JAKARTA SELATAN — Banjir merupakan bencana berulang yang patut untuk diwaspadai. Salah satu banjir paling mengerikan terjadi akhir tahun 2025 lalu yang menghantam Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Tiga daerah tersebut belum sepenuhnya pulih, tapi curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini telah merendam beberapa titik di Indonesia termasuk Jakarta.
Meskipun dampak skala banjir di Jakarta tidak sebesar yang terjadi di Sumatra, tetapi edukasi dan pencegahan diperlukan untuk menekan risiko sedini mungkin. Untuk itu, Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) memberikan edukasi terkait mitigasi dan simulasi banjir untuk siswa preschool, kindergarten, dan segenap guru Sekolah Bangun Mandiri pada Selasa (13/1/2026), di bilangan Jakarta Selatan.
Di tahap awal, Tim DMC Dompet Dhuafa memberikan penjelasan singkat tentang makna bencana secara umum agar mudah dimengerti siswa. Pemahaman itu mencakup pengenalan banjir, penyebab dan dampaknya, serta bagaimana cara meminimalisasi terjadinya banjir.
“Salah satu penyebab banjir adalah sampah. Jadi adik-adik tidak boleh membuang sampah sembarangan,” ucap Syaiban selaku anggota DMC Divisi Mitigasi dan Diklat Bencana, memulai paparannya.



Baca juga: Tanam 200 Pohon di HKB 2025, DMC Jaga Garis Pantai dan Mitigasi Iklim di Lombok
Tidak berhenti pada edukasi, Tim DMC Dompet Dhuafa juga merancang simulasi banjir. Pada tahap ini siswa dan guru diberikan arahan untuk tetap tenang dan berkoordinasi dengan baik antarsesama rekan.
“Jika gempa bumi kita diharuskan keluar gedung dan mencari titik rendah, maka pada banjir justru kebalikannya. Teman-teman harus mencari titik tertinggi untuk berlindung,” tutur anggota DMC itu.
Selanjutnya, siswa dikenalkan dengan alat pelindung diri serta perlengkapan yang dibutuhkan ketika menghadapi banjir. Seperti helm, rompi, pelampung dan perahu karet. Tim juga memperagakan cara memasang dan menggunakan alat tersebut.
“Anak adalah peniru terbaik. Cara terbaik mengajari anak-anak sesuatu adalah dengan mencontohkannya,” ucap relawan DMC itu.


Menanggapi hal itu, Direktur Akademik Sekolah Bangun Mandiri, Rita Amaliani, mengungkapkan bahwa sekolah ini telah melakukan mitigasi bencana hampir setiap tahun. Tahun ini merupakan tahun ke empat sekolah mengadakan mitigasi dan berfokus pada banjir.
“Sebelumnya ada mitigasi kebakaran, gempa bumi, dan sekarang tentang banjir,” ungkapnya.
Kepala Sekolah preschool itu menuturkan tujuan sekolah mengadakan mitigasi dan pelatihan itu bukan tanpa alasan, tetapi untuk mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu terjadi bencana yang tidak terduga.
“Meskipun sekolah ini tidak pernah terdampak, tapi belakangan ini cuaca makin ekstrem, banjir di mana-mana, dan tidak ada salahnya mempersiapkan diri lebih awal,” katanya.




Baca juga: Dompet Dhuafa Tumbuhkan Semangat Literasi Mitigasi Bencana Lewat Pesantren Kilat
Di samping kolaborasi pada acara ini, Sekolah Bangun Mandiri sebenarnya telah menjalin hubungan kerjasama dengan Dompet Dhuafa cukup lama. Menurut Rita kerjasama itu sudah terjalin lebih kurang tiga atau empat tahun lalu. Melalui program pesantren ramadhan, Dompet Dhuafa memberikan edukasi terkait zakat, mendatangkan pendongeng, dan banyak kolaborasi kebaikan lainnya.
“Reputasi Dompet Dhuafa sudah tidak diragukan. Orang-orang di dalamnya berintegritas, penuh tanggung jawab dan helpful banget,” tuturnya saat ditanya mengapa memilih bekerja sama dengan Dompet Dhuafa. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Aji Pangestu
Penyunting: Dhika

