorang ibu yang mengasuh, melindungi, mengajari, dan memberikan segalanya untuk kehidupan. Namun energi dan sumber daya mereka terbatas dan tidak berkelanjutan jika kita hanya menerima tanpa memberi kembali.

Baca juga: DD Volunteer Gelar Aksi Kepung Sampah di NTT, Sampah Plastik dan Sisa Makanan Mendominasi

Group of women wearing hijabs and masks, gloves on, working at a table with green trays in a classroom.

Begitu juga dengan bumi sebagai tempat tinggal kita yang udaranya kita hirup, makanan yang dihasilkannya memberikan kehidupan untuk kita, tidak akan berkelanjutan jika kita tidak merawat dan menjaganya.

Dalam perspektif ekofeminisme, metafora Mother Earth dikaitkan pada pengalaman perempuan dalam merawat kehidupan sehingga dalam hal ini peranan perempuan penting sebagai agen perubahan dalam menjaga lingkungan.

Sejalan dengan hal itu, semangat emansipasi yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini juga mendorong perempuan untuk berperan aktif dalam perubahan sosial termasuk isu lingkungan sehingga peran perempuan tidak hanya sebatas aktivitas domestik.

Dengan pemikirannya, Kartini mendorong perempuan agar memiliki kesetaraan dalam kehidupan sosial dengan menjadi pelaku aktif yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai tantangan di masyarakat termasuk dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Sehingga metafora Mother Earth di Indonesia dapat dimaknai dengan aksi nyata perempuan dalam pelestarian lingkungan dengan semangat emansipasi Kartini. Aksi nyata tersebut juga bertepatan dengan tanggal peringatannya yang berurutan yakni pada tanggal 21 April sebagai peringatan Hari Kartini dan tanggal 22 April sebagai peringatan Hari Bumi.

Dalam hal ini, Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) dan Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) turut menggalakkan aksi nyata bersama perempuan hebat dalam mengatasi permasalahan sampah sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Person planting a small sapling in soil with the hands guiding it into the ground.

Melalui program yang bertajuk “Dari Ibu untuk Bumi: Penyadartahuan Bijak Kelola Sampah Rumah Tangga”, Dompet Dhuafa mengajak ibu-ibu yang tergabung dalam Pemberdayaan Majelis Ta’lim Ummahat (PMTU) binaan Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa untuk menjadi penggerak di masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam pelaksanaannya, program ini tidak hanya bersifat edukasi, namun turut memberdayakan ibu-ibu secara berkelanjutan sehingga dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.

Program tersebut akan mulai digelar pada peringatan hari bumi tepatnya pada tanggal 22 April 2026 dengan melibatkan PMTU dari wilayah Jatiasih, Bekasi. Mari bersama-sama turut mengambil peran bersama para ibu hebat dalam menjaga bumi. Berikan kontribusi terbaikmu melalui s.id/ibubumi. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: LPM
Penyunting: Dhika