Perhelatan sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia 2026 telah digelar. Di tengah riuh sorak-sorai stadion dan jutaan pasang mata yang tertuju pada Piala Dunia 2026, sejarah baru tercipta. Untuk pertama kalinya, turnamen sepak bola terbesar di dunia ini diikuti oleh jumlah negara mayoritas Muslim terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraannya.
Ajang yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini diikuti oleh 14 negara muslim yang turut menampilkan identitas dan semangat masyarakatnya di panggung sepak bola internasional.
Negara-negara tersebut antara lain Aljazair, Bosnia dan Herzegovina, Mesir, Iran, Irak, Yordania, Maroko, Qatar, Arab Saudi, Senegal, Pantai Gading, Tunisia, Turki, dan Uzbekistan.
Data yang dirilis Seasia Stats menunjukkan kehadiran negara-negara mayoritas Muslim makin kuat di panggung sepak bola internasional. Mereka tidak lagi sekadar menjadi peserta, tetapi mulai tampil sebagai kekuatan yang mampu bersaing dengan negara-negara tradisional penguasa sepak bola dunia.
Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 menjadi turnamen bersejarah dengan menghadirkan 48 tim nasional, lebih dari 1.200 pemain, dan total 104 pertandingan.
Dari debut Yordania dan Uzbekistan hingga kembalinya Irak setelah 40 tahun absen, negara-negara Muslim menunjukkan perkembangan signifikan dalam peta kekuatan sepak bola dunia. Tentunya, momentum ini menjadi kebanggaan tersendiri. Sepak bola menjadi ruang bagi negara berkembang untuk menunjukkan kemampuan, identitas, dan pengaruhnya di panggung internasional.
Kehadiran Irak juga membawa cerita menarik bagi Indonesia. Pemain Persib Bandung, Frans Putros, menjadi bagian dari skuad Irak di Piala Dunia 2026.
Baca juga: Jalur Langit ala Islam Slimani: Cetak Gol dan Hadiahkan Seluruh Hadiah Untuk Warga Gaza
Dalam beberapa tahun terakhir, sepak bola di negara-negara mayoritas Muslim menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Hal ini terlihat dari makin banyaknya investasi untuk pembinaan pemain muda, pembangunan stadion dan fasilitas olahraga, serta peningkatan kualitas liga domestik di masing-masing negara.
Kesuksesan Maroko yang menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia 2022 menjadi salah satu titik balik penting. Prestasi tersebut membuktikan bahwa negara-negara Muslim kini tidak lagi hanya menjadi peserta di Piala Dunia, tetapi juga mampu bersaing dan mengalahkan tim-tim besar dunia.
Kemajuan serupa juga terlihat di kawasan Asia. Negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Iran, Irak, dan Uzbekistan terus menunjukkan peningkatan performa dari tahun ke tahun. Sementara di Afrika, Senegal, Mesir, Aljazair, dan Tunisia tetap menjadi tim-tim kuat yang kerap memberikan perlawanan sengit di berbagai ajang internasional.
Sepak bola membuktikan bahwa olahraga dapat menjadi bahasa universal yang menyatukan berbagai latar belakang budaya, agama, dan kebangsaan.
Bertambahnya representasi negara-negara Muslim di Piala Dunia juga membawa pesan penting bagi generasi muda. Mereka kini memiliki lebih banyak figur inspiratif yang berasal dari latar belakang yang dekat dengan kehidupan mereka.
Anak-anak di berbagai negara Muslim dapat melihat bahwa mimpi untuk tampil di panggung dunia bukanlah sesuatu yang mustahil. Dengan kerja keras, pembinaan yang baik, dan dukungan yang memadai, mereka juga bisa mengikuti jejak para pemain yang kini mengharumkan nama bangsa di kompetisi terbesar dunia.
Sepak bola dan Piala Dunia juga mengajarkan bahwa kemenangan tidak diraih oleh satu pemain saja. Kesuksesan lahir dari kerja sama, saling mendukung, dan bergerak menuju tujuan yang sama.
Begitu pula dalam upaya mengatasi berbagai persoalan sosial. Tidak ada satu pihak yang mampu menyelesaikannya sendirian. Dibutuhkan partisipasi banyak orang yang memiliki kepedulian dan keinginan untuk berbagi.
Momentum Piala Dunia 2026 dapat menjadi pengingat bahwa kebanggaan sebagai bagian dari umat Muslim global tidak hanya ditunjukkan melalui dukungan kepada tim-tim yang bertanding, tetapi juga melalui kontribusi nyata untuk membantu sesama.
Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi di akhir turnamen. Kemenangan terbesar adalah ketika semangat persaudaraan mampu menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan, serta menjadikan dunia tempat yang lebih baik untuk semua.
Kemenangan itu bisa kamu dapatkan di momentum bulan Muharram 1448 H. Di bulan yang penuh kemuliaan, keberkahan, dan sejarah dalam agama Islam. Bulan ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan keimanan dan memperbanyak amal saleh.
Salah satunya dengan memuliakan anak-anak yatim. Keutamaan Bulan Muharram untuk Anak Yatim tercermin dalam tradisi mulia yang dikenal sebagai “Lebaran Anak Yatim”, terutama pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura. Dari perspektif keimanan Muslim, bulan ini menjadi momen untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam menyayangi anak yatim.
Mari jadikan Bulan Muharram sebagai waktu terbaik untuk menabur kebaikan melalui https://digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim (Dompet Dhuafa)
Penulis: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Dhika

