Anjuran Puasa di Bulan Muharram dan Momentum Emas di Hari Asyura

Bulan Muharram bukan sekadar pembuka lembaran tahun baru Hijriah. Bagi seorang Muslim, bulan ini adalah “madrasah” spiritual yang menyimpan kemuliaan besar. Di dalamnya, terselip hari-hari istimewa yang menjadi momentum emas untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam sebuah kajian, para ulama membagi sepuluh hari istimewa dalam setahun ke dalam tiga kelompok utama: sepuluh hari pertama Muharram (termasuk hari Asyura), sepuluh hari terakhir Ramadan (termasuk Lailatul Qadar), dan sepuluh hari pertama Zulhijah (termasuk hari Arafah).

Memaknai Asyura: Lebih dari Sekadar Angka

Secara bahasa, Asyura berasal dari kata Al-Asyirah (kesepuluh), merujuk pada hari ke-10 bulan Muharram. Namun, makna Asyura jauh lebih dalam dari sekadar angka; ia adalah simbol pemuliaan dan pengagungan. Hari Asyura adalah hari penuh berkah di mana pintu ampunan terbuka lebar bagi mereka yang bersungguh-sungguh bertaqarrub melalui sedekah, puasa, dan amal saleh.

Keagungan Asyura telah diakui, bahkan sebelum Islam datang. Hari ini menjadi saksi bisu pertolongan Allah Swt kepada para Nabi-Nya.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw menjelaskan alasan mengapa umat Islam sangat memperhatikan hari ini:

هَذَا الْيَوْمُ الَّذِيْ نَجَّى اللهُ مُوْسَى وَبَنِي إِسْرَائِيْلَ مِنَ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيْهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيْهِ السَّفِيْنَةُ عَلَى ..
الْجُودِيِّ، فَصَامَ نُوْحُ وَمُوْسَى شُكْرًا لِلهِ تَعَالَى

“Hari ini adalah hari ketika Allah Swt menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari penenggelaman dan menenggelamkan Fir’aun. Di hari ini (pula) perahu Nabi Nuh mendarat di puncak Jûdi. Nabi Nuh dan Nabi Musa pun berpuasa (pada hari ini) sebagai tanda syukur mereka kepada Allah!” (HR Ahmad)

Mendengar hal tersebut, Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya aku lebih berhak daripada Nabi Musa untuk berpuasa pada hari ini.”

فَقَالَ التَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْم

Bahkan, dalam kitab Mukâsyafah al-Qulûb, Imam al-Ghazali merangkum peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi pada hari Asyura. Mulai dari penciptaan alam semesta, diangkatnya Nabi Isa as ke langit, hingga diterimanya taubat Nabi Adam as, semuanya terjadi di hari yang agung ini.

Pada mulanya, puasa Asyura sempat diwajibkan bagi kaum muslimin. Namun, setelah turun perintah puasa Ramadan, hukumnya berubah menjadi sunah. Aisyah ra meriwayatkan:

كَانَتْ قُرَيْشُ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَصُوْمُهُ، فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِيْنَةِ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فَرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ: مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Dahulu orang-orang Quraisy berpuasa Asyura pada zaman jahiliah. Rasulullah Saw sendiri juga berpuasa Asyura. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau terus melaksanakan puasa Asyura dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. Lalu, ketika diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadan beliau bersabda, ‘Barang siapa yang mau berpuasa Asyura, berpuasalah dan barang siapa yang ingin meninggalkannya, tinggalkanlah’.” (HR Bukhari dan Muslim)

Meskipun hukumnya kini sunah, keutamaannya sangatlah besar. Puasa di hari Asyura menjadi sarana untuk menghapus dosa-dosa kecil setahun sebelumnya. Rasulullah Saw bersabda:

“Ia (puasa Asyura) dapat menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” (HR Muslim)

Mengenal keagungan hari Asyura seharusnya mendorong kita untuk tidak melewatkan momen berharga di bulan Muharram. Selain berpuasa, kita dianjurkan untuk mengisi hari-hari istimewa ini dengan memperbanyak sedekah dan amal saleh lainnya.

Mari kita jadikan bulan Muharram sebagai titik tolak untuk memperbaiki kualitas diri di tahun yang baru. Sudahkah kita menyiapkan niat untuk meneladani Nabi Musa as dalam bersyukur dan mengikuti sunah Rasulullah Saw melalui puasa Asyura?

Bukan hanya soal berpuasa, Asyura juga bisa menjadi momen tepat untuk meneladani Rasulullah Saw dalam menyantuni anak yatim. Yuk, kamu bisa berdonasi melalui https://digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim. (Dompet Dhuafa)

Teks: Roseta
Penyunting: Dhika