Menolak Menyerah, Alumni Institut Kemandirian Siap Terjun Industri Barber Secara Profesional

Barber sprays styling product onto a client's hair while another barber watches in a salon.

KARAWACI, TANGERANG — Memulai sesuatu dari nol sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang. Imajinasi akan ketatnya persaingan dunia kerja dan ketiadaan modal keterampilan tak jarang memadamkan harapan generasi muda untuk mandiri. Namun, cerita berbeda datang dari ruang-ruang kelas Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa.

Di tempat ini, sebuah transformasi nyata baru saja terjadi. Para peserta pelatihan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang selama ada kemauan untuk belajar. Datang dengan modal pengetahuan yang benar-benar nihil tentang dunia pangkas rambut, kini mereka telah bertransformasi menjadi sosok-sosok yang piawai memegang gunting dan mesin cukur standar profesional.

Group of men backstage at a grooming workshop; foreground man with a blue ribbon looks to the side while colleagues style hair. Logos of partner organizations appear at the top.

Barber cutting a man's hair with clippers while he sits in a barber chair, wearing a colorful cape.

Setelah berhari-hari ditempa dengan teori, perubahan mulai terlihat jelas pada diri para peserta. Guna mengikis rasa canggung dan kaku, mereka langsung diuji melalui praktik nyata menghadapi pelanggan langsung. Setiap helai rambut yang dipotong adalah proses melatih intuisi, ketajaman mata, dan kelembutan tangan.

Institut Kemandirian memahami bahwa menjadi seorang barber profesional memerlukan lebih dari sekadar keahlian memotong rambut. Lewat kurikulum kelas yang terstruktur dan relevan dengan kebutuhan pasar, para peserta dididik untuk memahami fungsi setiap alat secara mendalam hingga anatomi kepala pelanggan.

Baca juga: Program Institut Kemandirian Berikan Peluang Keterampilan &  Kemandirian bagi 574 Penerima Manfaat dari 16 Pelatihan Sepanjang 2025

Selain kemampuan teknis (hard skill), aspek pelayanan (soft skill) juga menjadi menu wajib. Mereka dilatih bagaimana cara menyapa, membangun komunikasi yang hangat, serta melayani dengan ramah demi kenyamanan mutlak para pelanggan.

IK Dompet Dhuafa percaya bahwa kesiapan mental adalah kunci utama untuk mencapai kemandirian ekonomi. Oleh karena itu, sepanjang pelatihan, para peserta terus dibekali dengan berbagai tips dunia kerja dan motivasi guna mendongkrak rasa percaya diri mereka saat benar-benar terjun ke industri.

Young man with a blue lanyard studies at a desk with papers and a globe; Indonesian text promotes structured classes to start a business or pursue a professional career; institutkemandirian.org

Group of men and women in a classroom proudly holding certificates and giving thumbs up, with a watermark reading institutkemandrian.org at the bottom.

Program pelatihan vokasi ini merupakan solusi nyata yang dihadirkan IK Dompet Dhuafa untuk menjawab tantangan pengangguran dan dunia kerja. Melalui seluruh rangkaian proses ini, harapannya para peserta tidak hanya menjadi tenaga kerja yang siap pakai, tetapi juga mampu membuka peluang usaha mandiri dan menjadi penggerak ekonomi di lingkungan mereka sendiri.

Direktur Institut Kemandirian, Abdurrahman Usman, menegaskan bahwa, “Meskipun pelatihan ini secara resmi telah ditutup pada 4 Juli 2026 lalu, momen tersebut bukanlah sebuah akhir. Ketukan palu penutupan justru menjadi gong penanda langkah awal bagi para alumni untuk menunjukkan keahlian mereka di panggung industri yang sebenarnya”.

Ia menambahkan, “Selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan pelatihan dengan dedikasi tinggi! Semoga setiap tetes keringat dan ilmu yang telah diserap menjadi pondasi kokoh untuk merajut masa depan yang lebih mandiri, sejahtera, dan bermartabat.” (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: IK
Penyunting: Dompet Dhuafa