Rasulullah Saw pernah memberikan “kunci” bagi umatnya untuk meraih keluasan rezeki melalui sebuah janji yang indah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah sebagaimana tercatat dalam kitab-kitab induk hadis seperti Al-Mu’jam al-Kabir karya al-Thabarani dan Syua’b al-Iman karya al-Baihaqi Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ
“Barangsiapa yang melapangkan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun itu.”
(HR At-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Pesan ini selaras dengan ulasan dalam buku Amalan Sepanjang Tahun: Meraih Pahala di Bulan-bulan Hijriah karya Hj. Fadillah Ulfa, Lc, MA, yang menekankan bahwa Hari Asyura bukan sekadar tanggal di kalender Hijriah. Momen ini adalah waktu istimewa untuk berderma kepada sanak saudara, fakir, maupun miskin.
Ajaran ini tercermin nyata dalam kisah seorang saudagar Mesir pedagang kurma bernama Athiyah bin Khalaf yang menolong anak yatim. Dahulu ia dikenal sebagai saudagar kaya raya yang dihormati, namun roda kehidupan berputar. Ia jatuh pailit hingga hartanya benar-benar habis, menyisakan satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhnya.
Di Hari Asyura yang penuh kemuliaan, Athiyah menunaikan salat Subuh di Masjid Amru bin Ash. Saat ia sedang merenung di sudut masjid, seorang ibu bersama anak-anaknya yang kelaparan menghampirinya.
“Tuan, tolong lepaskan aku dan anak-anakku dari kesulitan ini,” pinta wanita itu dengan suara bergetar.
“Suamiku telah meninggal tanpa mewariskan apa pun. Aku terpaksa meminta-minta karena tidak ada jalan lain untuk bertahan hidup,” lanjutnya.
Athiyah terdiam, hatinya bergemuruh. Ia sadar, ia sendiri sedang dalam kesulitan hebat. Dalam benaknya, sebuah pergulatan batin terjadi: “Apa yang bisa kuberikan? Pakaian ini adalah satu-satunya hartaku. Jika kuberikan, auratku akan terbuka. Namun, jika kutolak, bagaimana pertanggungjawabanku di hadapan Rasulullah Saw nanti?”
Tekadnya bulat. Ia lebih memilih untuk bersedekah meski harus menanggung malu.
“Baiklah, Ibu, ikutlah denganku ke rumah,” ucapnya lembut.
Sesampainya di rumah, Athiyah menyuruh wanita itu menunggu di luar. Ia melepas satu-satunya busana yang ia miliki dan menyodorkannya dari balik pintu.
Wanita itu menerima sedekah tersebut dengan takzim dan mendoakan Athiyah, “Mudah-mudahan Allah Swt memberi Tuan pakaian dan perhiasan dari surga dan Tuan tidak akan lagi memerlukan bantuan dari orang lain selama hidup”.
Sejak hari itu, Athiyah mengunci diri di rumah. Ia tidak lagi memikirkan dunia, melainkan mengisi hari-harinya dengan berzikir tanpa henti. Hingga pada suatu malam, ia terlelap dalam sebuah mimpi yang agung. Ia melihat seorang bidadari cantik jelita memegang apel beraroma harum yang, saat dibelah, mengeluarkan perhiasan-perhiasan indah dari surga.
“Siapakah engkau?” tanya Athiyah takjub.
“Saya Asyura’, istri engkau dalam surga ini,” jawab bidadari itu.
“Bagaimana aku bisa mendapatkan kebahagiaan seperti ini?” tanya Athiyah.
Bidadari itu tersenyum tenang lalu berkata, “Ini adalah balasan berkat doa wanita yang engkau tolong di hari Asyura kemarin”.
Athiyah tersentak bangun. Hatinya meluap dengan kegembiraan yang luar biasa. Ia segera berwudu dan menunaikan salat dua rakaat sebagai wujud syukur yang mendalam. Sembari memanjatkan doa, ia memohon kepada Sang Pencipta, “Ya Allah, andai benar mimpiku tadi dan bidadari itu yang akan menjadi istriku, cabutlah nyawaku sekarang juga agar aku segera mendapatkannya”.
Doa yang tulus itu langsung menembus langit. Belum sempat ia menutup ucapannya, Allah Swt mengabulkan permintaannya. Athiyah bin Khalaf menghembuskan napas terakhirnya di saat itu juga, menjemput kebahagiaan abadi yang dijanjikan.
Kisah Athiyah menjadi pengingat bagi kita bahwa sedekah di Hari Asyura adalah tentang ketulusan yang melampaui logika duniawi. Ketika kita mampu melapangkan kesulitan orang lain, Allah Swt tidak hanya melapangkan urusan hidup kita di dunia, tetapi juga telah menyiapkan tempat yang mulia di sisi-Nya.
Baca juga: Anjuran Puasa di Bulan Muharram dan Momentum Emas di Hari Asyura
Bulan Muharram adalah waktu yang tepat untuk menanam benih kebaikan. Jangan biarkan momentum Hari Asyura berlalu tanpa amal nyata. Mari ringankan beban saudara kita, khususnya anak-anak yatim yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Jadikan sedekah Anda sebagai pembuka pintu keberkahan sepanjang tahun melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim. (Dompet Dhuafa)
Penulis: Roseta
Penyunting: Dhika

