Dari Bonus Miliaran ke Ladang Kebaikan: Kisah di Balik Gemerlap Piala Dunia

Large colorful geodesic sphere sculpture by the waterfront, with red, green, and white panels, set against modern glass skyscrapers and a clear blue sky.

Piala Dunia 2026 tengah menjadi perhatian jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia. Di balik gol-gol indah dan perayaan kemenangan yang menghiasi layar televisi, terdapat sisi lain yang jarang menjadi sorotan dalam ajang tersebut.

Industri sepak bola dunia tidak hanya menghasilkan prestasi dan popularitas, tetapi juga menghadirkan perputaran ekonomi dalam jumlah yang sangat besar. Mulai dari hadiah turnamen, bonus pertandingan, kontrak sponsor, hingga gaji pemain profesional, semuanya menunjukkan betapa besarnya nilai ekonomi yang bergerak di balik sebuah kompetisi olahraga.

Dalam konteks atlet profesional, para ulama juga menjelaskan bahwa penghasilan yang telah mencapai nisab dan memenuhi syarat tertentu wajib dikeluarkan zakatnya. Konsep ini dikenal sebagai zakat penghasilan atau zakat profesi, yang menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial dalam Islam.

Harta yang Tumbuh Melalui Berbagi

Di tengah gemerlap dunia sepak bola, terdapat berbagai kisah yang menunjukkan bagaimana kekayaan dapat menjadi sarana untuk membantu sesama.

Salah satu contoh yang banyak diberitakan media internasional adalah Hakim Ziyech. Pemain Tim Nasional Maroko tersebut dikenal sering menyumbangkan bonus yang diterimanya dari tim nasional untuk membantu masyarakat yang membutuhkan di negaranya. Sementara itu, pesepakbola asal Senegal, Sadio Mané, menggunakan sebagian penghasilannya untuk membangun rumah sakit, sekolah, dan berbagai fasilitas publik di kampung halamannya, Bambali.

Terlepas dari besar atau kecilnya jumlah yang diberikan, kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa harta dapat menjadi sarana menghadirkan manfaat yang lebih luas. Apa yang dimiliki seseorang tidak hanya dapat dinikmati sendiri, tetapi juga menjadi jalan untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Nilai inilah yang sejalan dengan ajaran Islam tentang sedekah.

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS Al-Baqarah: 261)

Ayat di atas mengingatkan bahwa harta yang dikeluarkan untuk kebaikan tidak akan berkurang nilainya di sisi Allah Swt. Sebaliknya, sedekah menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.

Dan semangat berbagi dapat dilakukan oleh siapa saja sesuai kemampuan masing-masing. Sebab dalam Islam, yang utama bukanlah jumlahnya, melainkan keikhlasan dan manfaat yang dihadirkan.

Baca juga: Negara Mayoritas Muslim Jadi Partisipan Terbanyak di Piala Dunia 2026, Catat Sejarah dan Mulai Tampil Sebagai Kekuatan Baru

Euforia Piala Dunia sebagai Momentum Kebaikan

Piala Dunia mengajarkan tentang kerja keras, disiplin, dan semangat kompetisi. Setiap tim berusaha memberikan yang terbaik demi meraih kemenangan dan membawa pulang trofi yang diimpikan.

Namun bagi seorang Muslim, ada perlombaan lain yang tidak kalah penting, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Semangat untuk menjadi yang terbai, tidak hanya diwujudkan dalam urusan dunia, tetapi juga dalam upaya membantu sesama dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Momentum Piala Dunia 2026 dapat menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, melainkan juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Ketika sebagian orang berlomba mencetak gol di lapangan hijau, setiap Muslim juga memiliki kesempatan untuk mencetak “gol-gol kebaikan” melalui zakat, infak, sedekah, maupun wakaf.

Dari bonus miliaran hingga rezeki yang Allah titipkan kepada setiap hamba-Nya, semuanya dapat menjadi ladang kebaikan jika dimanfaatkan untuk membantu sesama. Mari jadikan semangat Piala Dunia tahun ini sebagai momentum untuk memperbanyak amal saleh dan menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan melalui Sedekah untuk Yatim, Ikhtiar Meneladani Rasulullah Saw.

Karena kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang berhasil kita raih, tetapi juga tentang manfaat yang dapat kita tinggalkan bagi sesama. (Dompet Dhuafa)

Penulis: Nurul
Penyunting: Dhika