Ini Tren Hijrah Versi Gen Z, Udah Siap Belum?

Illustrated Muslim teacher streaming a live Islamic lesson from a desk, with a microphone, Quran, laptop, books, and social media icons around him.

JAKARTA — Di tengah informasi yang mudah diakses melalui media sosial yang serba cepat dan penuh distraksi, ada satu fenomena menarik di kalangan anak muda Gen Z, yaitu hijrah. Kalau dulu hijrah lebih dikenal sebagai istilah yang merujuk pada perjalanan fisik Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Sekarang, makna hijrah jauh lebih luas dari sekadar berpindah tempat.

Hijrah di kalangan Gen Z sekarang lebih dipahami sebagai perubahan gaya hidup, menuju ke arah yang lebih baik, sesuai dengan nilai-nilai agama, dan menuju kehidupan yang selaras dengan ajaran Islam.

Uniknya, tren hijrah ini justru makin booming berkat media sosial. Proses hijrah kekinian menjadi pilihan para Gen Z. Bagi sebagian banyak Gen Z, media sosial malah jadi tempat untuk mencari inspirasi dan motivasi untuk hijrah, sekaligus menemukan komunitas yang punya tujuan serupa.

Data statistik turut memperkuat tren ini. Survei yang dilakukan oleh Ahmad Hidayat (2021) menunjukkan bahwa 78% remaja Muslim usia 15–22 tahun di kota-kota besar Indonesia mengakses media sosial untuk mendapatkan konten keagamaan setidaknya dua kali seminggu. YouTube (69%), Instagram (61%), dan TikTok (52%) menjadi platform paling dominan untuk konsumsi konten Islam.

Berdasarkan Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam 2025 yang dirilis Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Gen Z mencatat nilai tertinggi dalam kemampuan membaca Al-Qur’an sebesar 56,29% dibanding generasi lain. Selain itu, Gen Z juga meraih skor toleransi beragama sebesar 80,03% lebih tinggi dibanding Milenial 78,77%, Generasi X 78,97%, maupun Baby Boomers 78,81%

Gen Z dan Media Sosial

Sebelum membahas lebih jauh soal hijrah versi Gen Z. Mari kita bahas karakteristik Gen Z yang dikenal sebagai natives alias generasi yang sejak kecil sudah sangat akrab dengan berbagai macam perangkat digital seperti smartphone, tablet, hingga komputer. Hellen Chou P menyatakan bahwa Gen Z atau dikenal dengan generasi digital adalah generasi muda yang memiliki ketergantungan besar terhadap teknologi digital.

Mulai dari scrolling Instagram, nonton YouTube, ikut live di TikTok, hingga live streaming gim terbaru. Semuanya adalah aktivitas yang hampir tak pernah lepas dari keseharian anak-anak muda. Namun, di balik semua kesenangan yang ditawarkan oleh dunia digital ini, banyak juga Gen Z merasa jenuh.

Meski tampak selalu update dengan tren terbaru, tersimpan rasa lelah yang datang dari tekanan yang untuk selalu tampil sempurna di media sosial. Di sini lah hijrah mulai jadi pilihan, banyak yang merasa perlu rehat dari kehidupan yang terlalu berorientasi pada dunia, dan hijrah jadi jawaban buat mereka yang ingin mencari makna hidup yang lebih dalam.

Platform digital mampu memudahkan belajar agama dari mana saja. Banyak influencer hijrah, ustaz dan ustazah muda yang aktif menyebarkan konten edukatif tentang hijrah lewat video pendek, postingan Instagram, atau thread di X.

Contohnya di TikTok, sering kali kita temui video-video singkat yang berbagi kisah inspiratif tentang perjalanan hijrah. Mulai dari cerita orang yang meninggalkan kebiasaan buruk, mulai berhijab, tips-tips praktis buat tetap istikamah di jalan yang benar sampai memilih gaya hidup yang lebih Islami. Semua bisa diakses dengan mudah, gaya penyampaiannya pun santai dan relatable, bikin anak-anak muda nggak merasa digurui, tapi justru termotivasi.

Misalnya, ada influencer yang dulunya dikenal sebagai selebgram dengan gaya hidup bebas, sekarang justru aktif menyebarkan konten-konten Islami. Dari sini banyak Gen Z yang jadi terinspirasi buat ikut hijrah. Karena merasa, kalau mereka aja bisa berubah, kenapa kita nggak?

Hari ini, mungkin kita tidak perlu meninggalkan kota tempat tinggal. Namun, bisa jadi ada hal-hal lain yang harus kita tinggalkan agar hidup menjadi lebih baik. Muharram, sebagai awal tahun baru Islam, adalah waktu yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri.

“Jika hari ini adalah awal hijrahku, apa yang harus aku tinggalkan?”

Tinggalkan Toxic Relationship

Kita harus memahami bahwa nggak semua orang yang hadir dalam hidup kita membawa kebaikan. Ada hubungan yang membuat seseorang berkembang, ada juga yang membuat luka. Hubungan yang dipenuhi manipulasi, merendahkan harga diri, menghambat pertumbuhan, atau menjauhkan dari nilai-nilai kebaikan sering kali hanya menyisakan kelelahan emosional.

Tentu nggak mudah untuk bisa keluar dari lingkaran toxic relationship, banyak korban menganggap kalau meninggalkan orang yang memiliki keterkaitan emosional dengan mereka, akan merasa kesepian, ketidakpastian bahkan kekhawatiran kehilangan seseorang yang selama ini bermakna dalam hidup mereka.

Hubungan yang nggak sehat biasanya mengikis rasa percaya diri, membuat korban berpikir bahwa mereka nggak pernah bisa mendapatkan pasangan lain. Itu juga karena adanya ketergantungan emosional, trauma bonding akibat manipulatif, bahkan banyak korban juga terjebak oleh harapan palsu bahwa pasangannya akan berubah.

Hijrah terkadang berarti berani mengambil jarak. Bukan karena membenci, melainkan untuk menjaga diri agar tetap sehat secara mental dan spiritual. Sebab tidak semua perpisahan adalah kehilangan. Ada perpisahan yang justru menjadi bentuk penyelamatan.

Hindari Doomscrolling dan Hate Comment

Sekarang kita hidup di mana ketika satu sentuhan jari kita bisa melihat apa saja. Pernah nggak, niatnya cuma buka media sosial selama lima menit, eh ternyata udah satu jam berlalu?

Secara nggak sadar, kita sudah terjebak dalam fenomena doomscrooling, yaitu kebiasaan menggulir timeline media sosial secara terus menerus, sambil mengkonsumsi konten atau berita negatif. Akibatnya, waktu habis, pikiran penuh, tetapi hati tetap kosong.

Yang lebih bahaya, apa yang kita lihat setiap hari pelan-pelan mempengaruhi cara kita berpikir. Terlalu sering melihat drama di media sosial, ikut debat yang nggak ada ujungnya, atau terus membandingkan hidup dengan orang lain bisa membuat hati dipenuhi rasa iri, marah, bahkan menjauh dari hal-hal yang baik.

Hijrah versi zaman now, bisa berarti memilih berhenti mengikuti akun yang membuat hati dipenuhi iri dan dengki, atau akun-akun gosip, hingga akun-akun yang membawa kebiasaan buruk. Bisa juga mengurangi kebiasaan scrolling berjam-jam, lalu menggantinya dengan membaca Al-Qur’an, membaca buku, atau belajar hal baru atau keterampilan baru.

Hijrah juga bisa berarti mengubah cara berbicara di media sosial. Dari yang gampang menghakimi jadi lebih bijak. Dari yang suka ikut menyebarkan kemarahan menjadi lebih sering membagikan hal-hal yang membawa manfaat.

Bukan Malas, Tapi Prokrastinasi

Pernah nggak kita merasa “kok rasanya tujuan hidup masih jauh sekali ya?” padahal kita sudah punya banyak rencana dan mimpi. Memang benar, setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda.

Tapi, banyak mimpi gagal bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena terlalu sering berkata:

“Nanti saja. Nanti juga belajar. Nanti mulai usaha. Nanti memperbaiki diri. Nanti ibadahnya lebih serius. Nanti aja sedekahnya.”

Kata “nanti” terdengar sederhana, tetapi jika terus diulang, ia bisa menjadi alasan yang membuat kita tidak pernah benar-benar memulai. Padahal waktu tidak pernah menunggu. Kebiasaan menunda atau prokrastinasi mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Ia mencuri kesempatan sedikit demi sedikit hingga akhirnya kita menyadari bahwa tahun demi tahun berlalu tanpa banyak perubahan.

Hal yang sama sering terjadi dalam bersedekah. Banyak orang berpikir bahwa sedekah harus menunggu kaya. Padahal, Islam tidak mengajarkan kita untuk menunggu kaya dulu baru berbagi.

Sering kali kita berkata, “Kalau gaji sudah dua digit, baru rutin sedekah” atau “Kalau nanti punya usaha sendiri, baru mau banyak berbagi’. Padahal, bisa jadi kesempatan itu tidak pernah datang jika kita terus menundanya.

Muharram mengingatkan bahwa umur terus bergerak maju. Maka salah satu hijrah terbesar yang bisa kita lakukan adalah berhenti menunda hal-hal baik yang sebenarnya bisa dimulai hari ini.

Hijrah dari Gaya Hidup Konsumtif dan FOMO

Tren terus berganti. Barang baru terus bermunculan. Diskon datang hampir setiap hari. Jika tidak berhati-hati, kita akan membeli bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. Belum lagi fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang membuat banyak orang merasa harus ikut memiliki sesuatu agar tidak dianggap ketinggalan.

Jadinya, kita beli barang bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena takut tertinggal tren, ingin mengikuti gaya hidup orang lain, atau sekadar ingin terlihat “update“. Padahal, tidak semua yang sedang viral benar-benar kita perlukan.

Hijrah juga berarti belajar mengendalikan keinginan. Membeli sesuai kebutuhan, mengelola keuangan dengan baik, dan menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari barang baru. Karena Islam mengajarkan keseimbangan, bukan berlebihan.

Bahkan dalam urusan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, hijrah berarti memperbaiki niat. Bekerja bukan hanya mengejar gaji, tetapi juga menjadi jalan untuk memberi manfaat. Belajar bukan sekadar mengejar nilai, melainkan bekal agar bisa berkontribusi lebih besar.

Hijrah versi zaman now justru mengajarkan untuk mulai dari langkah kecil. Menyisihkan Rp5.000 atau Rp10.000 setiap hari mungkin terasa sederhana, tetapi jika dilakukan dengan istikamah, nilainya jauh lebih besar daripada niat baik yang terus ditunda.

Sekarang, tidak ada lagi alasan bahwa bersedekah itu sulit. Melalui Dompet Dhuafa Apps misalnya, kita bisa menyalurkan sedekah, infak, zakat, atau donasi kemanusiaan kapan saja dan di mana saja hanya melalui ponsel. Teknologi yang sering kita gunakan untuk scrolling media sosial juga bisa menjadi jalan untuk memperbanyak amal.

Apalagi sekarang kita memasuki bulan Muharram, bulan di mana kita bisa memuliakan anak-anak yatim. Memuliakan mereka tidak selalu harus memberikan donasi yang besar, bisa juga menjadi Besteam atau Bestian Sama Yatim yang menemani anak yatim bertumbuh dan mencapai cita-cita yang mereka impikan. Yuk jadi bestie anak yatim melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Dhika